ADVERTISEMENT

Sahrial Abadi Tak Kuasa Menahan Tangis, Klaim Camat Tak Mendukung Perjuangannya

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Sahrial Abadi saat podcast bersama Harie (Photo/HR)

HARIE.ID | BENER MERIAH – Pelopor pembukaan akses Jalan Tajuk Enang-Enang, Sahrial Abadi, tak kuasa menahan air mata saat tim Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh untuk ketiga kalinya meninjau lokasi, Kamis 25 Juni 2026 sore.

Di hadapan rombongan BPJN dan masyarakat yang hadir, ia mengaku merasa berjuang seorang diri demi mempertahankan akses yang selama ini menjadi harapan warga.

Suasana mendadak hening ketika mantan Mukim Datu De Rakal itu menyampaikan kekecewaannya.

BACA JUGA

Dengan suara bergetar, Sahrial mengaku bahkan tidak mendapat dukungan dari camat di wilayahnya.

Dalam penyampaiannya, Sahrial memang tidak menyebut nama camat yang dimaksud. Namun, ia menyebut menyebut kalimat “camat saya”.

Pernyataan itu merujuk pada Camat Pintu Rime Gayo, mengingat wilayah Tajuk Enang-Enang berada dalam kawasan tersebut dan Sahrial merupakan mantan Mukim Datu De Rakal.

Kekecewaan itu muncul menyusul wacana BPJN Aceh yang akan menutup akses Jalan Tajuk Enang-Enang dan memasang portal karena alasan keselamatan.

Di hadapan Plt Kepala BPJN Aceh, Zulkarnaini, Sahrial berujar, perjuangannya bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi masyarakat yang selama ini menggantungkan aktivitas ekonomi dan pendidikan melalui jalur tersebut.

“Saya berjuang ini bukan untuk kepentingan perut saya, tapi demi kepentingan masyarakat abang juga kan,” ujar Sahrial dihadapan Zulkarnaini.

Ia menilai pemerintah seharusnya bangga masih ada masyarakat yang rela mengorbankan tenaga dan waktu demi kepentingan umum, meski tidak memiliki kepentingan pribadi ataupun keuntungan ekonomi.

Emosi Sahrial semakin memuncak ketika menceritakan kondisi masyarakat di kawasan pedalaman yang menurutnya masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi.

“Saya nangis lihat rakyat saya. Saya nangis lihat adik-adik saya di sini, jauh dari pendidikan, ekonomi. Saya sedih, berat kali hati saya. Mulai dari camat sampai ke mana pun tidak mendukung saya. Heran saya,” ucapnya sembari menahan tangis.

Beberapa warga yang berada di lokasi tampak menghampiri dan mengusap bahu Sahrial untuk menenangkan dirinya

Menurut Sahrial, perjuangan mempertahankan akses Tajuk Enang-Enang tetap dibuka merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan masyarakat yang masih membutuhkan jalan tersebut sebagai urat nadi kehidupan sehari-hari.

“Ini jalan dibuka oleh nenek moyang kami dengan cangkul dan berdarah – darah, ini harus dipertahankan,” pungkasnya.

Laporan | Karmiadi

BERITA TERKAIT