ADVERTISEMENT

Warga Gayo Terancam Kelaparan, GMNI Desak Presiden Prabowo Mekarkan Aceh!

HARIE.ID | TAKENGON – Dataran tinggi Gayo kini memasuki babak paling kelam sepanjang sejarahnya.

Sudah 15 hari Aceh Tengah dan Bener Meriah terisolasi pasca banjir bandang dan longsor yang menghantam pada 26 November 2025. Akses terputus, bantuan terbatas, dan stok pangan habis.

Di banyak kampung, yang tersisa hanya pisang, singkong, tepung kanji, dan kacang tanah, itulah yang kini menjadi “menu bertahan hidup”.

BACA JUGA

Ketua GMNI Aceh Tengah, Saparuda, menyebut situasi ini sebagai “darurat kemanusiaan yang tidak bisa ditunda sedetik pun”.

“Ratusan ribu rakyat Gayo terancam kelaparan. Ini bukan lagi tragedi lokal. Ini jeritan nyawa,” katanya, Rabu 10 Desember 2025.

Lawatan Wakil Gubernur Aceh ke Takengon pasca bencana sempat membangkitkan harapan. Wagub menjanjikan jalur Alternatif KKA akan dibuka dalam beberapa hari, alat berat dikerahkan, akses darat kembali bisa dilalui.

Namun setelah Saparuda turun langsung ke lokasi, kenyataan yang ditemukannya justru memilukan.

“Faktanya nihil. Tidak ada jalur yang mendekati siap. Sementara rakyat sudah kehabisan makanan,” katanya.

Saat dilokasi, ia melihat hanya 1 alat berat yang bekerja, sementara 8 lainya terparkir “Kehabisan BBM”.

“Kalau tidak serius, waktu satu bulan tak cukup menembus KKA,” kesal Saparuda.

Sementara, di gudang Bulog Aceh Tengah, persediaan beras kini hampir kosong. Bantuan udara yang datang pun tak memadai, makanan hanya cukup untuk dua hari, sementara ada 55.352 jiwa di 14 kecamatan yang sepenuhnya terputus dari dunia luar.

Ibu-ibu di pedalaman menangis karena tidak tahu apa yang harus dimasak. Anak-anak mulai terlihat lemas. Sejumlah kepala keluarga memilih bertahan hidup dengan “Belanja” ke Kampung Kem, Bener Meriah dengan berjalan kami hampir 5 jam perjalanan.

“Hanya ini satu- satu nya cara untuk menyambung hidup, kalau berdiam diri akan mati kelaparan. Sementara untuk masyarakat yang tidak memiliki uang cukup akan mati berdiri,” katanya.

Saat ini, seluruh masyarakat Aceh Tengah dan Bener Meriah terdampak, stok kebutuhan rumah tangga dipasaran “Raib”. Gas tak lagi dijual, telur kosong, BBM mahal, beras menipis.Jika ada yang dijual harga meroket. Stok obat – obatan terancam habis, listrik padam, sinyal internet tidak tersedia,

“Demi rakyat, Presiden Prabowo Subianto harus segera memekarkan Aceh. Struktur pemerintahan sekarang terlalu jauh, terlalu lamban, dan rakyat menjadi korban,” katanya penuh harap.

Menurut Saparuda, dataran tinggi Gayo membutuhkan wilayah administratif sendiri agar penanganan bencana lebih cepat, koordinasi lebih efektif, pembangunan tidak terpinggirkan, dan rakyat tidak kembali menjadi korban sistem yang tidak responsif.

“Ini bukan soal politik. Ini soal nyawa. Pemekaran Aceh adalah kebutuhan, bukan pilihan,” tambahnya.

Kata dia, Kehadiran Prabowo Subianto ke Aceh Tengah esok hari, Kamis 11 Desember 2025 akan menyampaikan pemekaran tersebut. “Ini momen yang tepat, semoga Presiden mengabulkan permohonan ini,” pungkasnya.

Rakyat Gayo kini masih menunggu dengan harap-harap cemas. Menunggu jalan terbuka. Menunggu makanan datang. Menunggu janji ditepati, di setiap rumah, ada doa yang sama “Semoga besok kami masih bisa makan.” hanya itu yang terselip dan harap dikabulkan saat ini.

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT