ADVERTISEMENT

Kude Langsat, “Patah Ejer Gere Mengen Manat”

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Ilustrasi Jirim Jisim Kude Langsat, Patah Ejer Gere Mengen Manat (Photo/Ai)

HARIE | Kude Langsat, Patah Ejer Gere Mengen Manat.” Pepatah ini bukan kata – kata biasa.

Dikutip dari buku Jirim – Jisim, karya Banta Cut Aspala, Kamaruddin dan Karmiadi, kata – kata ini bentuk sindiran terhadap seseorang yang tidak mampu menjaga amanah dan komitmen.

Ia mendengar nasihat, tetapi tidak menjadikannya pedoman. Seseorang menerima kepercayaan, tetapi mengabaikan tanggung jawab.

BACA JUGA

Ungkapan ini menggambarkan watak seseorang yang gemar melanggar kesepakatan, berbicara tidak sejalan dengan perbuatan, serta bertindak di luar aturan yang telah disepakati bersama.

Perilaku seperti ini dipandang sebagai bentuk lunturnya integritas, karena kepercayaan adalah kehormatan yang harus dijaga, bukan sekadar diucapkan.

Perumpamaan sederhana dapat dilihat dari seorang anak yang diminta ibunya mengantarkan barang kepada ayahnya.

Sebelum berangkat, sang ibu berpesan agar tidak singgah ke tempat lain. Namun di tengah perjalanan, pesan itu diabaikan.

Barang mungkin sampai ke tujuan, tetapi amanah telah patah di tengah perjalanan. Inilah makna “Patah Ejer“petunjuk yang tidak lagi dipegang sebagai pegangan.

Contoh lain adalah seorang santri yang telah menimba ilmu bertahun-tahun di pesantren. Dia kembali ke kampung dengan bekal ilmu agama yang cukup.

Namun ketika nilai-nilai yang diajarkan guru tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka ilmu itu kehilangan makna.

Pengetahuan tanpa pengamalan hanya menjadi hiasan, sementara amanah seorang murid kepada gurunya telah diabaikan.

Perumpamaan lain, seorang aparatur negara telah mengucapkan sumpah jabatan, menerima amanah rakyat, dan bekerja berdasarkan aturan perundang-undangan.

Ketika kebijakan dijalankan sesuka hati, arahan pimpinan diabaikan, pelayanan publik dikalahkan oleh kepentingan pribadi atau kelompok, maka sesungguhnya orang ini telah mengabaikan kepercayaan masyarakat.

Birokrasi yang sehat berdiri di atas konsistensi antara ucapan dan tindakan. Sebab jabatan bukan sekadar kekuasaan, melainkan titipan yang harus dipertanggungjawabkan.

Ketika amanah mulai dipermainkan, kepercayaan publik akan terkikis sedikit demi sedikit.

Tak salah jika jor – jor-an disebut, orang yang tidak mampu memegang amanah, mengabaikan petunjuk, dan mengingkari kesepakatan yang telah dibuat bersama.

Bukan kelemahan pribadi, melainkan sikap yang dapat menggerus kepercayaan serta tindakan yang dapat mengkambing hitamkan orang lain demi nama baik nya tetap rapi.

Makna kata – kata ini melampaui hubungan antarindividu, menjadi cermin dalam tata kelola pemerintahan. Sebab birokrasi dibangun di atas aturan, loyalitas terhadap amanah, dan konsisten menjalankan visi yang telah di rumus.

Begitu juga dengan pemimpin terpilih, bukan hanya untuk memimpin, tetapi juga menjadi penjaga arah pembangunan.

Janji politik yang disampaikan saat kampanye pada hakikatnya adalah amanah publik.

Visi dan misi yang dituangkan dalam dokumen perencanaan daerah bukan sekadar tulisan administratif, melainkan komitmen yang harus diterjemahkan menjadi kebijakan, pelayanan, dan pembangunan yang reel.

Kepercayaan yang diperoleh dari rakyat adalah modal terbesar seorang pemimpin. Sekali amanah retak, membangunnya kembali jauh lebih sulit daripada menjaganya sejak awal.

Karena itu, seorang pemimpin dituntut menjadi teladan dalam memegang janji, sementara seluruh jajaran birokrasi berkewajiban menerjemahkan kepemimpinan tersebut berpihak kepada masyarakat.

Intinya jangan merusak amanah yang telah diberikan!

JIRIM JISIM

BERITA TERKAIT