ADVERTISEMENT

Tenaga Bhakti Dinkes Aceh Tengah Hanya Digaji Rp50 Ribu, Berkumpul di GOS Berharap Bupati Peka

HARIE.ID | TAKENGON — Air mata tak terbendung dari wajah seorang tenaga bhakti kesehatan saat ditemui Harie.id di depan Gedung Olah Seni (GOS) Takengon, Selasa 30 Desember 2025 malam.

Dengan suara bergetar, ia menceritakan kegelisahan tenaga kesehatan non-ASN atau paruh waktu yang hingga kini masih berjuang dalam ketidakpastian honor.

Ia menyebut, dirinya berstatus tenaga bhakti di lingkungan Dinas Kesehatan Aceh Tengah saat ini hanya dibayar Rp50 ribu sesuai SK yang diterima.

BACA JUGA

Katanya, besaran honor yang diterima sangat bervariasi dan jauh dari kata layak.

“Ada yang digaji Rp190 ribu untuk bhakti puskesmas. Itu pun sebelumnya kami digaji nol,” katanya sambil menyeka air mata.

Menurutnya, Surat Keputusan (SK) terkait honor sudah dikirimkan kepada para tenaga bhakti. Namun hingga kini, belum satu pun yang menandatangani.

“SK sudah dikirim ke kami, tapi belum kami teken. Harusnya besok diteken, tapi kami menolak,” ujarnya.

Honor yang tercantum dalam SK disebut beragam, mulai dari Rp300 ribu, Rp500 ribu, Rp800 ribu, hingga Rp1 juta, tergantung puskesmas masing-masing.

Namun kondisi paling memprihatinkan dialami para bidan desa berstatus bhakti.

“Kalau bidan desa, ada yang cuma Rp50 ribu. Ada juga bidan Rp350 ribu,” ungkapnya.

Ia menuturkan, sebelumnya para tenaga bhakti diberi harapan bahwa honor akan disesuaikan dengan Upah Minimum Regional (UMR).

Namun kenyataan di lapangan justru jauh dari harapan.

“Katanya ikut UMR. Tapi kalau Rp50 ribu, rasanya kami lebih baik bubarkan diri. kami harap pak Bupati peka mendengar keluhan kami ini,” katanya lirih.

Beban para bidan desa semakin berat karena harus tetap berjaga di desa, terutama di wilayah pelosok yang terdampak bencana. Mereka tidak memiliki kesempatan mencari penghasilan tambahan.

“Bidan desa harus jaga gawang. Harus ada di desa. Kami tidak bisa berusaha,” ujarnya.

Ironisnya, kata dia, di tengah kondisi sulit, bantuan sosial pun tak mereka rasakan sepenuhnya.

“Di desa ada dapat beras, tapi kami tidak dilihat karena KK kami tidak di sana,” katanya.

Perempuan itu mengaku telah mengabdi sejak 2012 sebagai bidan bhakti, dengan pengalaman 9 tahun sebagai bidan bhakti dan 4 tahun sebagai bidan desa. Pengabdian panjang itu kini terasa seolah tak dihargai.

Sementara itu, salah satu perwakilan Dinas Kesehatan disebut telah menemui pihak dinas dan menyampaikan aspirasi para tenaga bhakti.

Hasil pertemuan tersebut diinformasikan akan dibahas pada hari Jumat mendatang.

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT