ADVERTISEMENT
harie.id
  • SERAMI
  • BENGKON
  • BERANANG
  • GEGAYANG
  • KEBEN
  • REGEM
  • SANTON
  • SELADANG
  • Tentang HARIE.ID
  • NEWSROOM HARIE.ID
  • SERAMI
  • BENGKON
  • BERANANG
  • GEGAYANG
  • KEBEN
  • REGEM
  • SANTON
  • SELADANG
  • Tentang HARIE.ID
  • NEWSROOM HARIE.ID
No Result
View All Result
harie.id
No Result
View All Result
Home SERAMI

Black Coffe di Tangan Jeremias Nyangoen Digadang Melangkah ke Panggung Eropa 

by Arinos
27 Juli 2025
A A
Black Coffe di Tangan Jeremias Nyangoen Digadang Melangkah ke Panggung Eropa 

Jeremias Nyangoen (Photol/Ist)

HARIE.ID, TAKENGON | Saat kabut menyelimuti lekuk perbukitan Gayo dan aroma kopi segar menyeruak dari balik dedaunan basah, sebuah kisah sedang diracik, bukan di kedai, bukan pula dalam cangkir, melainkan di balik kamera.

Di balik layar itu berdiri sosok Jeremias Nyangoen, sutradara yang tengah menyusun mozaik kehidupan dalam film terbarunya yang penuh filosofi, Black Coffe.

Nama Jeremias mungkin langsung mengingatkan kita pada peran legendarisnya sebagai Sumanto dalam film kontroversial Kanibal Sumanto (2004).

BACA JUGA

Kasus HIV/AIDS Aceh Tengah Capai 97 Orang, Separuh Indikasi Homoseksual 

Sosok Jauhari, Merangkul dengan Humor, Mundur karena Prinsip

Kadis Pertanian Aceh Tengah Jauhari Mengundurkan Diri 

Namun, dua dekade berselang, lelaki kelahiran 29 Juni 1969 itu menunjukkan wajah lain dari kreativitasnya, bukan lagi sebagai aktor di depan kamera, tetapi dalang di balik layar, yang dengan kesabaran menyulam realita dan rasa menjadi sebuah sinema.

Setelah berhasil mencuri perhatian publik dan kritikus lewat debut penyutradaraannya dalam Perempuan Berkelamin Darah, film yang menghantarkannya meraih Piala Citra Festival Film Indonesia 2023, Jeremias kembali duduk di kursi sutradara, membawa misi baru menghadirkan Gayo ke panggung dunia lewat film Black Coffe.

Black Coffe bukan sekadar kisah tentang kopi. Ia adalah cerita tentang keberanian mencintai dalam keterbatasan, tentang melihat tanpa mata, dan tentang kehidupan yang tetap tumbuh di tengah gelap.

“Film ini bercerita tentang sepasang suami istri tuna netra yang hidup dari kebun kopi. Meski tak dapat melihat, sang suami mampu memetik kopi dengan presisi. Bukan karena keajaiban, tapi karena cinta, pengalaman, dan kedalaman rasa,” jelas Jeremias saat diwawancarai awak media di hotel tempat nya menginap beberapa waktu lalu usai syukuran proses produksi film dimulai.

Cerita yang sederhana itu kemudian menjelma menjadi refleksi mendalam tentang manusia.

Tentang bagaimana kita bisa kehilangan satu indera, tapi tidak kehilangan arah. Tentang bagaimana cinta, kerja keras, dan alam bisa saling melengkapi dalam sunyi. Di balik kisah itu, ada filosofi kehidupan yang pekat, seperti secangkir kopi hitam tanpa gula.

Jeremias tak memilih lokasi syuting secara sembarangan. Lebih dari 40 titik lokasi tersebar di Aceh Tengah dan Bener Meriah dipilih dengan penuh pertimbangan.

Mulai dari rumah-rumah tua dengan arsitektur Gayo, hingga lintasan jalan kebun yang menyempit di lereng-lereng curam, semuanya diambil bukan sekadar karena estetika, tapi karena makna.

“Dua belas tahun lalu saya pernah melakukan riset di Takengon dan Bener Meriah. Saat cerita ini saya garap, ingatan itu kembali. Saya tahu tempat ini memiliki roh yang sesuai bukan hanya visual, tapi batiniah. Gayo punya energi yang sulit dijelaskan, dan saya ingin menaruhnya ke dalam film ini,” ujar Jeremias.

