ADVERTISEMENT

Harga Semen di Aceh Tengah Melonjak, Disperindag Sebut BBM Langka dan Jalan Rusak Jadi Penyebab

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

ilustrasi semen langka (Photo/Net)

TAKENGON  | HARIE.ID – Harga semen di Kabupaten Aceh Tengah melonjak hingga mencapai Rp105 ribu per sak dalam beberapa hari terakhir.

Tidak hanya mengalami kenaikan harga, pasokan semen di sejumlah toko bangunan juga mulai sulit diperoleh sehingga memicu keluhan masyarakat yang sedang membangun rumah maupun menjalankan proyek konstruksi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan Aceh Tengah, Abrar Gunawan mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh terganggunya distribusi barang ke daerah akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) serta persoalan infrastruktur jalan.

BACA JUGA

“Kalau dari sisi Dinas Perdagangan, penyebabnya adalah antrean BBM, kelangkaan BBM, naiknya tarif ongkos dan kondisi infrastruktur jalan,” kata Abrar saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp, Jumat 31 Juli 2026.

Menurutnya, distribusi semen sangat bergantung pada kelancaran transportasi. Ketika kendaraan angkutan kesulitan memperoleh BBM dan akses jalan tidak optimal, maka pasokan ke Aceh Tengah ikut terhambat.

Dampaknya kata dia, stok di tingkat distributor dan pengecer menurun, sementara permintaan masyarakat tetap tinggi sehingga harga ikut terdorong naik.

Abrar menjelaskan, persoalan tersebut tidak sepenuhnya berada dalam kewenangan Dinas Perdagangan. Untuk proyek pembangunan yang dibiayai melalui APBN, Dana Alokasi Umum (DAU), maupun APBK, pelaksanaannya menjadi ranah perangkat daerah yang menangani infrastruktur seperti Perkim.

“Dengan kelangkaan BBM saat ini, bagaimana dinas memulai kegiatan pembangunan infrastruktur, itu ranahnya Dinas Perkim,” ujarnya.

Fenomena kenaikan harga semen sendiri tidak hanya dirasakan Aceh Tengah. Isu distribusi material bangunan menjadi perhatian di berbagai daerah seiring terganggunya rantai pasok akibat kendala logistik dan pasokan BBM.

Di tengah situasi tersebut, muncul gagasan agar pemerintah mencari solusi jangka pendek untuk menjaga stabilitas pasokan.

Salah satu opsi yang dinilai dapat dipertimbangkan adalah keterlibatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai offtaker dengan membeli semen langsung dari produsen dalam jumlah besar untuk kemudian didistribusikan ke Aceh Tengah sehingga pasokan tetap tersedia dan gejolak harga dapat ditekan.

Namun, skema tersebut masih memerlukan kajian menyeluruh, termasuk kesiapan modal BUMD, ketersediaan anggaran, mekanisme distribusi, serta koordinasi lintas organisasi perangkat daerah agar tidak bertentangan dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah.

“Masalah nya, apakah BUMD kita punya anggaran sebesar itu,” tanya Abrar.

Katanya lagi, persoalan mahal dan langkanya semen bukan semata-mata persoalan dinas perdagangan, melainkan berkaitan erat dengan sektor energi, transportasi, infrastruktur, hingga kebijakan pemerintah daerah dalam menjaga kelancaran distribusi barang kebutuhan pembangunan.

“Ini kan isu nasional, penanganannya tentu lintas sektor,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT