HARIE.ID | TAKENGON — Setelah hampir 23 hari terkurung dalam kesunyian dan keterbatasan akibat dahsyatnya bencana banjir dan longsor, secercah harapan akhirnya menyapa masyarakat Tanoh Gayo.
Jalur terputus, sungai mengamuk, jurang menganga, namun kepedulian tak pernah benar-benar terhalang.
Kamis 18 Desember kemarin, menjadi hari yang tak akan dilupakan.
Bantuan kemanusiaan kebutuhan pangan (sembako-red) dari Panther Mania Peduli Aceh (PMDA) akhirnya berhasil menembus wilayah Datiga, meski harus melalui cara yang jauh dari kata mudah, estafet manual, dipisahkan sungai deras dan jurang akibat putusnya jalur lintasan antara Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Bener Meriah.
Anggota Panther Mania, Hasan Basri, menuturkan masa-masa sulit yang mereka lalui selama wilayah tersebut terisolir.
“Masa-masa sulit kami di Tanoh Gayo, terisolir akibat dahsyatnya banjir dan longsor selama hampir 23 hari, akhirnya dapat angin segar,” ujar Hasan.
Ia menyebut, koordinasi panjang dan tekad kuat relawan menjadi kunci utama hingga bantuan bisa tiba.
Para relawan saling menguatkan, mengoper bantuan dari tangan ke tangan, melintasi alam yang belum sepenuhnya bersahabat.
Saat bantuan itu akhirnya sampai, rasa haru tak terbendung. Tangis pecah, pelukan menguat, dan doa-doa lirih mengalir di tengah keterbatasan.
Bagi warga, bukan hanya logistik yang datang, tetapi juga rasa tidak sendiri.
“Terima kasih kepada dulur-dulur se-Nusantara atas perhatian dan panggilan hatinya membantu kami melalui donasi bantuan yang ada,” ucap Hasan.
Baginya dan komunitas Panther Mania, peristiwa ini bukan sekadar aksi sosial. Filosofi yang selama ini digaungkan terasa “From Community to be Family.”
Solidaritas lintas daerah, lintas latar belakang, menyatu dalam satu tujuan kemanusiaan.
“Hanya Allah yang dapat membalas kebaikan sedulur semuanya.” pungkasnya.
Laporan | Karmiadi











