ADVERTISEMENT

Harga BBM Eceran Meroket, SPBU Diserbu, Warga Desak Bupati Turun, “Jangan Asik Rapat Pak”

HARIE.ID | TAKENGON – Menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, wajah SPBU di Aceh Tengah berubah drastis.

Antrean kendaraan mengular sejak pagi hingga tengah malam, suara mesin bercampur keluhan warga yang tak sabar menunggu giliran.

Di satu sudut, jeriken-jeriken berisi BBM berpindah tangan dengan harga yang membuat dahi berkerut.

BACA JUGA

Isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) memicu kepanikan. Warga berbondong-bondong memburu Pertalite dan Pertamax.

Di tingkat eceran, harga melonjak tajam. Jika di SPBU resmi milik PT Pertamina Patra Niaga harga Pertamax berkisar Rp13.000 per liter, kini di tangan pedagang dadakan tembus Rp25.000 hingga Rp30.000 per liter.

Meski mahal, pembeli tetap ada. Faridah, ibu rumah tangga yang ditemui Harie.id, mengaku tak punya pilihan.

Ia berkeliling dari satu titik ke titik lain demi mendapatkan harga yang “lebih ringan”.

“Ada yang Rp30 ribu juga dijual, ada yang Rp25 ribu tapi harus antre. Kalau di SPBU tidak sanggup, antreannya ribuan orang,” katanya dengan nada lelah, Kamis 05 Maret 2026.

Baginya, BBM itu untuk akses bekerja, mengantar anak sekolah, hingga memenuhi kebutuhan dapur.

Harga tinggi terasa berat, tetapi kendaraan tak mungkin dibiarkan tanpa isi tangki.

Di tengah riuh antrean, suara-suara kritis terdengar. Sejumlah warga berharap pemerintah tidak hanya menggelar rapat koordinasi, tetapi hadir beri solusi.

“Jangan hanya rapat-rapat saja bilang sama pak Bupati, turun lihat penderita rakyat, beri kami solusi, atau kesini antre bersama, kami,” kata warga lainya ditengah antrean.

Di tengah situasi ini, Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, telah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying.

Ia memastikan stok BBM aman hingga Lebaran dan distribusi terus berjalan.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh isu yang belum tentu kebenarannya dan tetap membeli sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menjaga kelancaran distribusi.

Namun di lapangan, suasana berbeda terasa. Kepanikan kerap kali lebih cepat menyebar dibanding himbauan.

Isu bergerak liar dari mulut ke mulut, dari grup percakapan ke media sosial, memicu respons spontan membeli sebanyak mungkin sebelum benar-benar habis.

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT