ADVERTISEMENT

Tangis Ibu dari Toweren! Masa Depan Hanyut, Derita yang Tersisa

Sore itu, Kampung Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah masih bernafas seperti biasa. Anak-anak belum sepenuhnya pulang. Sawah masih menyimpan harapan. Dapur-dapur masih menunggu asap.

Lalu suara dari hutan pecah. Bukan petir. Bukan angin.

Melainkan dentuman batu, kayu, dan tanah yang turun bersamaan.

BACA JUGA

“Saya lihat kayu-kayu besar itu, nak… dibawa air dari arah hutan. Banyak sekali… besar-besar,” tutur ibu, suaranya gemetar, seolah kejadian itu masih berulang di depan matanya.

Air berubah menjadi jalan kematian. Gelondongan kayu meluncur tanpa kendali, menabrak apa saja yang berdiri di hadapannya.

Sawah-sawah warga di Kampung lenyap dalam hitungan menit. Empat kampung. Dua belas korban. Namun sesungguhnya, satu kampung penuh kehilangan.

Kini, yang terlihat hanya lumpur cokelat pekat dan batang-batang kayu raksasa tergeletak seperti sisa peperangan. Sawah yang dulu ditanami bawang harapan hidup keluarga tak lagi bisa dikenali.

“Seharusnya bawang itu sudah masuk masa panen, nak…” kata Inen Ika lirih, Senin 15 Desember 2025.

“Tapi sekarang, tidak ada lagi sisa-sisa yang bisa kami jual.”

Ia berhenti bicara. Menghela napas. Matanya kosong menatap tanah yang dulunya adalah masa depan.

Bagi petani kecil, gagal panen bukan sekadar rugi. Ia adalah kemiskinan yang ditunda, utang yang menunggu, dan anak-anak yang harus belajar menerima kenyataan lebih cepat dari usianya.

Rumahnya masih berdiri, tapi tak lagi layak disebut tempat pulang. Lumpur mengisi lantai, dinding, bahkan sisa-sisa kenangan. Pintu kayu terbuka, peyok, seperti menyerah setelah pertarungan yang tidak seimbang.

“Tinggal bibit bawang, nak… itupun di lantai dua. Hanya itu. Kalau mau ambillah, karena sudah hidup,” katanya.

Bibit itu bukan sekadar tanaman. Ia adalah satu-satunya benda yang selamat. Satu-satunya tanda bahwa hidup pernah berusaha bertahan.

Ia menunjuk tumpukan kayu yang terseret air. Di sana, kain lusuh melekat, menggantung tak berdaya.

“Itu baju kami, nak… yang lengket di kayu itu.”

Tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya kelelahan yang terlalu dalam untuk diucapkan.

Saat air datang, ia tahu tidak semua bisa diselamatkan. Tangannya gemetar, pikirannya kacau. Ia memilih satu hal, identitas.

KTP dan KK, Nama dan pengakuan bahwa ia pernah ada, sisanya ia ikhlaskan, rumah, pakaian, alat dapur, semua ia lepaskan pada air.

“Sepanjang hidup saya, inilah bencana paling parah yang pernah saya rasakan, nak,” ucapnya sambil menyeka air mata yang tak bisa lagi ia tahan.

Tangisnya bukan histeris. Ia jatuh perlahan, seperti hujan kecil setelah badai besar.

Kini ia mengungsi. Rumah yang ditempati sementara dianggap aman, tapi rasa aman itu rapuh. Setiap hujan turun, tubuhnya tegang.

Jantungnya berdebar. Ia menunggu suara dari hutan. Dentuman batu yang bergeser saja cukup membuatnya terdiam, memeluk diri sendiri.

“Saya takut, nak. Kalau hujan, saya pikir air itu datang lagi.”

Trauma itu hidup. Ia ikut mengungsi bersama mereka.

Keluarganya masih lengkap. Tidak ada yang meninggal. Tapi ia tahu, luka ini tidak terlihat dari luar. Dengan suara lirih, ia mengucapkan kalimat yang membuat siapa pun terdiam.

“Kami akan hidup miskin, nak… mungkin sepuluh tahun ke depan.”

Bukan ramalan. Itu perhitungan seorang ibu yang tahu persis bagaimana hidup petani bekerja.

Modal habis, bibit hilang. Kemiskinan tidak datang tiba-tiba, ia menyeka air mata perlahan, dan menetap lama.

Ketika ditanya soal bantuan pemerintah, ia tidak menyalahkan. Ia hanya menghela napas panjang, seolah menyimpan sesuatu yang berat di dada.

“Nak, seharusnya yang diutamakan itu korban bencana.”

“Memang semua warga Aceh Tengah terimbas, tapi tidak semua kehilangan segalanya.”

Ia menunduk. “Masih ada yang tidur di kasur empuk, pakai selimut tebal. Kami? Selimut seadanya, nak.” Bukan iri. Hanya ingin dipahami.

Ia mendengar kabar Presiden Prabowo Subianto datang ke Aceh Tengah. Harapannya sederhana: ada solusi yang tertinggal. Ada cahaya yang benar-benar menyala. Namun malam di pengungsian tetap gelap.

“Ada tenaga surya, nak. Waktu bencana tertimbun. Itu yang kami ambil, kami pakai. Tapi kalau malam, tidak ada cahaya lagi… sedih, nak.”

Sebelum wawancara berakhir, ia mengucapkan kalimat yang terasa seperti pesan terakhir.

“Cukup kami saja yang merasakan derita ini, nak. Jangan sampai kalian merasakannya.”

Di Kampung Toweren, air tidak hanya menghanyutkan sawah dan rumah. Ia mengajarkan bagaimana kehilangan bekerja. Bagaimana kemiskinan lahir dari satu sore yang tak pernah diminta.

Dan di antara lumpur, gelondongan kayu, serta bawang yang selamat di lantai dua, seorang ibu masih berdiri menyimpan air mata, agar dunia tahu bencana bukan hanya soal angka, tapi tentang hidup yang harus diulang dari nol.

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT