Saat bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Aceh Tengah, Toko Emas Mutiara Baru tetap membuka pintu untuk pelanggan, meski tidak lebar, tapi cukup untuk memberi harapan.
Rahmad berdiri di balik etalase emasnya dengan perasaan campur aduk. Sejak bencana hidrometeorologi melanda Aceh Tengah Rabu 26 November 2025, hari-hari yang ia jalani tak lagi soal untung dan rugi.
“Waktu itu kami tetap buka,” kenangnya. “Tapi tidak seperti biasa. Internet mati, uang cash terbatas.” katanya, Senin 29 Desember 2025 menjawab Harie.id.
Jaringan komunikasi saat itu terputus total dan pasokan listrik blank.
Transaksi harus dilakukan manual. Di tengah keterbatasan itu, warga berdatangan bukan untuk membeli perhiasan baru, melainkan menjual emas yang selama ini disimpan sebagai pegangan terakhir.
Emas, yang biasanya melambangkan kemewahan, berubah fungsi menjadi alat bertahan hidup.
“Yang datang lebih banyak menjual,” ujar Rahmad. “Kalau beli juga ada, tapi lebih banyak yang jual.” timpalnya.
Rahmad menghadapi dilema yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Banyak warga terdampak bencana datang dengan cerita pilu, rumah terendam, sawah rusak, dan kebutuhan pokok yang tak lagi terjangkau.
Beberapa di antaranya bahkan datang dari kecamatan yang jauh, seperti Kecamatan Bintang, dengan perhiasan sederhana di tangan.
Ada seorang warga membawa cincin emas. Tangannya gemetar saat meletakkannya di atas meja.
“Kami hanya sanggup beli satu gram,” kata Rahmad kala itu.
Bukan karena tak mau membantu, tapi karena keterbatasan modal dan kekhawatiran tak bisa menolong warga lain jika dana habis.
“Itu pun untuk kebutuhan pokok yang jual aja,” ucapnya lirih.
Di hari-hari bencana itu, empati menjadi mata uang paling mahal. Rahmad berusaha membantu sebisanya, namun tetap harus membatasi agar roda usaha tetap berputar.
Kini, waktu perlahan mengembalikan keadaan. Harga emas murni kembali stabil, bahkan naik menjadi Rp2.200.000 per gram, sudah termasuk ongkos.
Sebelumnya, harga jual emas berkisar Rp2.030.000 per gram. “Kalau hari ini sudah normal, meski belum pulih,” katanya.
Aktivitas jual beli pun mulai berubah. Warga yang menjual emas sudah jauh berkurang dalam lima hari terakhir. Meski begitu, pembeli juga belum sepenuhnya ramai.
Dampak bencana masih terasa dalam denyut ekonomi masyarakat.
“Yang beli sekarang juga kurang. Mungkin efek bencana,” ujar Rahmad.
Satu hal yang membuatnya sedikit lega, stok emas di tokonya masih aman. Lebih dari itu, ia bersyukur bisa melewati masa paling gelap tanpa harus menutup pintu sepenuhnya.
Laporan | Karmiadi












