ADVERTISEMENT

Sekda Mundur, NasDem Beri Sinyal ke Haili – Muchsin, “Dukungan Politik Bukan Cek Kosong”

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Bendera Partai NasDem (Foto.Net)

HARIE.ID | TAKENGON — Pengunduran diri Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Tengah, Mursyid momen bagi Partai NasDem di Kabupaten tersebut membuka suara terkait hubungan politiknya dengan pemerintahan Haili Yoga – Muchsin Hasan.

Sekretaris DPD NasDem Aceh Tengah, Ricky Arasendi berujar, sikap Partainya bukan soal meminta jatah jabatan atau berharap dirangkul dalam pemerintahan.

Menurut Ricky, mundurnya Sekda justru menjadi titik evaluasi terhadap hubungan politik yang selama ini dinilai belum berjalan seperti yang diharapkan.

BACA JUGA

“Ini bukan soal ingin dirangkul. Mundurnya Sekda menjadi pemicu bagi NasDem untuk menyampaikan kekecewaan yang sebenarnya sudah cukup lama ada,” ujar Ricky, Rabu 26 Agustus 2026.

Ia mengatakan, sejak pemerintahan Haili Yoga – Muchsin Hasan terbentuk, NasDem merasa belum dilibatkan lebih berarti dalam sejumlah persoalan strategis daerah. Namun, kata Ricky, NasDem selama ini memilih menahan diri.

“Diamnya NasDem bukan karena tidak melihat, tidak mendengar atau tidak memiliki sikap. Kami menghormati pemerintahan yang sedang berjalan dan memberikan kesempatan kepada Bupati untuk menjalankan mandatnya,” katanya.

Ricky menyebut, Partai besutan Surya Paloh itu justru tengah melihat secara objektif bagaimana hubungan politik yang terbangun setelah Pilkada 2024.

Ia mengingatkan, NasDem bukan sekadar partai pendukung Haili Yoga – Muchsin Hasan saat Pilkada. Partai tersebut merupakan salah satu pengusung pasangan itu hingga memenangkan kontestasi politik 2024.

“Pada saat itu Haili Yoga bersedia menjadi kader NasDem. NasDem kemudian menggunakan kekuatan politik dan struktur partai untuk mengusung dan memenangkan pasangan tersebut. Dukungan itu diberikan tanpa mahar politik,” katanya.

Ricky menegaskan, dukungan tersebut sejak awal tidak dimaksudkan sebagai transaksi untuk memperoleh jabatan, proyek ataupun keuntungan tertentu.

“Yang diharapkan adalah hubungan politik yang sehat, komunikasi dan penghargaan terhadap partai pengusung. Kalau setelah kemenangan justru NasDem merasa semakin tidak dilibatkan, tentu ada kekecewaan. Itu yang sedang kami evaluasi,” ujarnya.

Ricky juga mengingatkan posisi NasDem di DPRK Aceh Tengah.

Pada Pemilu 2024, NasDem memperoleh lima kursi DPRK Aceh Tengah dengan 14.666 suara sah.

Jumlah tersebut menempatkan NasDem sebagai salah satu kekuatan politik terbesar di parlemen daerah.

“Lima kursi itu bukan angka yang kecil dan bukan sesuatu yang diperoleh dengan mudah. Di belakangnya ada mandat rakyat, kerja kader dan perjuangan struktur partai,” tegas Ricky.

Karena itu, ia menolak jika NasDem dipandang sebagai kekuatan pelengkap dalam konfigurasi politik Aceh Tengah.

“NasDem bukan kekuatan pelengkap dalam konfigurasi politik Aceh Tengah,” katanya.

Ricky berujar, mundurnya Mursyid sebagai Sekda tidak otomatis menjadi ruang tawar bagi NasDem untuk mendapatkan posisi dalam pemerintahan.

“Jangan membaca sikap NasDem sekarang sebagai sinyal ingin mendapatkan posisi dalam pemerintahan. Tidak. NasDem sedang mengevaluasi hubungan politik secara objektif,” ujarnya.

Ke depan, NasDem akan menggunakan lima kursi di DPRK sesuai mandat politik yang diberikan masyarakat.

Ricky mengatakan, partainya tetap akan mendukung kebijakan pemerintah yang berpihak kepada masyarakat. Namun, dukungan itu tidak berarti NasDem akan menerima seluruh kebijakan tanpa kritik.

“Dukungan politik bukan cek kosong. Kebijakan yang berpihak kepada masyarakat tentu akan didukung. Kalau ada kebijakan yang perlu dikritisi, NasDem akan menjalankan fungsi pengawasan, penganggaran dan legislasi secara maksimal,” jelasnya.

Bahkan, NasDem tidak menutup kemungkinan mengambil posisi sebagai oposisi konstruktif apabila komunikasi politik tidak menemukan jalan.

“Kalau komunikasi politik tidak menemukan jalan dan kepentingan masyarakat mengharuskan NasDem mengambil posisi berbeda, oposisi konstruktif bukan sesuatu yang mustahil,” kata Ricky.

Ia menegaskan, sikap tersebut bukan ancaman untuk menjatuhkan pemerintahan, melainkan bagian dari mekanisme demokrasi.

“NasDem tidak ingin mengganggu jalannya pemerintahan. Tetapi pemerintah juga harus memahami bahwa lima kursi DPRK berarti lima mandat politik yang harus menjalankan fungsi konstitusionalnya,” ujarnya.

Di tengah dinamika politik tersebut, Ricky mengingatkan agar kepentingan masyarakat tidak menjadi korban.

Menurutnya, Aceh Tengah masih menghadapi pekerjaan besar, terutama dalam pemulihan pascabencana dan memastikan pelayanan publik berjalan sebagaimana mestinya.

“Yang paling penting sekarang adalah memastikan pelayanan publik berjalan, pemulihan pascabencana terus dikerjakan dan masyarakat mendapatkan perhatian. Perbedaan politik jangan sampai mengorbankan kepentingan rakyat,” katanya.

Ricky memastikan NasDem tidak menutup pintu komunikasi dengan pemerintah. Namun, arah politik partai tidak akan ditentukan oleh tawaran jabatan atau kepentingan sesaat.

“NasDem tidak sedang meminta untuk dirangkul. NasDem sedang menentukan bagaimana mandat lima kursi dan kepercayaan masyarakat akan digunakan. Itu hak politik kami,” tegasnya.

Ia kemudian mengingatkan kembali sejarah hubungan politik NasDem dengan Haili Yoga – Muchsin Hasan.

“NasDem pernah menjadi bagian penting dari jalan kemenangan Haili Yoga – Muchsin Hasan. Hari ini NasDem tidak sedang meminta balasan. NasDem hanya ingin memastikan, kekuatan yang dulu diperhitungkan tidak dianggap tidak ada setelah kemenangan diraih.” pungkas Ricky Arasendi.

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT