HARIE.ID | TAKENGON — Malam-malam di dataran tinggi Gayo kini dipenuhi suara tangis, doa, dan deru helikopter.
Dalam tujuh hari terakhir, Kabupaten Aceh Tengah dihantam bencana hidrometeorologi paling memukul dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan BPBD Aceh Tengah per 30 November 2025 mencatat angka yang membuat dada sesak 25.284 jiwa terpaksa mengungsi.
Mereka meninggalkan rumah yang tak lagi berdiri, desa yang terputus, dan kehidupan yang remuk seketika.
Di 14 kecamatan kini gelap gulita. Tanpa listrik, tanpa air bersih, tanpa sinyal.
Akses telekomunikasi terputus di 28 titik, membuat ribuan warga tak bisa menghubungi keluarga mereka yang mungkin juga terjebak di kecamatan terisolir.
Sementara itu, akses air bersih dan listrik terputus total di 14 kecamatan, menyisakan warga untuk antre air curah di posko darurat.
Dari data resmi BPBD Aceh Tengah, 5 ruas jalan nasional terputus, 59 ruas jalan lainnya lumpuh, 6 kecamatan benar-benar terisolir, 64 ruas jalan menuju kampung-kampung putus total.
Aceh Tengah kini seperti peta retak. Banyak titik yang bahkan tidak bisa dijangkau kecuali dengan alat berat atau dengan berjalan kaki melewati longsoran.
Di tengah kepungan bencana ini, kabar duka terus berdatangan. 20 warga meninggal. Sementara 23 lainnya masih hilang, belum diketahui apakah terjebak di reruntuhan atau tersapu aliran banjir.
Setiap kali korban baru ditemukan, suasana posko mendadak hening. Nama-nama dipanggil, siapa pun yang mengaku keluarga mendekat dengan langkah gemetar.
Rumah-rumah di sepanjang kaki bukit tak mampu menahan hantaman bencana. Jumlah kerusakan rumah kini mencapai 1.938 unit.
Situasi makin gawat ketika akses air ke RSUD Datu Beru terputus total. Rumah sakit rujukan kabupaten itu kini bekerja dalam tekanan, pasien bertambah, namun pasokan air berhenti dari 14 kecamatan.
Total warga terdampak telah mencapai 55.199 jiwa. Sebagian masih bertahan di rumah, sebagian lagi mengungsi, dan sebagian lain berada di daerah yang sama sekali tak bisa disambangi.
Petugas di lapangan menyebut kondisi ini sebagai “krisis multi-lapis” ketika air bersih, listrik, jalan, telekomunikasi, rumah, dan keselamatan warga rusak dalam waktu bersamaan.
Meski badai meruntuhkan hampir semua akses hidup, semangat warga tetap berdiri tegak. Di posko pengungsian, terlihat ibu-ibu memasak untuk puluhan keluarga lain tak lagi mengandalkan nasi, melainkan pisang atau ubi kayu.
Laporan | Karmiadi












