HARIE.ID | TAKENGON — Director Operation Parkside Hotel Group Indonesia, Mugi Harjo, menyebut, industri perhotelan akan memasuki babak baru pada tahun 2026, hal itu ditandai dengan perubahan perilaku pasar, dominasi generasi milenial, dan persaingan digital yang kian ketat.
Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan GM Conference Parkside Hotel Group di Portola Grand Renggali Takengon Hotel, Minggu 23 November 2025 malam.
Mugi menjelaskan, awal tahun sempat diwarnai efisiensi dan pengetatan anggaran dari pemerintah pusat.
Namun memasuki semester kedua, aktivitas bisnis kembali menggeliat. “Alhamdulillah semester yang kedua sudah diperbolehkan melakukan kegiatan sehingga bulan-bulan ini cukup bagus,” ujarnya.
Menurutnya, bisnis perhotelan menghadapi transformasi cepat akibat teknologi. Dengan 40 persen penduduk Indonesia merupakan generasi milenial yang sangat akrab dengan digital, hotel yang tidak mampu beradaptasi akan tertinggal.
“Maka hotel yang tidak mampu menggunakan teknologi akan sulit berkompetisi,” tegas Mugi.
Ia mencontohkan, dua tahun terakhir e–commerce dan platform digital seperti TikTok dan Tokopedia telah mengubah pola konsumsi masyarakat. Banyak pelaku usaha yang tidak mampu mengikuti arus digital akhirnya gulung tikar.
Karena itu, Parkside Hotel Group berkomitmen memperkuat seluruh lini digital, e-commerce, OTA, media sosial, hingga strategi distribusi informasi yang terarah kepada end user.
“Sekarang orang semua mencari informasi lewat handphone. Belum datang, sudah googling. Anak-anak kita mau liburan saja sudah bikin itinerary sendiri,” tambahnya.
Tema tahun ini kata dia “Smarter Hotel Technology, Personalized and Sustainability Business 2026″ sebagai dasar strategi Parkside tahun depan.
Mugi menekankan, keberlanjutan itu bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga keseimbangan ekonomi, sosial, dan hubungan manusia dengan alam.
“Kalau ekonominya tumbuh tapi alam tidak tumbuh, maka tidak akan konsisten,” ujarnya.
Di tahun 2026, Parkside Hotel Group akan men-digitalisasi seluruh menu hotel, mengangkat kuliner lokal dan tradisional sebagai identitas kuat, memaksimalkan produk lokal seperti kopi Gayo dan cerutu sebagai selling point khusus Takengon.
Selanjutnya, memperkuat program lingkungan dan sosial di setiap jaringan hotel.
Ia menjelaskan, Parkside Hotel Group ingin menjadi hotel yang tidak hanya modern, tetapi juga memberi manfaat pada masyarakat sekitar.
“Kehadiran kami harus memberi kemanfaatan kepada masyarakat dan lingkungan,” kata Mugi.
Salah satu keunggulan daerah yang mereka tonjolkan dalam forum itu ialah kearifan lokal Gayo. Kopi dan cerutu dihadirkan sebagai identitas yang berpotensi menjadi daya tarik tamu nasional maupun internasional.
Parkside menargetkan konsep “lokal taste with international quality” akan mendominasi strategi marketing 2026.
Parkside juga mengumumkan komitmen lingkungan melalui kegiatan rutin, seperti, aksi bersih-bersih setiap Sabtu, bersih masjid setiap Jumat, pemberdayaan produk UMKM lokal, dan Hotel sebagai corong informasi untuk masyarakat.
“Ini adalah fungsi kita dalam menumbuhkan lingkungan sebagai partner dalam berbisnis,” jelasnya.
Diketahui, Konferensi itu diikuti general manager dari berbagai kota, termasuk Jawa Tengah hingga Palembang. Seluruh peserta diajak menyatukan visi dan memahami arah transformasi industri perhotelan menuju era bisnis yang lebih digital, personal, dan berkelanjutan.
Laporan | Karmiadi












