HARIE.ID | TAKENGON – Dinamika internal Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah saat ini sedang tidak baik – baik saja.
Teranyar, beredarnya pesan WhatsApp yang diduga berasal dari salah seorang Kepala Bagian (Kabag) di lingkungan Setdakab Aceh Tengah terkait penggalangan dana untuk kegiatan Peringatan Hari Pers (HPN) ke-80 tahun 2026.
Pesan yang semula disebut hanya untuk kalangan internal pejabat itu justru bocor ke ruang publik dan memicu polemik, riuh di group WhatsApp beberapa hari terakhir.
Dalam pesan tersebut, tercantum mekanisme partisipasi kegiatan serta nama salah satu organisasi wartawan dan nomor rekening tujuan.
Bagi sebagian masyarakat Aceh Tengah yang mengikuti perkembangan pemberitaan, kebocoran pesan tersebut dinilai dinilai bukan hanya persoalan teknis, tapi persoalan soliditas di tubuh birokrasi yang dipimpin Haili Yoga.
“Kalau komunikasi internal saja bisa bocor dan menjadi konsumsi publik, ini tentu menimbulkan tanda tanya besar. Ada apa dengan kekompakan pejabat di kabinet Haili Yoga,” ujar seorang warga Takengon yang aktif mengamati isu-isu daerah.
Sejumlah media sebelumnya juga memberitakan adanya kepala dinas dan camat yang disebut merasa keberatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Namun alih-alih diselesaikan secara internal, polemik justru berkembang ke ranah publik setelah isi pesan tersebar luas.
Masyarakat ini menilai, perbedaan sikap dalam birokrasi adalah hal yang lumrah.
Namun, menyebarkan pesan internal ke publik dinilai sebagai langkah yang tidak elegan dan berpotensi merusak wibawa pemerintahan, atau dengan kata lain, mencoreng wajah Bupati.
“Kalau ada yang tidak setuju, seharusnya dibicarakan dalam forum resmi. Jangan sampai justru terlihat seperti melubangi kapal sendiri,” kata masyarakat Aceh Tengah ini yang enggan namanya ditulis.
Fenomena ini kemudian memunculkan istilah oknum “pejabat bocor” ia adalah oknum diduga menyebarkan komunikasi internal ke luar lingkup pemerintahan.
Hal tersebut bahagian dari bukti lemahnya disiplin dan etika komunikasi di kalangan birokrasi.
“Kedepan bobroknya Bupati juga akan disampaikan ke media atau ke Medsos, dan ini berbahaya,” katanya.
Hal ini menurut dia, harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi Bupati Aceh Tengah.
Menurutnya, di era digital yang serba cepat, kedewasaan dalam mengelola informasi menjadi hal utama menjaga stabilitas pemerintahan.
“Apalagi Bupati sering gembor – gembor, pejabat jangan umbar internal ke Medsos. Saat melantik ribuan PPPK Paruh waktu kemarin juga disampaikan, jangan buang permasalahan internal ke medsos apalagi ke wartawan, selesaikan di internal,” begitu kata narasumber ini mengutip pernyataan Haili Yoga.
Alih – alih mendukung Bupati, kedepan, jika tidak “diberantas” oknum pejabat yang seperti ini, maka kebobrokan Bupati tidak tertutup kemungkinan akan diumbar ke publik.
“Banyak oknum pejabat yang dekat dengan wartawan, ini sangat berbahaya, jangan sampai jadi musuh dalam selimut,” katanya.
” Jangan sampai persoalan seperti ini terus berulang dan menggerus kepercayaan publik,” timpalnya lagi.
Ia berharap, Bupati Haili Yoga dapat mengambil langkah bijak untuk memperkuat kebersamaan. Bukan semata mencari siapa yang salah, tetapi membangun kembali budaya komunikasi yang profesional, dan beretika.
“Hati – hati pak Bupati, kapal mu bisa bocor jika tidak segera turunkan penumpang yang type seperti ini,” pungkasnya.
Laporan | Karmiadi












