ADVERTISEMENT

Dari Balik Jeruji, Didong WBP Takengon Sindir Koruptor: “Bawa Mereka Susul ke Sini”

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Penampilan Didong grub Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Rutan Kelas II B Takengon saat penyerahan remisi (Photo.HR)

TAKENGON | HARIE.ID — Tepuk tangan bertalu – talu memecah suasana di tengah dinginnya jeruji Rutan Kelas II B Takengon.

Belasan warga binaan tampil membawakan didong Gayo, menyelipkan syair-syair jenaka yang sesekali membuat Bupati, Wakil Bupati hingga unsur Forkopimda tersenyum dan tertawa.

Tak ada panggung megah, hanya tikar dan lantai dan langit milik Allah. Tidak ada lighting yang berkelas dalam pertunjukan ini.

BACA JUGA

Hanya tepukan tangan, lantunan syair dan wajah-wajah warga binaan yang sejenak mengubah suasana Rutan Kelas II B Takengon menjadi panggung budaya.

Penampilan itu disuguhkan sebelum dimulainya acara penyerahan remisi umum bagi narapidana dan pengurangan masa pidana bagi anak binaan, Senin 17 Agustus 2026.

Didong menjadi cara warga binaan menyambut para tamu sekaligus menyelipkan pesan-pesan yang tak selalu bisa disampaikan dalam bahasa resmi.

Syair demi syair mengalir. Menggelitik, tetapi sesekali menusuk.

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, Wakil Bupati Muchsin Hasan dan unsur Forkopimda tampak menikmati pertunjukan tersebut.

Beberapa di antara mereka bahkan ikut memberikan saweran “uang merah”, bisa dihitung amplop yang diberikan.

Jutaan rupiah terkumpul untuk kelompok didong binaan Rutan Kelas II B Takengon yang dibina Kepala Rutan, Rusli.

Namun, warga binaan belum selesai “bermain”. Salah satu syair kemudian diarahkan kepada Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Tengah, Hendri Yanto, SH, MH.

Dengan gaya jenaka, mereka menyampaikan pujian sebelum menyelipkan permintaan yang membuat suasana semakin cair.

“Orangnya gagah lagi bijaksana, semoga bapak mudah rezekinya. Kami doakan sehat sejahtera,” kata ceh didong yang berasal dari Kecamatan Bies ini, Kejari terlihat tersenyum mendengar kalimat tersebut.

Kemudian syair berbelok. “Salam hangat kami, dari dinginnya rantai jeruji. Titip salam buat yang korupsi, bawa mereka susul ke sini,” katanya.

Tawa pun pecah. Tetapi kalimat berikutnya terasa lebih tajam. “Ini amanah dari kami napi untuk Pak Kajari yang kami segani. Ringankanlah tuntutan kami, beratkan saja koruptor berdasi,” lirik ini sangat menusuk.

Sindiran itu disampaikan dalam balutan seni. Tidak dengan nada marah, apalagi dengan wajah tegang.

Melalui tepukan tangan dan syair yang menggelitik, warga binaan menyampaikan keresahan sekaligus desakan untuk aparat penegak hukum di Gayo Lut itu.

Di balik tepukan tangan dan syair yang mengundang tawa, didong warga binaan Rutan Kelas II B Takengon menyimpan pesan syarat akan makna.

Mereka mungkin sedang berada di balik jeruji, tetapi ada harapan mereka untuk didengar para pemangku jabatan di negeri berhawa sejuk itu.

Sindiran tentang koruptor berdasi yang diselipkan dalam syair tersebut adalah pekerjaan serius yang harus dilakukan APH kepada siapa pun yang bersalah, tanpa melihat jabatan, pakaian, maupun kekuasaan. Semoga!

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT