ADVERTISEMENT

Ketika Anak Salah, Jangan Jadikan Cacian sebagai Hukuman

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Tgk Ridwan Bintang (Photo/dok)

Ketika seorang anak melakukan kesalahan, sering kali kita lebih cepat menghakimi daripada mendidik.

Oleh Tgk. Ridwan Bintang 

Ada kalanya kita terlalu cepat menghakimi ketika melihat seorang anak melakukan kesalahan.

BACA JUGA

Reaksi pertama yang muncul bukan mencari cara untuk membimbing, melainkan ikut arus, mencela, merendahkan, mempermalukan, bahkan menjadikan kesalahan seorang anak sebagai konsumsi bersama.

Padahal, di balik satu kesalahan, ada seorang anak yang masih belajar memahami kehidupan.

Kita tentu tidak membenarkan perilaku seorang anak atau pelajar yang berbicara tanpa adab, terlebih ketika sikap tersebut ditujukan kepada orang yang lebih tua maupun seorang pemimpin.

Adab tetaplah nilai penting yang harus dijaga. Anak-anak perlu diajarkan batas antara keberanian menyampaikan pendapat dan kewajiban menghormati orang lain.

Namun, memperbaiki kesalahan juga memiliki adab.

Jangan sampai kita ingin mengajarkan kesantunan, tetapi cara kita menegur justru dilakukan dengan kata-kata yang menyakitkan. Jangan sampai kita ingin mendidik anak agar menghormati orang lain, tetapi pada saat yang sama kita merampas kehormatannya di hadapan banyak orang.

Rasulullah SAW telah mengingatkan:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ

Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan ini semestinya membuat kita berhati-hati dalam bersikap dan berbicara.

Seorang anak yang melakukan kesalahan tetaplah seorang anak. Ia membutuhkan bimbingan, bukan penghinaan. Kesalahannya boleh dikoreksi, perilakunya boleh diluruskan, tetapi kehormatan dan masa depannya tetap harus dijaga.

Sebab, anak-anak belum selesai dengan proses belajarnya.

Mereka sedang belajar mengenal dunia, belajar menyampaikan pikiran, belajar memahami konsekuensi dari setiap perkataan dan perbuatan.

Kesalahan terkadang lahir bukan karena niat buruk, melainkan karena keterbatasan pengalaman dan belum matangnya cara berpikir.

Di sinilah peran orang dewasa menjadi penting.

Tugas kita bukan sekadar menunjukkan bahwa mereka salah, tetapi juga menunjukkan bagaimana cara memperbaiki kesalahan tersebut.

Pendidikan sejatinya bukan proses mencari siapa yang paling pantas dipermalukan. Pendidikan adalah proses membimbing seseorang agar mampu mengenali kesalahannya, memahami akibatnya, lalu tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Para ulama mengajarkan bahwa pendidikan harus dibangun dengan hikmah. Teguran yang baik bukan teguran yang membuat seseorang kehilangan harga diri, melainkan teguran yang membuka pintu kesadaran dan perubahan.

Jika seorang pelajar keliru dalam bertutur kata, ajarkan kepadanya bagaimana berbicara dengan santun. Jika ia salah memahami batas penghormatan, tunjukkan kepadanya bagaimana menghormati orang lain.

Jika ia keliru menyampaikan pendapat, bimbing ia agar mampu menyampaikan kritik dengan cara yang lebih baik.

Bukan dengan membully. Bukan dengan mencaci. Bukan pula dengan memberi cap buruk yang bisa dibawa seorang anak sepanjang hidupnya.

Kita perlu berhenti menganggap bahwa satu kesalahan adalah akhir dari segalanya.

Bukankah manusia memang belajar melalui kesalahan?

Bahkan dalam proses pendidikan, yang paling penting bukan sekadar apakah seseorang pernah salah, tetapi apakah setelah itu ia diberi kesempatan untuk memahami, memperbaiki dan menjadi lebih baik.

Kita boleh mengkritik. Kita boleh tidak setuju. Kita boleh mengingatkan sesuatu yang keliru. Tetapi dalam setiap kritik, semestinya tetap ada kebijaksanaan dan kasih sayang.

Terlebih ketika yang kita hadapi adalah anak-anak.

Jangan sampai semangat kita menegakkan adab justru melahirkan tindakan yang bertentangan dengan adab itu sendiri.

Anak yang salah bukan untuk dibenci, tetapi untuk diarahkan.

Anak yang keliru bukan untuk dihancurkan namanya, tetapi untuk dibimbing agar kelak mampu berdiri sebagai pribadi yang lebih matang.

Masyarakat yang baik bukan masyarakat yang tidak pernah menemukan kesalahan. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang mampu menghadapi kesalahan dengan bijaksana, tegas dalam prinsip, tetapi tetap manusiawi dalam cara.

Mari kita belajar menjadi orang dewasa yang tidak hanya pandai menemukan kesalahan, tetapi juga mampu menunjukkan jalan keluar.

Sebab tujuan pendidikan bukan sekadar membuat seseorang merasa bersalah.

Tujuan pendidikan adalah membantu seseorang menemukan kebenaran, memahami kesalahan, lalu memiliki keberanian untuk memperbaikinya.

Pada akhirnya, adab harus diajarkan dengan adab. Nasihat harus disampaikan dengan kasih sayang.

Dan generasi yang baik tidak lahir dari cacian, melainkan dari keteladanan. (*)

BERITA TERKAIT