HARIE.ID | TAKENGON — Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Aceh Tengah memasuki fase yang mengkhawatirkan.
Sejak stok Pertalite, Pertamax, dan Solar di seluruh SPBU habis dalam beberapa hari terakhir, warga mulai melakukan berbagai cara agar tetap bisa beraktivitas, termasuk menggunakan tinner sebagai pengganti BBM untuk kendaraan roda dua.
Di tengah kelangkaan ini, antrean kendaraan sebelum nya mengular hingga 3 kilometer di SPBU Lemah, Bebesen, bahkan sebagian warga memilih pulang dengan tangan kosong karena stok habis sebelum mencapai giliran.
Seorang warga Bebesen, Arfan (29), mengaku terpaksa menggunakan thinner agar motornya masih bisa menyala untuk pulang kampung bertemu keluarga.
“Saya terpaksa pakai thinner, hanya ini alternatif satu – satunya,” katanya, Kamis 04 Desember 2025 sembari menyebut urusan mesin urusan terakhir sembari menyalakan motor Supra X nya.
Ia mengatakan membeli thinner dengan harga Rp30 ribu per liter di toko besi atau toko bangunan.
Praktik penggunaan thinner sebagai bahan bakar darurat menurut sumber yang dihimpun Harie sangat berbahaya.
Beberapa risiko fatal yang mengancam di antaranya, bahaya kebakaran, Thinner memiliki titik nyala yang sangat rendah, sehingga mudah sekali terbakar dan meledak.
Thinner tidak memiliki sifat pelumasan seperti bensin, sehingga dapat merusak piston, karburator, dan menyebabkan mesin jebol.
Pembakaran thinner mengeluarkan zat berbahaya yang bisa merusak paru-paru dan memicu keracunan pernapasan.
Paparan uap thinner dapat menyebabkan pusing, gangguan saraf, kerusakan ginjal, hingga kanker.
Meski demikian, banyak warga yang tetap melakukannya karena tidak ada alternatif lain. Mereka harus bertemu keluarga di Kampung Halaman.
Kelangkaan BBM juga berdampak pada aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Kelangkaan BBM di Aceh Tengah kali ini menjadi salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Warga terus berjuang dengan cara apa pun agar kehidupan tetap berjalan, meski harus mempertaruhkan kesehatan, keselamatan, dan masa depan mereka sendiri.
Laporan | Karmiadi












