ADVERTISEMENT

Krisis Air Parah di RSUD Takengon, Shabela: “Koordinasi TNI–Polri, Jangan Biarkan Pasien Tersiksa!”

HARIE.ID | TAKENGON — Krisis air bersih yang melanda RSUD Datu Beru Takengon kian mengkhawatirkan.

Di tengah situasi genting itu, mantan Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, turut memberikan saran agar pemerintah bergerak cepat menyelamatkan layanan kesehatan masyarakat.

Dalam pesannya, Shabela mengaku prihatin, sembari mendoakan seluruh petugas medis tetap kuat dalam menghadapi situasi darurat tersebut.

BACA JUGA

“Semoga sehat dan kuat. Saran untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk Rumah Sakit, armada kendaraan dapat diandalkan. Untuk minyak, koordinasi TNI dan Polri,” kata Shabela kepada Harie.id lewat pesan WhatsApp, Kamis 04 Desember 2025.

“Kedua kata dia, fungsikan truk air yang ada di PDAM, ada beberapa unit di sana” timpal Shabela yang saat ini “Terkurung” di Banda Aceh.

“Semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran,” katanya.

RSUD Datu Beru kini berada di titik kritis. Kelangkaan air membuat lingkungan rumah sakit semakin tidak layak dan memperburuk kualitas layanan medis.

Kepala Kesehatan Lingkungan RSUD, M. Nasir, mengungkap kondisi yang sangat memprihatinkan.

Pihaknya bahkan harus menggunakan mobil ambulans untuk mengangkut air dari pinggiran Danau Lut Tawar.

“Kebutuhan air sangat mendesak. Untuk layanan Hemodialisa (HD) saja butuh minimal 10 kubik per hari. Belum termasuk pasien rawat inap, ruang operasi, sterilisasi alat, dan sanitasi,” kata M. Nasir.

Setiap hari pascabencana, petugas RSUD bekerja siang malam mengambil air manual.

Lebih parah lagi, ketersediaan BBM untuk kendaraan operasional semakin menipis, membuat proses pengangkutan air kian tersendat.

Jika krisis air tidak segera ditangani, beberapa layanan krusial berpotensi berhenti total, Hemodialisa (cuci darah), Layanan rawat inap, Ruang bersalin dan operasi, Sterilisasi alat medis dan kebersihan ruang dan fasilitas umum.

Pasien yang membutuhkan perawatan intensif kini mulai cemas. Keluarga pasien pun khawatir layanan rumah sakit dapat kolaps kapan saja.

Menurut M. Nasir, PDAM diperkirakan masih membutuhkan waktu lama untuk kembali normal.

Karena itu, RSUD berharap pemerintah daerah, instansi terkait, hingga pihak swasta dapat segera mengerahkan mobil tangki air secara berkelanjutan.

“Layanan kesehatan tidak bisa berhenti. Kami benar-benar butuh bantuan mobil tangki,” tegas M. Nasir.

Selanjutnya Shabela Abubakar berujar, pihak RSUD harus koordinasi lintas lembaga, Armada kendaraan harus digerakkan maksimal, BBM difasilitasi melalui koordinasi TNI–Polri, Truk air PDAM harus difungsikan kembali

Shabela meminta agar seluruh pihak bergerak cepat sebelum layanan kesehatan runtuh.

“Pinjam genset pompa ari dari sumber Mendale, bisa langsung ke RSUD Datu Beru karena ini genting,” katanya.

Sebagai rumah sakit rujukan terbesar di Aceh Tengah, gangguan air bersih bukan sekadar masalah teknis, tetapi ancaman bagi ribuan nyawa.

RSUD kini berharap perhatian menyeluruh dari pemerintah daerah, BNPB, Dinas Sosial, PDAM, hingga relawan kemanusiaan.

“Jangan tunggu layanan kolaps. Ini saatnya bergerak bersama,” demikian pesan Shabela Abubakar

Laporan | Karmiadi

BERITA TERKAIT