HARIE.ID | TAKENGON – Krisis air bersih yang melanda Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Beru Takengon akhirnya mendapat perhatian langsung dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin.
Menkes menyebut siap mengupayakan solusi permanen agar layanan kesehatan di rumah sakit rujukan Aceh Tengah itu tidak lagi bergantung pada air dari Danau Lut Tawar.
Pernyataan tersebut disampaikan Menkes saat dimintai keterangan terkait kondisi darurat RSUD Datu Beru yang terpaksa mengangkut air menggunakan ambulans pasca bencana hidrometeorologi di Kabupaten berhawa sejuk itu.
“Teman-teman yang dari Danau, dia bersedia untuk membantu ngebor pakai sumur bor. Ahli cari air lah,” ujar Budi Gunadi Sadikin, Jumat 19 Desember 2025 malam.
Menurut Menkes, langkah pengeboran sumur menjadi opsi paling realistis agar pasokan air bersih dapat tersedia secara berkelanjutan, tanpa harus bolak-balik mengangkut air dari danau.
“Jadi nggak usah bolak-balik bawa airnya dari Danau,” tegasnya sembari mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan petugas di Rumah sakit tersebut.
Ia juga mengaku lega melihat kondisi kelistrikan RSUD Datu Beru yang sudah kembali normal, meski persoalan air bersih masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan.
Sebelumnya, RSUD Datu Beru Takengon menghadapi situasi darurat akibat kelangkaan air bersih yang kian parah.
Kondisi ini berdampak langsung pada kebersihan lingkungan rumah sakit, layanan medis, hingga keselamatan pasien kritis.
Kepala Kesehatan Lingkungan RSUD Datu Beru, M. Nasir sebelum nya mengungkap pihak rumah sakit terpaksa melakukan langkah ekstrem dengan memanfaatkan mobil ambulans untuk mengangkut air dari pinggiran Danau Lut Tawar.
“Kebutuhan air sangat mendesak. Untuk layanan Hemodialisa saja, minimal dibutuhkan 10 kubik air per hari. Itu belum termasuk rawat inap, ruang operasi, dan sanitasi,” kata Nasir beberapa waktu lalu.
Setiap hari kata dia, petugas bekerja siang dan malam mengangkut air demi menjaga layanan tetap berjalan. Namun, keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) membuat upaya darurat ini semakin berat.
Jika krisis air bersih terus berlanjut, sejumlah layanan vital terancam terhenti, mulai dari Hemodialisa (cuci darah), Rawat inap, Sterilisasi alat medis, Ruang bersalin dan operasi, hingga sanitasi ruangan dan fasilitas umum.
Kondisi ini memicu kecemasan pasien dan keluarga, yang khawatir layanan kesehatan dapat kolaps kapan saja.
Laporan | Karmiadi












