ADVERTISEMENT

Belum Dilantik, “Istana” Reje Bamil Nosar Lebih Dulu Dihantam Banjir

HARIE.ID | TAKENGON — Malam 26 November 2025 lalu, Kampung Bamil Nosar, Dusun Teluk Suyen tidak sekadar diguyur hujan.

Ia dihantam ketakutan. Air turun dari gunung tanpa aba-aba, menyeret lumpur, batu, dan gelondongan kayu entah milik siapa, menjadi satu amukan yang tak bisa ditawar.

Di tengah kekacauan itu, rumah milik Komaidi, Reje terpilih Bamil Nosar diporak poranda. Pintu rumahnya diterjang. Dinding triplek tak lagi sekadar tembok, melainkan saksi bisu betapa rapuhnya manusia di hadapan alam.

BACA JUGA

Ironisnya, Komaidi baru saja menerima ucapan selamat. Ia terpilih sebagai Reje Kampung Bamil Nosar periode 2025–2031.

Namun malam itu, tak ada seremoni. Tak ada tapak kuda, tak ada stempel kekuasaan. Yang ada hanya rasa tak berdaya seorang pemimpin yang belum sempat memimpin, tapi sudah lebih dulu diuji.

“Air datang dari gunung, sangat Cepat. Keruh. Tak bisa dibendung,” katanya.

Komaidi dan warga lain berlari ke Ujung Peninyon, satu-satunya tempat yang dianggap cukup aman untuk sekadar menghela napas.

Longsor terjadi di beberapa titik. Malam berubah mencekam. Sunyi hanya dipecahkan oleh suara air dan doa yang dilantunkan lirih.

Tak sanggup bertahan dalam kecemasan, Jumat itu mereka berinisiatif menuju Ibu Kota Kabupaten. Bukan lewat jalan dara, karena jalan tak lagi bersahabat, melainkan menggunakan kapal di Danau Lut Tawar.

Air yang biasanya menenangkan, kini menjadi jalur evakuasi.

Titik kumpul ditetapkan di sebuah menasah di Blang Mersah, bersama masyarakat Nosar lainnya.

Sementara sebagian warga memilih bertahan, ada yang di Ujung Peninyon, ada pula yang mengungsi di SMP kawasan Kemukiman Nosar. Bertahan, karena tak semua punya pilihan.

Di tengah pengungsian, Komaidi bukan hanya kehilangan rumah. Ia kehilangan “istana” simboliknya tempat seorang reje seharusnya berdiri tegak menerima tamu dan mendengar keluh kesah rakyat.

Malam itu, ia sama seperti warga lainnya pengungsi, tanpa kuasa, tanpa perlindungan.

“Istana” itu kini belum bisa ditinggali. Lumpur menutup lantai. Pintu rusak. Perabotan harus dibersihkan, atau diikhlaskan jika telah hanyut. Tak ada pilihan selain menerima.

Pemulihan tak akan singkat. Luka kampung ini dalam. Namun roda waktu tak menunggu. Komaidi tahu, tahun 2026 sudah di depan mata. Dana desa harus diolah. Kampung harus dibangun kembali. Jalan, rumah, dan yang paling penting harapan.

Kini mandat itu telah resmi di tangannya, Selasa 16 Desember 2025 ia dinobatkan sebagai orang nomor satu di kampung itu, tepatnya di Masjid Al-Kawakib, Kecamatan Bintang.

Rakyat menaruh harapan besar pada kepemimpinannya. Ujian datang bahkan sebelum ia duduk sepenuhnya di kursi kekuasaan.

Banjir bandang telah meruntuhkan rumahnya, tapi juga sedang membentuk kepemimpinannya.

Di Bamil Nosar, seorang reje memulai masa jabatan bukan dari kenyamanan, melainkan dari reruntuhan. Dan dari sanalah, sejarah sering kali ditulis.

Selamat bertugas pak Reje Komaidi, semoga Allah SWT menguatkan langkah, melapangkan niat, dan menjadikan amanah ini jalan kebaikan bagi seluruh masyarakat Bamil Nosar.

Laporan | Karmiadi Arinos 

BERITA TERKAIT