ADVERTISEMENT

Ketua KONI Pusat Dorong Blang Bebangka Jadi Tuan Rumah Berkuda Memanah Indonesia

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, usai menutup gelaran Pacuan Kuda Tradisional Gayo di Lapangan Blang Bebangka, Minggu 30 Agustus 2026 (Foto. Ist)

TAKENGON, HARIE.ID — Lapangan H. M. Hasan Gayo Blang Bebangka, Pegasing, Aceh Tengah, dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi salah satu pusat olahraga berkuda memanah di Indonesia.

Hal itu disampaikan Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, usai menutup gelaran Pacuan Kuda Tradisional Gayo di Lapangan Blang Bebangka, Minggu 30 Agustus 2026.

Marciano sebelumnya menyaksikan langsung pacuan kuda sejak babak final pada Sabtu 29 Agustus 2026.

BACA JUGA

Menurutnya, keberadaan lapangan tersebut memiliki nilai strategis karena telah memiliki sejarah panjang dan pernah mendapat pembangunan serta perbaikan untuk pelaksanaan PON XXI Aceh – Sumut 2024.

“Lapangan ini terbaik di Indonesia. Tinggal penyempurnaan sedikit sehingga menjadi lapangan yang ideal,” kata Marciano.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah bersama Forkopimda dan Pemerintah Aceh memberikan perhatian lebih terhadap keberlanjutan dan pengembangan Lapangan Blang Bebangka.

Menurutnya, salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah olahraga berkuda memanah. Cabang olahraga tersebut, kata dia, berkembang cukup pesat, termasuk di lingkungan pesantren.

Karena itu, Marciano meminta dukungan Bupati Aceh Tengah dan Forkopimda, agar Blang Bebangka dapat dipersiapkan menjadi tuan rumah event berkuda memanah tingkat nasional.

“Mudah-mudahan Pak Bupati bisa membantu, sehingga lapangan Blang Bebangka ini bisa menjadi tuan rumah berkuda memanah Indonesia,” ujarnya.

Marciano juga melihat peluang besar pengembangan industri peternakan kuda di kawasan Gayo, khususnya Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.

Ia berujar, keberadaan arena pacuan kuda yang representatif dapat menjadi bagian dari ekosistem pengembangan kuda lokal, bukan hanya sebagai tempat perlombaan.

Ia berharap event-event berkuda yang digelar di Aceh Tengah mampu mengangkat kualitas dan popularitas kuda hasil ternak masyarakat Gayo sehingga semakin dikenal secara nasional.

“Ini tempat yang bagus untuk industri kuda. Kita ingin hasil ternak kuda di daerah ini semakin dikenal, sehingga kuda pacu dari sini punya kelas dan menjadi sasaran masyarakat di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Dengan demikian, peternak tidak hanya memiliki pasar lokal, tetapi juga berpeluang memperluas pemasaran kuda hasil ternaknya ke berbagai daerah di Indonesia.

Marciano juga menilai gelaran Pacuan Kuda Tradisional Gayo memiliki makna lebih luas bagi masyarakat Aceh Tengah dan daerah Gayo lainnya yang sebelumnya terdampak bencana.

Menurutnya, event olahraga dan budaya seperti pacuan kuda dapat menjadi salah satu ruang untuk membangun kembali semangat masyarakat sekaligus mendukung proses pemulihan psikologis pascabencana.

“Pacuan kuda ini juga menjadi salah satu event untuk trauma healing setelah bencana yang menimpa Aceh Tengah, Gayo Lues dan Bener Meriah,” katanya.

Ia menilai Aceh Tengah memiliki kapasitas untuk menggelar event olahraga berskala nasional. KONI Pusat, kata Marciano, siap berkolaborasi dengan organisasi olahraga terkait untuk mendorong lebih banyak kegiatan di daerah tersebut.

“Kami akan bekerja sama dengan Pordasi,” tegasnya.

Marciano menyebut ke depan akan ada sejumlah event olahraga berkuda yang berpotensi digelar di Lapangan Blang Bebangka.

Selama ini, Pordasi Aceh Tengah telah mengagendakan pacuan kuda selain agenda tahunan dalam rangka HUT Kota Takengon dan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT