ADVERTISEMENT

Proyek Rp458 Miliar Dikebut, Jembatan Pelang dan Titi Merah Target Rampung Akhir 2026

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Rapat monitoring dan evaluasi (monev) percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang digelar Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) di ruang kerja Bupati Aceh Tengah (Photo/Ist)

HARIE.ID | TAKENGON – Pembangunan Jembatan Pelang dan Jembatan Titi Merah di Kabupaten Aceh Tengah ditargetkan rampung pada 31 Desember 2026.

Kedua jembatan tersebut diproyeksikan menjadi penghubung strategis jalur Geumpang – Pidie, sekaligus ikon baru infrastruktur Aceh Tengah yang memperkuat konektivitas wilayah pascabencana.

Target tersebut disampaikan PPK 3.2 Satker Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah 3 Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Chandra Erawan, usai mengikuti monitoring dan evaluasi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang digelar Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) di ruang kerja Bupati Aceh Tengah, Rabu 29 Juli 2026.

BACA JUGA

Chandra menjelaskan, BPJN Aceh telah menuntaskan penanganan tanggap darurat pada awal tahun dan kini memasuki tahap rehabilitasi serta rekonstruksi permanen di ruas nasional Geumpang – Pameu – Genting Gerbang – Simpang Uning.

“Untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi terdapat 22 titik pekerjaan yang terdiri dari 19 titik longsoran dan tiga unit jembatan, yaitu Jembatan Titi Merah, Jembatan Pelang, dan Jembatan Simarara II. Insya Allah seluruh pekerjaan tersebut dapat diselesaikan pada 31 Desember 2026 sesuai spesifikasi dan mutu yang telah ditetapkan,” kata Chandra.

Ia menyebut, seluruh pekerjaan dilaksanakan pada tahun anggaran 2026 dengan kontraktor pelaksana PT Adhi Karya.

Kontrak efektif dimulai pada 2 Juli 2026 setelah sebelumnya dilakukan penanganan darurat di sejumlah titik yang terdampak bencana.

Secara keseluruhan, proyek rehabilitasi dan rekonstruksi permanen tersebut memiliki nilai anggaran sekitar Rp458 miliar.

Anggaran itu digunakan untuk menangani 19 titik longsoran serta pembangunan tiga jembatan yang menjadi bagian penting pemulihan akses transportasi nasional di kawasan Aceh Tengah.

Meski demikian, pelaksanaan proyek masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), keterbatasan mobilisasi alat berat akibat masih mengandalkan jembatan Bailey, hingga proses pembebasan lahan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan BPN, camat, dan masyarakat. Data kepemilikan lahan sudah lengkap dan kami berharap proses pembayaran ganti rugi dapat diselesaikan pada Agustus ini,” ujarnya.

Untuk Jembatan Pelang, pekerjaan saat ini difokuskan pada pembangunan abutmen. Seluruh komponen rangka baja untuk struktur atas jembatan juga telah tiba di lokasi.

“Kami menargetkan proses ereksi rangka baja dapat dilakukan pada November sehingga pembangunan Jembatan Pelang dapat selesai sesuai jadwal,” katanya.

Sementara itu, Jembatan Titi Merah yang memiliki panjang sekitar 160 meter dibangun dengan dua abutmen dan dua pilar utama.

Infrastruktur tersebut diproyeksikan menjadi salah satu ikon baru Aceh Tengah setelah selesai dibangun.

“Jembatan Titi Merah ini kami harapkan menjadi ikon baru Aceh Tengah. Mobilisasi alat memang menjadi tantangan terbesar, namun kami optimistis pekerjaan dapat dimulai secara maksimal pada awal Agustus dan selesai pada 31 Desember 2026 sesuai target,” ungkap Chandra.

Ia menambahkan, pihaknya optimistis seluruh target dapat tercapai dengan dukungan pengalaman PT Adhi Karya dalam mengerjakan berbagai proyek infrastruktur strategis di Aceh.

Rampungnya Jembatan Pelang dan Jembatan Titi Merah diharapkan tidak hanya memulihkan akses yang sempat terganggu akibat bencana, tetapi juga memperlancar arus logistik, meningkatkan konektivitas Aceh Tengah dengan Kabupaten Pidie melalui jalur Geumpang, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan pedalaman Gayo.

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT