HARIE.ID | TAKENGON — Sebanyak 97 kasus HIV/AIDS tercatat di Kabupaten Aceh Tengah sejak 2018 hingga 24 September 2026.
Dari jumlah tersebut, 31 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 55 orang masih menjalani pengobatan secara rutin.
Data itu disampaikan oleh Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh Tengah, Mudarmawati, S.Bd, saat menjelaskan perkembangan penanganan HIV/AIDS saat audiensi dengan GMNI di gedung DPRK, Kamis 24 September 2026.
Menurut Mudarmawati, selain pasien yang masih menjalani terapi, terdapat empat orang yang tercatat putus berobat dan tujuh lainnya hilang jejak sehingga tidak lagi terpantau dalam layanan kesehatan.
“Pengobatan HIV harus dijalani secara berkelanjutan. Karena itu kami terus melakukan pendampingan dan pendekatan agar pasien tetap terhubung dengan layanan kesehatan,” kata Mudarmawati.
Berdasarkan pemetaan kasus, sekitar 50 persen kasus yang ditemukan berkaitan dengan kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL).
Selain itu, terdapat empat perempuan pekerja seksual yang terdeteksi HIV serta beberapa pasangan suami istri yang masuk kelompok berisiko.
Mudarmawati menjelaskan, penanganan HIV/AIDS tidak dapat dilakukan dengan pendekatan diskriminatif. Justru, pelayanan kesehatan harus memastikan setiap orang yang terdeteksi mendapatkan akses pemeriksaan, edukasi, dan pengobatan.
“Kasus HIV bukan untuk ditutup-tutupi, tetapi juga tidak boleh disikapi dengan serampangan. Tugas kami adalah menemukan kasus, mengobati, melakukan edukasi, dan mencegah agar penularan tidak bertambah,” ujarnya.
Ia menegaskan, semakin cepat seseorang mengetahui status kesehatannya dan menjalani terapi, maka semakin besar peluang untuk menjaga kualitas hidup sekaligus menekan risiko penularan.
Data putus berobat dan hilang jejak, menurut Mudarmawati, menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan. Sebab, keberhasilan penanganan HIV tidak hanya diukur dari jumlah kasus yang ditemukan, tetapi juga dari seberapa banyak pasien yang tetap bertahan dalam pengobatan.
Dinas Kesehatan Aceh Tengah, lanjutnya, terus mengedepankan pendekatan persuasif dan edukatif kepada kelompok yang berisiko, tanpa memandang latar belakang sosial, pekerjaan, maupun kondisi pribadi seseorang.
“Siapapun dia, ketika terdeteksi HIV, yang paling penting adalah mendukung agar mereka mau berobat dan tetap menjalani terapi. Dengan begitu, kualitas hidup pasien dapat terjaga dan penularan dapat ditekan,” kata Mudarmawati.
Laporan | Karmiadi











