HARIE.ID | TAKENGON – Wajah ruang publik di jantung kota Takengon ini kian memprihatinkan.
Taman Inen Mayak Teri yang dahulu dirancang sebagai taman representatif, kini tampak kehilangan pesonanya.
Rumput tumbuh liar tanpa perawatan. Papan nama yang semestinya terbaca utuh “Taman Inen Mayak Teri” kini hanya menyisakan “Aman Inen Mayak Teri”.
Sepertinya keseriusan dinas terkait mulai memudar terhadap ruang publik ini.
Secara makna, perubahan satu huruf itu menghadirkan tafsir jenaka.
“Jika masih ‘Taman’, itu tempat yang cantik dan sejuk dipandang mata. Kalau tinggal ‘Aman Inen Mayak’, ya seperti sepasang laki-laki dan perempuan yang baru menikah,” ujar Sukri, warga Aceh Tengah, berseloroh usai menunaikan Sholat Jum’at di Masjid Agung Ruhama, 27 Februari 2026.
Sambil berjalan pulang, ia berkelakar. “Itu bukan lagi taman, malah seperti halaman rumah tak terurus, orangnya merantau tak pulang-pulang, begitu saya melihatnya,” katanya disambut tawa.
Ia pun berujar soal pengelolaan anggaran. “Mungkin DPA belum keluar,” pungkasnya menyirat dugaan persoalan administratif kerap menjadi alasan terhambatnya perawatan fasilitas publik.
Padahal, taman yang berlokasi di Jalan Lebe Kader, tepat di samping Pendopo Bupati Aceh Tengah sejatinya bukan ruang biasa.
Ia adalah bagian dari wajah kota. Dibangun pada masa kepemimpinan Shabela Abubakar, taman ini dirancang sebagai ruang publik terbuka yang menarik, sekaligus menjadi simpul strategis bagi wisatawan yang berkunjung ke Takengon.
Nama “Inen Mayak Teri” sendiri diambil dari sosok pejuang lokal, sebuah penghormatan historis yang seharusnya dijaga dengan keseriusan, bukan sekadar diabadikan di papan nama yang kini pun tak lagi utuh.
Lokasi ini sebelumnya kerap menjadi pusat aktivitas masyarakat, mulai dari Car Free Night hingga pertunjukan musik langsung.
Ia hidup, berdenyut, dan menjadi ruang interaksi sosial warga. Kini, denyut itu terasa melemah.
Ruang publik bukan hanya soal estetika, melainkan cerminan komitmen pemerintah terhadap kualitas hidup warganya.
Taman Inen Mayak Teri seharusnya menjadi simbol kesejukan dan kebanggaan. Namun jika dibiarkan, ia justru berubah menjadi metafora tentang abainya perhatian, pelan, sunyi, tapi nyata di mata masyarakat apalagi lokasi nya di tengah Kota.
Laporan | Karmiadi












