ADVERTISEMENT

Helikopter Bantuan Belum Tiba, Pengungsi di Linge Mulai Sakit

HARIE.ID | TAKENGON — Harapan ratusan warga di Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, untuk segera mendapat bantuan udara belum juga terwujud.

Hingga Kamis 04 Desember 2025, helikopter yang dijanjikan belum tiba, sementara kondisi para pengungsi terus memburuk.

Empat desa di kemukiman tersebut kini porak poranda. Ratusan rumah warga rata dengan tanah, sebagian lagi rusak parah hingga tak bisa ditempati.

BACA JUGA

Warga terpaksa mengungsi di empat titik yang dianggap paling aman, meski fasilitasnya sangat terbatas.

Sumber Harie, Sertalia, menyebut, kondisi pangan telah memasuki level kritis.

“Baru satu karung beras yang tiba untuk satu desa. Itu jelas tidak cukup. Banyak pengungsi hari ini tidak punya beras sama sekali,” katanya lewat pesan WhatsApp.

Warga kini hanya bisa bertahan dengan sisa makanan seadanya. Orang tua, anak-anak, hingga lansia mulai tampak lemas akibat kurang asupan.

Minimnya pasokan obat-obatan semakin memperparah keadaan. Beberapa pengungsi mulai mengalami demam, batuk, hingga gangguan pencernaan.

Beban mental akibat kehilangan rumah dan isolasi selama hampir sepekan pun membuat sebagian warga mengalami tekanan psikologis.

“Bukan hanya fisik, mental warga juga banyak yang mulai terganggu. Mereka ketakutan setiap malam,” ujar Sertalia.

Hingga kini, akses kendaraan roda empat ke wilayah tersebut masih terputus total akibat longsor dan badan jalan amblas.

Satu-satunya jalur masuk hanya bisa dilewati sepeda motor, itu pun dengan risiko tinggi dan penuh rintangan.

Hal ini membuat distribusi logistik tersendat. Pemerintah kewalahan mengangkut bantuan karena banyak titik yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Logistik prioritas yang sangat dibutuhkan mencakup, beras dan bahan makanan siap saji, obat-obatan, air bersih, selimut dan tenda tambahan serta BBM untuk evakuasi dan transportasi bantuan.

Kekurangan BBM membuat motor relawan sulit bergerak untuk menembus lokasi-lokasi terdampak.

Tanpa bantuan udara, helikopter untuk evakuasi dan pengiriman logistik situasi dikhawatirkan memburuk dalam beberapa hari ke depan.

“Kami tidak tahu lagi harus bagaimana. Warga semakin panik. Setiap hari rasanya semakin berat,” kata Sertalia.

Warga kini hanya berharap pemerintah pusat, provinsi, dan Kabupaten segera mengirimkan bantuan udara agar pasokan logistik dapat masuk dan korban yang sakit bisa dievakuasi.

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT