HARIE.ID | BANDA ACEH – Upaya pemulihan pascabencana di Aceh kembali menjadi perhatian serius pemerintah pusat.
Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, menyuarakan kondisi daerahnya yang masih terisolasi dalam Rapat Pemulihan Pascabencana yang difasilitasi DPR RI dan dipimpin Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, di Hotel Daka Banda Aceh, Selasa 30 Desember 2025.
Rapat strategis tersebut dihadiri jajaran pimpinan DPR RI, para menteri Kabinet Indonesia Maju, pimpinan BUMN, Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem), serta para bupati dan wali kota dari wilayah terdampak bencana di Aceh.
Dalam pembukaan rapat, Sufmi Dasco Ahmad mengapresiasi kerja keras pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, dan seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana di Aceh.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama percepatan pemulihan.
Sementara itu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf berharap sinergi antara pusat dan daerah dapat terus diperkuat agar proses pemulihan pascabencana berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.
Dalam laporannya, Muchsin Hasan mengungkap, Kabupaten Aceh Tengah sempat mengalami isolasi total selama dua pekan pascabencana hidrometeorologi.
Memasuki pekan ketiga, kondisi mulai membaik, namun masih terdapat desa-desa yang belum sepenuhnya terhubung.
“Masih ada wilayah yang terisolasi dan akses belum normal sepenuhnya. Karena itu kami sangat berharap jalur Bireuen – Aceh Tengah segera dipulihkan,” ujar Muchsin.
Ia menegaskan, jalur tersebut merupakan satu-satunya akses utama distribusi logistik, mulai dari sembako, BBM, hingga kebutuhan masyarakat lainnya.
“Kami berharap akses Bireuen menuju Aceh Tengah segera dipulihkan agar perekonomian masyarakat kembali bergerak,” tegasnya.
Muchsin juga melaporkan, hingga kini terdapat enam kecamatan yang belum sepenuhnya teraliri listrik dan jaringan telepon akibat medan yang berat. Keenam kecamatan tersebut yakni Linge, Rusip Antara, Ketol, Kute Panang, Silih Nara, dan Bintang.
Sementara itu, 37 desa di Kecamatan Linge masih terisolasi karena akses utama belum bisa dibuka.
Dampak bencana yang terjadi hampir sebulan lalu tergolong masif. Muchsin memaparkan, terdapat 4.426 rumah rusak, termasuk 2.379 rumah yang hilang. Bahkan, beberapa desa terpaksa direlokasi karena lokasi lama dinilai tidak lagi layak huni.
Tak hanya itu, tercatat 179 titik jembatan rusak, memaksa warga menggunakan besi seling untuk menyeberang demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pertanian adalah yang menjadi tulang punggung ekonomi Aceh Tengah turut terpukul. Data yang disampaikan Muchsin mencatat,
Lahan kopi terdampak seluas 12.638 hektare, Lahan cabai seluas 4.100 hektare, Persawahan seluas 2.787 hektare, Lahan perikanan seluas 37,35 hektare.
Menutup laporannya, Muchsin Hasan berharap adanya penambahan alat berat di lapangan. Menurutnya, kondisi geografis Aceh Tengah yang ekstrem membutuhkan dukungan maksimal agar pemulihan pascabencana dapat berlangsung lebih cepat dan menyeluruh.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menjelaskan, pekerjaan infrastruktur di Aceh Tengah harus dilakukan bertahap, dimulai dari wilayah hilir menuju hulu.
Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf membeberkan berbagai program bantuan bagi korban bencana, mulai dari santunan korban meninggal dunia sebesar Rp15 juta, korban luka berat Rp5 juta, bantuan Rp3 juta bagi penghuni hunian sementara (huntara), bantuan pemulihan ekonomi Rp5 juta per KK, hingga subsidi lauk pauk selama tiga bulan pertama sebesar Rp15 ribu per jiwa per hari.
Seluruh bantuan tersebut akan disalurkan dengan persetujuan bupati dan wali kota setempat.
Laporan | Karmiadi












