HARIE.ID | TAKENGON — Di bawah Jembatan Bale, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, warga menuruni sungai dengan langkah hati-hati.
Air Sungai Peusangan belum sepenuhnya jinak, namun kebutuhan hidup tak menunggu cuaca membaik.
Gelondongan kayu yang hanyut bersama enceng gondok menjadi “berkah pahit” bagi masyarakat.
Kayu-kayu itu dikumpulkan, diseret ke tepi sungai, lalu dipikul pulang. Bukan untuk dijual, melainkan untuk sekadar menyalakan api di dapur.
Pasca banjir bandang yang menerjang kawasan Aceh Tengah pada akhir November 2025 lalu, kelangkaan gas elpiji menjadi persoalan baru.
Harga melambung, stok sulit didapat. Di tengah situasi itu, sungai seolah memberi jawaban atas kegelisahan warga.
“Kalau tidak begini, kami masak pakai apa?” ujar seorang ibu sambil mengikat potongan kayu dengan tali plastik. Wajahnya lelah, namun matanya menyimpan keteguhan, Selasa 16 Desember 2025.
Diketahui, banjir bandang sebelumnya menyeret gelondongan kayu dari sejumlah kampung di kawasan Danau Lut Tawar.
Kayu-kayu itu hanyut hingga ke bibir danau dan menyusuri aliran Sungai Peusangan, bercampur enceng gondok (kerleng-red Gayo)
Masyarakat masuk ke sungai demi mendapatkan gelondongan yang masih utuh.
Laporan | Karmiadi












