HARIE.ID, TAKENGON | Isu minimnya jumlah peserta didik di Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Silih Nara, Kecamatan Silih Nara, mencuat usai pelaksanaan Shalat Idul Adha di Lapangan Bola Kaki Arul Kumer, Jumat 06 Juni 2025
Diketahui, kegiatan shalat Id yang berlangsung secara kolaboratif oleh empat kampung serumpun ini menuai apresiasi dari Ketua Komisi A DPRK Aceh Tengah, Fahrijal Kasir, yang menyebutnya sebagai contoh sinergi masyarakat yang layak ditiru oleh gampong-gampong lain di wilayah tersebut.
Namun di balik momen sakral itu, diskusi serius tentang masa depan pendidikan di kawasan Arul Kumer pun tak terelakkan.
Salah satu sorotan utama adalah krisis jumlah siswa yang dialami MAS Silih Nara, satu-satunya madrasah setingkat SMA di kawasan itu.
Berdasarkan informasi awal, jumlah siswa kelas III saat ini hanya 30 orang, kelas II sebanyak 7 orang, sementara pendaftar untuk kelas I hingga awal Juni ini baru belasan siswa, padahal tahun ajaran baru dijadwalkan mulai 14 Juli 2025.
“Kami sangat prihatin. Kalau tidak segera diintervensi, madrasah ini bisa kehilangan fungsinya sebagai lembaga pendidikan yang strategis di kampung. Ini bukan semata angka, ini soal masa depan generasi,” ujar Fahrijal saat dihubungi via seluler nya.
Fahrijal menyebut, sudah saatnya pihak Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Aceh Tengah melakukan langkah konkret. Ia mendesak Kepala Kankemenag, H. Wahdi, MS, MA, untuk segera duduk bersama para reje kampung, DPRK, dan pemerintah daerah guna merumuskan solusi kongkrit.
“Kita ingin tahu, apakah persoalannya ada pada kualitas pendidikan, minimnya fasilitas, kurang promosi, atau sebab lainnya? Harus ada kajian serius. Jangan tunggu siswa tinggal satu dua orang baru bergerak,” tegasnya.
“Masalah masyarakat tidak punya tanggal merah. Pendidikan anak-anak kita adalah prioritas bersama,” timpalnya sembari menyebut sempat menelpon Kankemenag namun belum direspon lantaran hari libur.
Di sisi lain, para pemangku kepentingan kampung Arul Kumer juga mengisyaratkan kesiapan untuk bersinergi, asal ada upaya serius dan terstruktur dari instansi terkait.
“Kami yakin, polemik ini menjadi cerminan kondisi sejumlah madrasah swasta lainnya di Kabupaten Aceh Tengah yang mengalami persoalan serupa,” pungkas Politisi Partai besutan Prabowo Subianto ini.
| ARINOS












