TAKENGON | HARIE.ID — Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mempercepat penyiapan lahan untuk pembangunan 533 hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana.
Di Kecamatan Linge, pembangunan rumah permanen ini berjalan beriringan dengan pemulihan Jembatan dan infrastruktur pengendali aliran air untuk mendukung keselamatan serta aksesibilitas warga.
Pembangunan 533 unit huntap tersebut dilaksanakan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) pada 2026. Program ini menjadi bagian dari penanganan dampak bencana yang mencatat 4.195 rumah terdampak di Aceh Tengah, termasuk 2.158 rumah mengalami kerusakan berat.
Di Kecamatan Linge, sebanyak 77 unit huntap direncanakan dibangun di depan kawasan hunian sementara (huntara) Kampung Penarun. Sementara itu, 103 unit lainnya disiapkan di kawasan huntara Kampung Umang.
Penempatan huntap di sekitar lokasi pengungsian sementara diharapkan memudahkan warga beralih ke hunian permanen tanpa harus jauh dari lingkungan sosial yang selama ini mereka tempati.
Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, mengatakan penyiapan lahan melibatkan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Dinas Pertanahan, serta BPBD. Proses tersebut dikoordinasikan melalui Asisten Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Tengah.
“Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mempercepat penyelesaian dokumen dan kesiapan teknis di setiap titik pembangunan,” ujar Andalika, Kamis 15 Oktober 2026.
Menurutnya, proses penyiapan lahan mencakup penyelesaian administrasi pengadaan tanah dan verifikasi lokasi untuk memastikan pembangunan dapat berjalan dengan kepastian hukum dan kesiapan teknis.
Proses tender pembangunan 533 unit huntap telah selesai 18 September 2026 lalu. Paket pekerjaan kini memasuki tahap pelaksanaan fisik, sementara pemerintah daerah melanjutkan pemenuhan persyaratan lahan di setiap lokasi.
Selain pembangunan hunian, pemulihan akses transportasi di Kecamatan Linge juga menjadi perhatian. Tim Monitoring dan Evaluasi Khusus Posko Nasional Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) meninjau pekerjaan Jembatan Lenang pada jalur Takengon–Blangkejeren.
Tim yang dipimpin Kolonel Laut Daniel Setiawan itu memantau pembangunan jembatan yang ditangani Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh.
Jembatan Lenang merupakan bagian dari konektivitas pada ruas Simpang Uning – Owaq yang perlu dipulihkan setelah bencana mengganggu sejumlah akses di Aceh. Pemulihan jalur ini diharapkan mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi kebutuhan antarwilayah.
Peninjauan juga dilakukan terhadap pembangunan tanggul buis beton di Kampung Kemerleng yang dikerjakan Balai Wilayah Sungai Sumatera I. Infrastruktur tersebut berfungsi mengarahkan aliran air sekaligus membantu melindungi badan jalan dan kawasan permukiman dari risiko kerusakan ketika debit sungai meningkat.
Daniel mengatakan, pemantauan lapangan diperlukan agar pembangunan hunian berjalan seiring dengan pemulihan infrastruktur pendukung.
“Satgas PRR akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi ketat dengan pemerintah daerah untuk memastikan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu dan tepat manfaat,” pungkas Daniel.
Laporan | Karmiadi







Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.