ADVERTISEMENT

Warga Kemukiman Wih Dusun Jamat Ancam Demo Besar-besaran ke Kantor Bupati 

HARIE.ID | TAKENGON — Warga Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kabupaten Aceh Tengah, berencana menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran ke Kantor Bupati dalam waktu dekat.

Aksi tersebut dikatakan Pemuda Wih Dusun Jamat, Badri adalah bentuk protes atas lambannya penanganan fasilitas umum pascabencana banjir dan tanah longsor (Hidrometeorologi) hingga kini belum kunjung diperbaiki.

Menurut Badri Linge, keseriusan Pemerintah Daerah Aceh Tengah dalam menyelesaikan persoalan mendasar di wilayah mereka masih jauh dari harapan.

BACA JUGA

“Sudah 72 hari pascabencana, namun kondisi warga lima desa yang terdampak masih sangat memprihatinkan. Pemerintah daerah seolah tidak menunjukkan langkah berarti,” ujar Badri Linge lewat keterangan tertulisnya yang diterima Harie.id, Minggu 08 Februari 2026.

Ia memaparkan, hingga saat ini akses penghubung antarwilayah masih mengandalkan jembatan apung darurat.

Jembatan Kala Ili dan jembatan menuju Reje Payung disebut hanya berupa jembatan sementara yang dibangun oleh relawan dari Jagong, tanpa campur tangan langsung dari pemerintah daerah

“Yang bekerja di lapangan justru relawan, serta sinergi TNI dan Polri. Sementara pemerintah daerah tidak terlihat mengambil peran signifikan,” katanya.

Tak hanya persoalan infrastruktur, Badri Linge berujar, kondisi pengungsian warga juga dinilai sangat tidak manusiawi.

Ratusan warga masih bertahan di tenda-tenda darurat yang kumuh, beralaskan rumput, dengan keterbatasan air bersih. Ironisnya, aliran listrik hingga kini belum tersedia.

“Kami hidup dalam kondisi serba terbatas. Air bersih sulit, listrik tidak ada, dan jembatan masih darurat. Ini bukan kondisi sehari dua hari, tapi sudah berbulan-bulan,” kata Badri.

Atas dasar itu, Pemuda Jamat bersama warga mengagendakan aksi unjuk rasa sebagai bentuk mosi tidak percaya terhadap Pemerintah Aceh Tengah yang dipimpin Haili Yoga.

Bahkan, mereka mengancam akan menggelar aksi bertahan di Kantor Bupati apabila tuntutan tersebut tidak segera direspons.

“Jika tuntutan ini tidak digubris dan tidak segera dilaksanakan, kami siap menginap dan megang menyambut Ramadhan di Kantor Bupati. Ini bentuk perlawanan warga atas ketidakpedulian pemerintah,” pungkas Badri Linge.

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT