TAKENGON | HARIE.ID — Di bawah hamparan tenda pengungsian, tempat kedua orang tuanya kini berteduh setelah rumah mereka dihancurkan banjir, sebuah kabar bahagia akhirnya datang. Penantian panjang itu berakhir dengan air mata haru.
Afdal Riski, pemuda asal Kampung Kenawat, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, dinyatakan lulus seleksi Tamtama TNI Angkatan Darat di Kodam Iskandar Muda setelah melewati seluruh tahapan seleksi yang terkenal ketat.
Pemuda kelahiran 2 Mei 2007 itu bukan berasal dari keluarga berada. Ia tumbuh di lingkungan keluarga petani.
Ayahnya, Haris, dan ibunya, Kasmawati, selama ini menggantungkan hidup dari hasil bertani.
Namun, ujian terberat datang pada akhir 2025. Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh Tengah meluluhlantakkan rumah mereka di Kampung Kenawat.
Pemerintah menetapkan rumah yang ditempati keluarga Afdal dalam kategori rusak berat. Sejak itu, Haris dan Kasmawati terpaksa menjalani hari-hari di bawah tenda pengungsian.
Di tengah keterbatasan itu, Afdal tidak membiarkan mimpinya hanyut bersama banjir. Ia memilih bangkit, berjuang, dan menjadikan doa kedua orang tuanya sebagai kekuatan untuk menembus gerbang pengabdian sebagai prajurit TNI AD du Banda Aceh.
Anak ketiga dari empat bersaudara itu menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 5 Aceh Tengah. Setelah itu, ia melanjutkan ke MTsN 1 Aceh Tengah sebelum menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Aceh Tengah.
Perjuangan Afdal akhirnya berbuah manis. Paman Afdal mengaku tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat mendampingi keponakannya di Banda Aceh. Tangis bahagia pecah ketika pengumuman kelulusan diumumkan.
“Kami sangat bangga Afdal lolos dalam seleksi ini. Ini adalah kado termahal yang diberikan kepada orang tuanya,” ujar sang paman Munadiyansah dengan suara bergetar saat dikonfirmasi Harie.id lewat sambungan WhatsApp, Minggu 12 Juli 2026.
Momen itu semakin mengharukan ketika Afdal mengangkat sebuah poster berwarna kuning yang telah dipersiapkannya.
Di bagian atas tertulis kalimat berbahasa Gayo, “Beluh Ara si Rai, Ulak Ara di Mai.” Kalimat ini bermakna, pergi ada yang dicari, kembali ada yang dibawa.
Kalimat sederhana itu seolah menjadi ringkasan perjalanan hidup Afdal. Ia pergi membawa harapan, lalu kembali dengan kebanggaan yang dipersembahkan untuk keluarganya.
Di bawah tulisan itu, Afdal menuliskan pesan di khusus kan untuk kedua orang tua nya, atas do’a yang telah dipanjatkan kepada sang pemberi harapan.
“Alhamdulillah Ama, Ine, anakmu lulus jadi TNI AD.” tulis Afdal di karton berwarna kuning.
Kalimat ini adalah jawaban atas doa yang bertahun-tahun dipanjatkan dari rumah sederhana mereka. Lalu dilanjutkan dari bawah tenda pengungsian.
Di saat banyak keluarga masih berjuang memulihkan hidup pascabencana, Afdal menghadirkan secercah harapan.
“Keadaan tak merobohkan mimpi”.
Laporan | Karmiadi











