*Oleh: Tgk. Ridwan Bintang
Di dalam riwayat sahih yang termaktub dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, dikisahkan seekor cicak ikut meniup api saat Nabi Ibrahim dibakar oleh penguasa zalim pada masanya.
Secara logika, tiupan seekor cicak tentu tidak akan memberi pengaruh besar terhadap kobaran api yang menyala hebat.
Tiupan kecil itu tidak akan membuat api semakin besar, apalagi mampu menentukan jalannya peristiwa.
Namun, pesan utama dari kisah tersebut bukan terletak pada besar kecilnya dampak, melainkan pada sikap keberpihakan.
Seekor hewan kecil tetap dicatat sejarah karena ia menunjukkan di pihak mana dirinya berdiri.
Pesan ini terasa begitu relevan dengan kehidupan manusia hari ini. Di tengah derasnya arus informasi dan ruang publik yang semakin bising, banyak orang tanpa sadar mengambil peran seperti “cicak” dalam kisah Nabi Ibrahim.
Mereka mungkin tidak secara langsung menghancurkan kebenaran, tetapi ikut meniupkan api melalui ucapan, fitnah, hasutan, komentar provokatif, hingga narasi yang memperkeruh keadaan.
Semua sering bermula dari sesuatu yang dianggap sepele. Obrolan di warung kopi, unggahan media sosial, potongan video tanpa konteks, atau komentar bernada kebencian yang disebarkan tanpa pertimbangan.
Banyak yang merasa ucapan kecil tidak akan membawa dampak apa-apa. Padahal, setiap kata tetap menunjukkan arah hati dan keberpihakan seseorang.
Tiupan cicak memang tidak mampu mencelakai Nabi Ibrahim. Namun ia tetap dikenang sebagai simbol dukungan terhadap kebatilan.
Begitu pula manusia yang gemar menyebarkan permusuhan dan memperbesar konflik. Mereka mungkin tidak akan mampu menghentikan kebenaran, tetapi sikap mereka menunjukkan keberpihakan pada hal yang salah.
Fenomena ini semakin nyata di era digital. Konflik sering dijadikan hiburan. Perselisihan dianggap tontonan.
Bahkan tidak sedikit yang menikmati panasnya pertengkaran dan ikut menyulut suasana agar semakin gaduh. Mereka tidak hadir sebagai penyejuk, melainkan menjadi bagian dari penyebar bara permusuhan.
Padahal seorang mukmin seharusnya menjadi pembawa ketenangan. Ketika melihat pertikaian, ia hadir untuk meredakan.
Saat melihat kebatilan, ia menolaknya dengan cara yang bijak. Dan ketika menyaksikan perjuangan kebenaran, ia mendukungnya meski hanya melalui doa, nasihat, dan sikap yang menenangkan.
Karena pada akhirnya, Allah tidak hanya melihat hasil dari sebuah peristiwa, tetapi juga melihat sikap setiap hamba dalam menyikapi keadaan.
Jangan pernah menganggap ucapan dan tindakan kecil tidak berarti. Sebab seekor cicak kecil saja diabadikan sebagai pelajaran tentang keberpihakan. Apalagi manusia yang dianugerahi akal, hati, dan lisan.
Penulis adalah Komisioner Majelis Permusyawaratan Ulama Kabupaten Aceh Tengah











