HARIE.ID | TAKENGON— Prosesi adat Gayo “Bemunge” digelar di halaman SMPN 23 Takengon, Sabtu 16 Mei 2026.
Kegiatan tersebut bahagian dari pengembalian siswa kepada orang tua setelah menempuh pendidikan di sekolah.
Ketua Komisi A DPRK Aceh Tengah, Fahrijal Kasir, dalam sambutannya menegaskan, prosesi Bemunge bukan hanya seremoni pelepasan siswa, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai adat, pendidikan, dan perjuangan orang tua serta guru dalam membentuk karakter generasi muda.
“Hari ini bukan sekadar pelepasan siswa. Ini adalah hari ketika air mata seorang guru bertemu dengan doa seorang ibu,” kata Fahrijal.
Ia menyebut prosesi adat Bemunge menjadi simbol dalam budaya Gayo bahwa anak tidak hanya dibesarkan oleh keluarga, tetapi juga ditempa oleh guru dan dijaga oleh masyarakat serta adat istiadat.
Dalam kesempatan itu, politisi besutan Prabowo Subianto imi memberikan penghormatan khusus kepada para guru yang dinilainya memiliki peran besar dalam membangun masa depan daerah melalui pendidikan.
“Guru bukan hanya mengajar membaca dan berhitung. Guru menahan lelah agar muridnya punya masa depan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak melupakan perjuangan orang tua yang bekerja keras demi pendidikan anak-anak mereka.
Menurutnya, keberhasilan seorang anak tidak lepas dari doa dan pengorbanan ayah dan ibu di rumah.
Kepada para siswa, Fahrijal berpesan agar tetap menjaga adab, menghormati orang tua dan guru, serta tidak melupakan kampung halaman ketika meraih kesuksesan di masa depan.
“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga adat dan budaya Gayo seperti ini. Karena adat bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga benteng moral generasi muda,” katanya.
Prosesi Bemunge di SMPN 23 Takengon berlangsung khidmat dan menyentuh emosi para peserta yang hadir.
Sejumlah orang tua dan guru tampak meneteskan air mata saat saat prosesi membasuh kaki orang tua.
Laporan | Karmiadi












