HARIE.ID | Banyak istilah di Gayo, tidak hanya dalam ungkapan sehari-hari.
Ada cara orang tua terdahulu membaca watak manusia, menjaga hubungan sosial dan memberi peringatan agar seseorang tidak terjebak dalam perilaku yang merusak.
Salah satunya adalah “Kucing Mah Uwak”.
Istilah ini menggambarkan perilaku seseorang yang gemar memancing emosi dua pihak yang sedang berselisih, membawa cerita dari satu pihak kepada pihak lainnya, kemudian membangun narasi seolah-olah dirinya berpihak kepada salah satu pihak.
Padahal, di balik layar, ia justru bermain di dua sisi.
Ia mendengar keluhan seseorang, menyimpannya dengan baik, lalu membawa cerita itu kepada orang yang sedang berseberangan.
Cerita tersebut bisaja saja ditambah, dikurangi, dibelokkan, atau disusun sedemikian rupa sehingga konflik semakin panas.
Yang menarik, orang dengan perilaku semacam ini biasanya tidak tampil sebagai pembuat masalah.
Ia justru sering muncul sebagai orang yang dianggap pendengar yang baik, pemberi nasihat, atau orang yang dipercaya. Di situlah bahayanya.
“Kucing Mah Uwak” bukan hanya istilah untuk orang yang suka bergosip.
Ada pola yang lain, memanfaatkan konflik orang lain untuk kepentingan tertentu.
Dalam persoalan batas kebun misalnya, seseorang datang kepada salah satu pihak yang sedang bersengketa. Ia mendengarkan seluruh keluhan, menunjukkan simpati, bahkan mungkin ikut menyalahkan pihak lawan.
Namun setelah meninggalkan tempat itu, cerita yang sama dibawa kepada pihak lain.
Kepada pihak kedua, ia kembali memainkan peran sebagai orang yang memahami keadaan.
Pada akhirnya, dua orang yang sebelumnya mungkin masih bisa duduk bersama justru semakin sulit berdamai.
Sementara orang yang berada di tengah konflik tetap terlihat bersih.
Dalam istilah sekarang, perilaku seperti ini dapat muncul dalam bentuk provokasi terselubung, penggiringan opini, memainkan persepsi, hingga menyebarkan informasi secara selektif.
Dahulu, cerita berpindah dari mulut ke mulut. Hari ini, satu pesan WhatsApp bisa melakukan pekerjaan yang sama dalam hitungan detik.
Dahulu seseorang harus mendatangi rumah orang lain untuk membawa cerita.
Sekarang cukup dengan meneruskan pesan, mengirim tangkapan layar, membuat unggahan bersayap, atau membicarakan seseorang dalam grup tertutup.
Karena itu, “Kucing Mah Uwak” tidak hanya relevan untuk membaca kehidupan masyarakat Gayo masa lalu. Istilah ini justru terasa semakin penting ketika kehidupan sosial hari ini dipenuhi informasi yang bergerak cepat.
Satu potongan percakapan dapat mengubah persepsi.
Satu kalimat yang keluar dari konteks dapat menjadi bahan pertengkaran.
Satu cerita yang belum tentu benar dapat berkembang menjadi “kebenaran” hanya karena diulang berkali-kali.
Di tengah situasi seperti itu, kemampuan membedakan informasi, opini, provokasi dan fakta menjadi semakin penting.
Perilaku “Kucing Mah Uwak” juga dapat ditemukan dalam lingkungan pekerjaan.
Seseorang bisa saja menyampaikan informasi kepada pimpinan mengenai rekannya secara halus. Tidak selalu dalam bentuk tuduhan langsung.
Lebih berbahaya lagi ketika informasi tersebut sengaja disampaikan untuk menjatuhkan seseorang dari posisi tertentu atau membuka jalan bagi kepentingan pribadi.
Dalam organisasi, pola yang sama bisa muncul. Dalam politik, bentuknya bisa semakin rumit.
Seseorang dapat mendekati dua kelompok yang sedang berseberangan, membangun kepercayaan kepada keduanya, lalu menyampaikan informasi berbeda kepada masing-masing pihak.
Tujuannya bukan menyelesaikan persoalan. Tujuannya mempertahankan konflik karena dari konflik itu ia mendapatkan keuntungan.
Di era media sosial, “Kucing Mah Uwak” tidak selalu datang sebagai manusia yang berdiri di tengah dua orang.
Bisa melalui komentar, melalui unggahan anonim, melalui pesan pribadi, bahkan bisa muncul dalam bentuk potongan video atau tangkapan layar yang sengaja dipilih untuk membangun persepsi tertentu.
Masalahnya, masyarakat sering kali bereaksi lebih cepat daripada memeriksa kebenaran.
Ketika sebuah informasi sesuai dengan apa yang ingin dipercayai, orang cenderung langsung membagikannya.
Di sinilah konflik mudah diproduksi. Orang tidak lagi bertanya, “Benarkah ini?, melainkan lebih sering bertanya, “Kalau ini benar, siapa yang salah?”
Padahal, sebelum menentukan siapa yang salah, hal pertama yang seharusnya dilakukan adalah memastikan apakah informasi tersebut benar.
Kebudayaan bukan hanya tentang tarian, pakaian, bahasa, rumah adat atau upacara tradisional.
Kebudayaan juga menyimpan cara sebuah masyarakat mengenali perilaku manusia.
Istilah seperti “Kucing Mah Uwak” merupakan bentuk pengetahuan sosial yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam menghadapi berbagai karakter manusia.
Ketika istilah itu disebut, masyarakat sebenarnya sedang diingatkan bahwa ada perilaku yang perlu dihindari menjadi penyambung cerita yang sengaja memperkeruh keadaan, memelintir informasi, mencari keuntungan dari konflik dan membuat orang lain saling curiga.
Persoalan terbesar dari perilaku ini sebenarnya bukan pertengkarannya, melainkan hilangnya kepercayaan.
Sekali seseorang diketahui suka membawa cerita dari satu pihak kepada pihak lain, orang akan mulai berhati-hati berbicara kepadanya.
Orang tidak lagi yakin apakah cerita yang disampaikan kepadanya akan tetap menjadi rahasia.
Di titik itu, kerusakan sosial sudah terjadi. Sebab masyarakat tidak mungkin berjalan tanpa kepercayaan. Di keluarga, kepercayaan menjaga hubungan.
Di kantor, kepercayaan menjaga kerja sama, dalam organisasi, kepercayaan menjaga soliditas., dalam politik, kepercayaan menentukan dukungan.
Dan dalam kehidupan bermasyarakat, kepercayaan adalah modal sosial yang jauh lebih mahal daripada sekadar memenangkan sebuah perdebatan.
Catatan mengenai istilah “Kucing Mah Uwak” tersebut ditulis dalam buku karya Banta Cut Aspala, bersama Kamaruddin dan Karmiadi, mereka adalah mantan komisioner Majelis Adat Gayo (MAG) Aceh Tengah.
**Catatan Redaksi








Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.