ADVERTISEMENT

Heboh Tarif Lapak Pacuan Kuda di Takengon Hingga Rp2 Juta, Begini Kata Panitia?

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Pelaku UMKM saat ini tengah mempersiapkan lapaknya menghadapi perhelatan Pacuan Kuda Tradisional Gayo digelar Senin 24-30 Agustus 2026 (Photo. Harie)

TAKENGON | HARIE.ID — Ketua Pelaksana Pacuan Kuda Tradisional Gayo, Mulyadi, menepis tudingan di media sosial yang menyebut tarif lapak bagi pelaku UMKM pada gelaran Pacuan Kuda di Blang Bebangka mencapai Rp 2 juta hingga dinilai mencekik masyarakat pasca bencana hidrometeorologi.

Mulyadi memastikan, harga lapak yang ditetapkan panitia tidak lebih dari Rp1,5 juta, dengan besaran tarif menyesuaikan posisi atau tingkat strategis lokasi lapak.

“Kalau sudah di atas Rp2 juta, itu diduga ulah oknum. Bukan harga yang ditetapkan panitia. Atau yang bersangkutan mengambil lapak dua titik,” kata Mulyadi saat dikonfirmasi Harie.id, Sabtu 22 Agustus 2026.

BACA JUGA

Ia menegaskan, informasi mengenai tarif Rp2 juta yang beredar di media sosial perlu diluruskan agar tidak menimbulkan persepsi seolah-olah panitia membebani pelaku UMKM yang ingin mencari rezeki selama perhelatan pacuan kuda.

Menurut Mulyadi, hingga saat ini belum ada pelaku UMKM yang datang langsung kepada panitia untuk menyampaikan keberatan terkait harga lapak.

Karena itu, ia meminta masyarakat maupun pelaku UMKM tidak hanya mengandalkan informasi yang beredar di media sosial, tetapi langsung menghubungi panitia jika menemukan persoalan di lapangan.

“Kalau ada yang merasa dikenakan tarif di luar ketentuan, silakan langsung hubungi panitia. Jangan sampai informasi yang belum jelas justru merugikan masyarakat dan panitia,” ujarnya.

Mulyadi menjelaskan, ketentuan harga lapak tersebut merupakan kesepakatan dengan pengelola lapak dan parkir, Kampung Simpang Kelaping, Kecamatan Pegasing.

Teranyar, musyawarah akhir yang berlangsung Sabtu 22 Agustus 2026, di Lapangan H. Muhammad Hasan Blang Bebangka, Kecamatan Pegasing masih tetap dengan keputusan yang sama.

“Memang harga lapak tergantung strategis atau tidaknya lokasi. Tetapi harga tertinggi tetap Rp1,5 juta,” tegasnya.

Di tengah polemik harga lapak yang beredar, antusiasme pelaku UMKM untuk mengambil bagian dalam perhelatan tahunan tersebut justru cukup tinggi.

Berdasarkan data yang dihimpun panitia, lebih dari 100 pelaku UMKM telah mendaftarkan usahanya untuk berjualan selama Pacuan Kuda Tradisional Gayo berlangsung di Blang Bebangka.

Mulyadi menyebut kondisi itu menunjukkan, gelaran pacuan kuda bukan hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Ini bukan hanya soal pacuan kuda. Ada UMKM, pedagang kecil dan masyarakat yang ikut mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan ini. Karena itu kami ingin semuanya berjalan tertib dan adil,” katanya.

Panitia juga terus mematangkan persiapan menjelang dimulainya Pacuan Kuda Tradisional Gayo yang digelar dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia.

Sejumlah persiapan telah dilakukan, mulai dari memperbaiki instalasi listrik di tribun utama, membersihkan area tribun menggunakan mobil pemadam kebakaran hingga melakukan pengelasan terhadap besi pengaman di sisi land pacuan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan fasilitas pendukung dalam kondisi layak sekaligus memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat yang datang menyaksikan pertandingan.

Pacuan Kuda Tradisional Gayo dijadwal akan berlangsung 24-30 Agustus 2026 di Lapangan H. Muhammad Hasan Blang Bebangka, Pegasing.

Tahun ini, kegiatan mengusung tema “Bersatu dalam Tradisi, Berlari Menuju Prestasi.”

Pacuan kuda itu kata Mulyadi, bagian dari identitas budaya Gayo sekaligus momen mempertemukan tradisi, olahraga, pariwisata dan perputaran ekonomi masyarakat.

“Yang paling penting, mari kita sukseskan bersama. Kalau ada persoalan, sampaikan kepada panitia. Kita ingin tradisi ini tetap hidup, masyarakat mendapatkan manfaat, dan pelaksanaan pacuan kuda berjalan baik sampai selesai,” pungkasnya.

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT