HARIE.ID | TAKENGON – Reje Kampung Arul Gading, Kecamatan Celala, Kabupaten Aceh Tengah, Juandi kesal, di kampung yang ia pimpin ada oknum yang kerap mengganggu.
Ia merasa oknum masyarakat ini menghambat program pembangunan di kampungnya.
Di tengah fokus pemerintah desa menjalankan berbagai program strategis, terutama di kawasan Blank Spot (Area geografis yang tidak terjangkau sinyal telekomunikasi internet-red).
Juandi mengaku langkahnya kerap “terganjal” oleh ulah oknum yang namanya enggan di publish.
Namun katanya, oknum ini adalah bagian dari warga yang berkewajiban mengabdi kepada negeri ini.
“Langkah kami seperti dibuat kaku. Program yang jelas-jelas untuk kepentingan masyarakat justru diprotes tanpa arah,” kata Juandi, Jumat 03 April 2026 saat bertemu dengan redaksi Harie.id.
Ia juga berujar, konflik tersebut bukan persoalan baru. Menurutnya, benih persoalan sudah muncul sejak tahun 2019 silam dan terus berlanjut hingga saat ini, bahkan berkembang menjadi cibiran dan tudingan yang dinilai tidak berdasar.
“Kalau itu, kerbau kita potong di rumahnya pun, dia tidak akan pernah senang sama saya,” ujarnya, menyiratkan adanya persoalan personal yang berkepanjangan.
Tekanan terhadap dirinya memuncak ketika muncul tudingan terkait pungutan liar (pungli) dan manipulasi data bantuan bencana hidrometeorologi
Bantuan Kemensos yang mengalir ke Kampung Arul Gading diterima oleh 46 korban menjadi pintu masuk oknum tersebut menyebar tudingan – tudingan miring. Bahkan Isu ini bergulir hingga ke tingkat aparat.
Juandi mengakui dirinya telah dimintai klarifikasi oleh pihak Polsek Celala dan pemerintah kecamatan saat itu.
Bahkan, camat setempat turut memanggil para penerima bantuan untuk menelusuri kebenaran informasi yang berkembang.
“Memang ada masyarakat yang memberikan uang, tapi itu tidak pernah saya minta. Saya tegaskan, tidak pernah saya minta. Itu ulah oknum yang tidak suka kepada saya,” tegasnya.
Juandi yang dilantik Bupati Haili Yoga pada 23 September 2025 di Gedung Olah Seni (GOS) Takengon ini menyebut, klarifikasi yang disampaikan untuk meluruskan persepsi publik agar tidak terjebak pada informasi yang belum tentu benar.
Di tengah polemik tersebut, Kampung Arul Gading saat ini tengah menghadapi tantangan besar, adalah rencana relokasi desa.
Berdasarkan kajian tim dari Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Aceh Tengah, wilayah tersebut masuk kategori zona merah rawan bencana. Program relokasi ini disebut demi keselamatan warga.
“Sejak tahun 2009, ketika hujan lebat kami selalu keluar dari rumah, karena kami khawatir terjadi longsor dan menimbun rumah warga,” katanya mengakui tidak ada rumah yang rusak di desanya.
Namun, Juandi menyayangkan munculnya konflik internal yang justru berpotensi menghambat proses tersebut.
“Ini bukan hanya soal saya dan keluarga saya, tapi soal keselamatan dan masa depan masyarakat. Kami ingin fokus bekerja,” katanya lagi.
Juandi menduga, dinamika yang terjadi tidak lepas dari sentimen politik yang masih tersisa.
Ia pun menilai, intervensi dari pihak-pihak tertentu berpotensi merusak soliditas masyarakat di desa.
“Kami bekerja butuh dukungan masyarakat. Kalau terus diintervensi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, bagaimana mungkin desa ini bisa berkembang,” keluhnya.
Meski demikian, Juandi komitmen untuk tetap menjalankan program pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat, sembari berharap polemik yang ada dapat diselesaikan secara bijak.
“Tujuan kami, Aril Gading harus bangkit menuju desa yang mandiri dan tidak terjebak dalam konflik yang berlarut,” pungkasnya berharap oknum tersebut tidak menyebar fitnah.
Laporan | Karmiadi












