HARIE.ID | TAKENGON – Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh Tengah tak hanya menyisakan luka dan kerusakan infrastruktur.
Dampaknya kini merambat hingga ke dapur masyarakat. Sejumlah komoditas pangan, khususnya ikan laut, mendadak langka dan mahal di pasar tradisional.
Ikan bandang, salah satu jenis ikan laut favorit masyarakat, kini dijual dengan harga mencengangkan. Di kawasan Simpang Lima, Takengon, satu ekor ikan bandang dibanderol hingga Rp60 ribu per biji.
Sementara itu, harga ikan dencis melonjak menjadi Rp70 ribu per kilogram.
“Sekarang ikan bandang seperti barang mewah,” ujar seorang pembeli, Kamis 18 Desember 2025.
Pantauan di sejumlah pasar tradisional Aceh Tengah aktivitas jual beli yang lesu. Lapak-lapak ikan laut tampak kosong, sementara pembeli hanya bisa mengandalkan hasil tangkapan dari Danau Lut Tawar, seperti ikan mujahir, bawal, dan depik. Tak terkecuali ikan keramba.
Tak hanya ikan segar, ikan asin dan sarden pun ikut menghilang dari pasaran. Kondisi ini membuat pilihan lauk masyarakat semakin terbatas, sementara harga terus merangkak naik.
Kelangkaan ikan laut bukan tanpa sebab. Menurut pengakuan penjual, untuk mendatangkan ikan bandang ke Aceh Tengah, mereka harus menempuh perjalanan berat dari wilayah pesisir.
“Dari pesisir, membutuhkan tenaga. Jalannya terjal, ongkos angkut besar, risikonya juga tinggi,” kata seorang pedagang.
Jalur distribusi yang terdampak bencana, cuaca ekstrem, serta rusaknya akses transportasi menjadi tantangan serius bagi pedagang kecil.
Tak heran, biaya operasional melonjak dan berujung pada kenaikan harga di tingkat konsumen.
Fenomena ini menjadi potret lain dampak bencana hidrometeorologi di Aceh Tengah. Bukan hanya rumah dan sawah yang terdampak, tetapi juga rantai pasok pangan masyarakat.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa intervensi serius, masyarakat kecil akan menjadi pihak paling terdampak. Ketersediaan pangan kian menipis, daya beli melemah, dan pasar tradisional kehilangan denyut kehidupan.
Laporan | Karmiadi