Setiap lokasi menurutnya, bukan sekadar latar, tapi karakter tersendiri dalam film. Bukit, kabut, pohon kopi, dan gemericik air di celah lembah Gayo menjadi bagian dari narasi yang tak bisa diabaikan. Mereka bukan figuran. Mereka ikut berbicara.

Film ini diperkuat jajaran aktor papan atas seperti Reza Rahadian, Ine Febrianti, Asmara Abigail, dan Kabriwali.

Namun, yang paling istimewa justru bukan nama-nama besar itu, melainkan bagaimana mereka menyatu dengan atmosfer lokal. Tanpa kemewahan, tanpa ego, mereka hadir sebagai bagian dari semesta Gayo.

“Saya ingin penonton merasa bahwa ini bukan film. Tapi kehidupan. Kehidupan yang bisa mereka temui di pasar, di kebun, atau di beranda rumah kopi,” tutur Jeremias.

Black Coffe saat ini masih dalam proses produksi. Belum memasuki proses Editing, penyusunan musik, pencampuran suara, hingga pewarnaan gambar.

Target rilisnya dijadwalkan tahun depan. Namun, sebelum menghampiri layar bioskop nasional, film ini direncanakan untuk lebih dulu menjelajah panggung festival internasional.

“Saya belum bisa pastikan apakah akan tayang di bioskop dulu atau festival dulu. Tapi rasanya, Black Coffe akan lebih dulu kami summit ke sejumlah festival di Eropa. Itu ranah publisher, tapi saya kira film ini layak mendapat panggung global,” ungkapnya.

Meski belum bisa menyebutkan nama festival, Jeremias optimis bahwa Black Coffe punya napas panjang.

Film ini tidak hanya tentang Indonesia, tetapi tentang kemanusiaan universal, tentang mencintai, kehilangan, bertahan, dan menyeduh harapan dari kesederhanaan.

Lewat Black Coffe, Jeremias Nyangoen tidak hanya mempersembahkan film. Ia mempersembahkan penghormatan. Untuk tanah Gayo.

Untuk para petani kopi. Untuk mereka yang hidup dengan keterbatasan, tapi terus berjalan tanpa kehilangan arah.

Dari secangkir kopi hitam itu, Jeremias menyuguhkan lebih dari rasa, ia menyuguhkan kesadaran. Bahwa dalam keterbatasan ada kekuatan. Bahwa dalam gelap, ada arah. Dan dari tempat yang paling sunyi di negeri ini, bisa lahir suara paling nyaring untuk dunia.

| KARMIADI

Tags: Aceh TengahAsmara AbigailBioskopBlack CoffeErofaJeremias NyangoenProduserReza Rahadian
SendShare5Tweet3

BERITA TERKAIT

Sejak 2018-2026, Aceh Tengah Catat 85 Kasus HIV/AIDS, 30 Penderita AIDS Meninggal

Kasus HIV/AIDS Aceh Tengah Capai 97 Orang, Separuh Indikasi Homoseksual 

26 September 2026
Sosok Jauhari, Merangkul dengan Humor, Mundur karena Prinsip

Sosok Jauhari, Merangkul dengan Humor, Mundur karena Prinsip

25 September 2026
Kadis Pertanian Aceh Tengah Jauhari Mengundurkan Diri 

Kadis Pertanian Aceh Tengah Jauhari Mengundurkan Diri 

24 September 2026
Komitmen Bersama! “Jika Oknum TNI/Polri Terlibat PETI dan Mafia BBM Siap Dicopot”

Komitmen Bersama! “Jika Oknum TNI/Polri Terlibat PETI dan Mafia BBM Siap Dicopot”

24 September 2026
Peserta Aksi di DPRK, Minta Bupati Haili Yoga Hadir: “Kalau Tidak Kami Jemput ke Pendopo”

Peserta Aksi di DPRK, Minta Bupati Haili Yoga Hadir: “Kalau Tidak Kami Jemput ke Pendopo”

