ADVERTISEMENT

Menagih Janji Bank Aceh, Bangun Tugu Gajah di Paya Tumpi Senilai Rp3,7 Miliar 

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Tugu Gajah rencana nya akan dibangun di Bundaran Paya Tumpi (Foto. Ist)

HARIE.ID | TAKENGON – Rencana pembangunan Tugu Gajah di Bundaran Paya Tumpi, Aceh Tengah, yang disebut telah dijanjikan Bank Aceh sejak 2023 hingga kini belum juga terealisasi.

Di saat janji pembangunan tersebut belum terwujud, perhatian justru tertuju pada revitalisasi Tugu Simpang Lima Takengon pasca bencana hidrometeorologi.

Padahal, berdasarkan rancangan awal, pembangunan tugu yang digagas Bank Aceh tersebut bukan berada di kawasan Simpang Lima, melainkan di Bundaran Paya Tumpi, tak jauh dari Rumah Sakit Gayo Medical Center.

BACA JUGA

“Nilai pembangunan yang direncanakan kala itu mencapai sekitar Rp3,7 miliar. Bahkan desain tugu telah rampung dengan ikon utama berupa gajah,” kata mantan Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar saat dikonfirmasi Harie.id, Selasa 22 September 2026.

Shabela dalam keterangan nya cenderung menagih kejelasan atas rencana yang sejak awal disebut berasal dari Bank Aceh sendiri.

“Bukan kita yang minta, tapi mereka (Bank Aceh-red) yang menawarkan,” begitu kata Shabela menjelaskan terkait awal munculnya rencana pembangunan tersebut.

Saat itu, Bank Aceh melalui jajaran pusat Banda Aceh kata dia, menawarkan pembangunan tugu sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas Aceh Tengah yang tengah diarahkan menjadi Kota Pusaka.

Karena itu, lokasi dan konsep pembangunan bukan sekadar persoalan estetika. Menghadirkan ruang publik yang memiliki keterkaitan dengan sejarah panjang Takengon dengan icon Gajah.

Kata dia, rencana Tugu Gajah di Paya Tumpi memiliki konteks yang lebih luas dari sekadar pembangunan fisik. Saat itu santer dibahas terkait Aceh Tengah menuju kota pusaka.

Kawasan ini pernah menjadi bagian dari perjalanan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda dalam Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948.

Nama Mr. Syafruddin Prawiranegara, yang memimpin PDRI, juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan di wilayah Aceh.

Radio Rimba Raya di Aceh Tengah menjadi salah satu bagian penting dalam penyebaran informasi perjuangan Republik Indonesia pada masa tersebut.

Latar sejarah itulah yang kemudian menjadi salah satu alasan mengapa gagasan menjadikan Takengon sebagai Kota Pusaka dinilai relevan untuk terus didorong.

“Saat pembahasan ini dan sibuk kegiatan MTQlalu muncul tawaran pembangunan tugu itu,” katanya.

Lalu Shabela mempertanyakan pemolesan Tugu Simpang Lima dilakukan penganggaran dua kali.

“Kenapa tugu Simpang Lima yang di poles. Ketika itu rencana awal telah memiliki desain dan nilai anggaran mencapai Rp3,7 miliar, dan seharusnya sudah siap di tahun 2023,” pungkas Shabela Abubakar.

Saat dikonfirmasi Pimpinan Bank Aceh Cabang Takengon, Satumin saat dikonfirmasi mengaku belum mengetahui informasi tersebut.

“Saya belum tau info nya,” demikian kata Satumin.

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT