HARIE.ID | BANDA ACEH – Satu tahun kepemimpinan Muzakkir Manaf (Mualem) bersama Wakil Gubernur Fadhlullah (Dek Fadh) menandai fase konsolidasi besar di sektor transportasi Aceh.
Di tengah tekanan bencana hidrometeorologi dan tantangan geografis yang kompleks, sektor perhubungan sebagai tulang punggung stabilitas mobilitas dan distribusi logistik provinsi paling barat Indonesia itu.
Dalam tahun pertama pemerintahan ini, isu transportasi tidak lagi berhenti pada layanan rutin. Tapi menjadi instrumen ketahanan daerah, menjaga arus barang, memastikan akses warga terdampak banjir dan longsor tetap terbuka, serta merawat koneksi sebagai ruang publik yang hidup.
Ketika sejumlah jalur darat terputus akibat banjir dan longsor, Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan terus berusaha.
UPTD Pelabuhan Penyeberangan Wilayah I Ulee Lheue mengoperasikan armada laut sebagai moda alternatif darurat.
Beberapa kapal yang difungsikan antara lain KMP Aceh Hebat 2, KM Malahati, KN Antares, KN Purworejo, Kapal Cepat Express Bahari 2F, serta tambahan dua kapal roro, KMP Wira Louisa dan KMP Wira Samaeri.
Armada ini tidak hanya mengangkut penumpang, tetapi juga mobil skidtank dan gas elpiji saat terjadi kelangkaan akibat terhambatnya distribusi darat.
Kepala UPTD Wilayah I Penyelenggara Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, Husaini, mengatakan, pelayanan tersebut sepenuhnya difokuskan untuk kepentingan masyarakat.
“Seluruh tiket pelayaran tidak dipungut biaya. Masyarakat dapat mendaftar melalui pelabuhan setempat atau menghubungi kontak pelayanan KM Malahati,” ujarnya, Jum’at 13 Februari 2026.
Rute strategis seperti Calang, Ulee Lheue, Krueng Geukueh, Kuala Langsa hingga Belawan menjadi jalur vital alternatif.
Ratusan ton logistik didistribusikan, disertai evakuasi penumpang dan kendaraan roda dua. Dalam konteks kebencanaan, laut bahagian dari nadi penyelamat Aceh.
Di luar situasi darurat, transformasi juga terjadi di Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, Banda Aceh. Kawasan ini tidak lagi sekadar gerbang mobilitas, tetapi tumbuh menjadi ruang publik representatif.
Kehadiran fasilitas modern seperti Indomaret Point memperkuat citra layanan. Di saat yang sama, pelabuhan kerap menjadi etalase budaya Aceh, menampilkan Rapai Geleng dan Ratoh Jaroe dalam penyambutan tamu mancanegara, termasuk rombongan dari Malaysia dan delegasi internasional.
Ruang yang dulu identik dengan antrean kendaraan kini menjadi lokasi perayaan HUT RI, lomba rakyat, donor darah, hingga layanan sosial gratis.
Capaian lain adalah performa inovasi pelayanan publik. Dalam Anugerah Inovasi Aceh 2025, Dishub Aceh meraih tiga penghargaan tingkat provinsi dan kini tercatat memiliki sembilan inovasi, Aplikasi Trans Koetaradja, Vessel, Infokeu, E-Survey, Donorhub, Simpel Link, Sikotakbiru, Serupa, dan Trans Campus.
Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, menyebut inovasi telah menjadi budaya kerja.
“Kami mendorong agar inovasi menjadi budaya di lingkungan ASN Dishub Aceh. Dimulai dari hal-hal kecil yang mungkin terlihat sederhana, namun sangat penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik,” katanya.
Penguatan layanan Trans Koetaradja melalui kampanye “Trans Koetaradja untuk Semua”, transportasi publik yang inklusif, aman, dan setara, termasuk bagi penyandang disabilitas.
Memasuki tahun kedua pemerintahan Mualem–Dek Fadh, ekspektasi publik meningkat. Aceh adalah wilayah dengan kontur geografis menantang dan risiko kebencanaan tinggi.
Sistem transportasi yang tangguh, adaptif, dan responsif menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar proyek infrastruktur.
Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun, mengingatkan seluruh SKPA untuk tetap selaras dengan visi-misi gubernur dan RPJMA 2024–2029, sekaligus memacu kinerja demi terwujudnya Aceh yang lebih maju dan sejahtera.
Satu tahun pertama telah menjadi fase pembuktian, transportasi bukan hanya urusan trayek dan tiket, tetapi fondasi ekonomi, stabilitas sosial, dan kehadiran negara di saat krisis.
“Jika konsistensi terjaga, sektor ini berpotensi menjadi salah satu legacy penting kepemimpinan Mualem – Dek Fadh di panggung nasional,” pungkasnya.
Laporan | Karmiadi












