HARIE.ID | TAKENGON – Di tengah krisis pangan dan ekonomi yang masih membelit Aceh pascabencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera dan Aceh sejak 26 November 2025 lalu, jeritan masyarakat terdampak kian terdengar.
Namun hingga kini, empati dan kebijakan konkret dari Bank Aceh Syariah sebagai bank milik daerah dinilai belum juga hadir.
Bencana hidrometeorologi tersebut telah merenggut mata pencaharian ribuan warga. Petani kehilangan lahan, pelaku UMKM kehilangan pelanggan, sementara usaha kecil yang selama ini bertahan dengan pinjaman modal kini terseok menahan beban cicilan.
Kekacauan ekonomi perlahan merayap ke dapur-dapur warga.
Masyarakat Aceh hari ini tidak sekadar membutuhkan bantuan sembako, tetapi kebijakan yang mampu meringankan beban ekonomi.
Harapan itu tertuju pada Pemerintah Aceh, khususnya Bank Aceh Syariah sebagai lembaga keuangan daerah yang diharapkan hadir di saat rakyat terpuruk.
“Banyak rakyat Aceh mengambil pinjaman modal usaha, baik UMKM, petani melalui KUR, maupun PNS dan P3K. Tapi sampai hari ini, belum ada kebijakan konkret dari Bank Aceh untuk memberikan stimulus keringanan kredit pascabencana,” ujar Pemuda Gayo, Aramiko Aritonang kepada Harie.id, Minggu 28 Desember 2025.
Ironisnya, kebijakan empati justru datang dari perbankan Bank Syariah Indonesia (BSI) Cabang Aceh Tengah sebelumnya telah mengumumkan kebijakan keringanan bagi nasabah kredit usaha dengan meniadakan potongan atau iuran bulanan hingga Januari 2026.
Kebijakan ini disambut haru oleh masyarakat terdampak. Namun langkah tersebut belum diikuti oleh Bank Aceh Syariah.
Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat, mengingat Bank Aceh mengusung identitas sebagai bank syariah yang beroperasi di wilayah bersyariat Islam.
“Jika Bank Aceh tidak memberikan kebijakan stimulus akibat bencana yang melanda Aceh, maka ini tidak mencerminkan nilai-nilai syariat Islam yang menjunjung empati dan keadilan sosial,” tegas Aramiko.
Di tengah luka dan ketidakpastian, masyarakat Aceh masih menunggu. Menunggu kebijakan yang tidak sekadar berbentuk angka dan administrasi, tetapi hadir sebagai bukti kepedulian.
“Di saat rakyat terhimpit, kehadiran Bank Aceh Syariah dengan kebijakan yang berpihak pada korban bencana akan menjadi cahaya di tengah gelapnya krisis ekonomi pascabencana,” pungkas Aramiko berharap pihak Bank Aceh mendengar.
laporan | Karmiadi