24 September 2026
Masjid Ruhama Takengon Dibahas dengan Menlu, Haili Yoga Prediksi Anggaran Rp300 – Rp500 Miliar

Masjid Ruhama Takengon Dibahas dengan Menlu, Haili Yoga Prediksi Anggaran Rp300 – Rp500 Miliar

23 September 2026
Next Post
Perbaiki Pompa Air, Warga Pondok Baru Tewas Tersengat Listrik

Perbaiki Pompa Air, Warga Pondok Baru Tewas Tersengat Listrik

BERITA TERKINI

Sejak 2018-2026, Aceh Tengah Catat 85 Kasus HIV/AIDS, 30 Penderita AIDS Meninggal

Kasus HIV/AIDS Aceh Tengah Capai 97 Orang, Separuh Indikasi Homoseksual 

26 September 2026
Sosok Jauhari, Merangkul dengan Humor, Mundur karena Prinsip

Sosok Jauhari, Merangkul dengan Humor, Mundur karena Prinsip

25 September 2026
Kadis Pertanian Aceh Tengah Jauhari Mengundurkan Diri 

Kadis Pertanian Aceh Tengah Jauhari Mengundurkan Diri 

24 September 2026
Komitmen Bersama! “Jika Oknum TNI/Polri Terlibat PETI dan Mafia BBM Siap Dicopot”

Komitmen Bersama! “Jika Oknum TNI/Polri Terlibat PETI dan Mafia BBM Siap Dicopot”

24 September 2026
Peserta Aksi di DPRK, Minta Bupati Haili Yoga Hadir: “Kalau Tidak Kami Jemput ke Pendopo”

Peserta Aksi di DPRK, Minta Bupati Haili Yoga Hadir: “Kalau Tidak Kami Jemput ke Pendopo”

24 September 2026
Masjid Ruhama Takengon Dibahas dengan Menlu, Haili Yoga Prediksi Anggaran Rp300 – Rp500 Miliar

Masjid Ruhama Takengon Dibahas dengan Menlu, Haili Yoga Prediksi Anggaran Rp300 – Rp500 Miliar

23 September 2026
Rotasi 9 Pejabat Eselon II, Khairmansyah Duduki Kursi Asisten, Haili Yoga: “Matahari Tetap Satu”

Rotasi 9 Pejabat Eselon II, Khairmansyah Duduki Kursi Asisten, Haili Yoga: “Matahari Tetap Satu”

23 September 2026
Besok, Bupati Haili Yoga Rotasi Pejabat Eselon II

Besok, Bupati Haili Yoga Rotasi Pejabat Eselon II

22 September 2026
Menagih Janji Bank Aceh, Bangun Tugu Gajah di Paya Tumpi Senilai Rp3,7 Miliar 

Menagih Janji Bank Aceh, Bangun Tugu Gajah di Paya Tumpi Senilai Rp3,7 Miliar 

22 September 2026
Skill Up Lab Dorong Anak Muda Bener Meriah Jadi Pelaku Ekonomi Kreatif

Skill Up Lab Dorong Anak Muda Bener Meriah Jadi Pelaku Ekonomi Kreatif

19 September 2026

BANYAK DIBACA

  • Kadis Pertanian Aceh Tengah Jauhari Mengundurkan Diri 

    Kadis Pertanian Aceh Tengah Jauhari Mengundurkan Diri 

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Rotasi 9 Pejabat Eselon II, Khairmansyah Duduki Kursi Asisten, Haili Yoga: “Matahari Tetap Satu”

    44 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Peserta Aksi di DPRK, Minta Bupati Haili Yoga Hadir: “Kalau Tidak Kami Jemput ke Pendopo”

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Besok, Bupati Haili Yoga Rotasi Pejabat Eselon II

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Komitmen Bersama! “Jika Oknum TNI/Polri Terlibat PETI dan Mafia BBM Siap Dicopot”

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Tentang HARIE.ID
  • REDAKSI
  • KODE ETIK
  • PEDOMAN HAK JAWAB
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
PT.TANOH GAYO MULTIMEDIA

© 2024 harie.id .

No Result
View All Result
  • SERAMI
  • BENGKON
  • BERANANG
  • GEGAYANG
  • KEBEN
  • REGEM
  • SANTON
  • SELADANG
  • Tentang HARIE.ID
  • NEWSROOM HARIE.ID

© 2024 harie.id .