ADVERTISEMENT

Sifat “Pebengis” Emosi yang Dibungkus Kuasa

HARIE.ID | Dalam khazanah Gayo, pebengis merujuk pada sifat seseorang yang memiliki luapan emosi tinggi terhadap kesalahan orang lain.

Emosi itu menjelma dalam ucapan keras, nada tinggi, dan kata-kata kasar, cukup untuk membuat orang di sekitarnya merasa takut, tertekan, bahkan terluka batin.

Pebengis bukan tentang pukulan tangan, melainkan pukulan kata. Menyakiti tanpa menyentuh, menghukum tanpa palu.

BACA JUGA

Menariknya, pebengis kerap berhenti pada batas verbal, tidak selalu disertai tindakan fisik, namun daya rusaknya justru berlipat, karena kata-kata yang dilontarkan di saat emosi jarang bisa ditarik kembali.

Contohnya sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Minsal, seorang ayah memanggil anaknya yang sedang bermain. Anak itu datang, sedikit lambat, mungkin lelah atau tak menyadari nada panggilan.

Tanpa bertanya, tanpa menimbang, sang ayah langsung memarahi, suara meninggi, kata menekan.

Atau seorang guru di kelas, mendapati seorang murid kurang fokus saat pelajaran berlangsung. Alih-alih menegur dengan mendidik, lebih memilih memarahi di depan teman-temannya, meninggalkan rasa malu yang lebih lama dari pelajaran itu sendiri.

Namun, dalam praktik kekuasaan modern, pebengis menemukan panggungnya yang paling terang, minsal di ruang rapat.

Pemimpin pebengis, merasa wibawanya tumbuh dari bentakan.

Bahkan, tanpa terkecuali memarahi bawahan di depan forum resmi, bukan untuk memperbaiki, melainkan untuk mempertontonkan kuasa.

Kesalahan kecil dibesarkan, suara ditinggikan, dan nama orang disebut agar yang lain belajar takut.

Bagi tipe seperti ini, rapat bukan hanya ruang musyawarah, melainkan arena demonstrasi emosi.

Ironisnya, pemimpin semacam ini sering mengira dirinya tegas dan berkarakter, padahal yang tampak justru ketidakmampuan mengelola emosi dan empati.

Wibawa sejati tidak lahir dari ketakutan, melainkan dari keteladanan. Pebengis hanya meninggalkan kepatuhan semua bawahan diam, tetapi tidak tumbuh, patuh, namun tidak loyal.

Pebengis bukan sekadar sifat personal, melainkan peringatan budaya, kata-kata kasar, apalagi dilontarkan dari posisi kuasa, bisa menjadi bentuk kekerasan yang paling halus dan paling sering dianggap biasa.

Istilah pebengis ini dikutip dari buku Jirim Jisim, karya Banta Cut Aspala, Kamaruddin, dan Karmiadi, mantan Komisioner Majelis Adat Gayo Aceh Tengah

CATATAN REDAKSI

BERITA TERKAIT