“Tidak semua hal harus diumbar, dan tidak semua luka perlu dipertontonkan. Menjaga diri kadang jauh lebih bermartabat daripada mencari perhatian dari cerita yang membuka kehormatan sendiri”
Di tengah derasnya arus media sosial dan kebiasaan berbagi cerita tanpa batas, masyarakat Gayo sejak lama sebenarnya telah memiliki satu istilah yang terasa sangat relevan dengan keadaan hari ini “Si Tunging Buyung“.
Istilah ini bukan ungkapan biasa, tapi teguran sosial tentang perilaku manusia yang gemar membuka aib dirinya sendiri.
Istilah itu menggambarkan seseorang yang tanpa rasa malu mengumbar persoalan pribadi, membuka kelemahan keluarga, hingga menjadikan kesulitan rumah tangga sebagai bahan konsumsi publik.
Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini kerap hadir dalam bentuk percakapan ringan di depan rumah, di warung kopi, bahkan kini berpindah ke layar telepon genggam.
Ada yang dengan santai menceritakan keburukan pasangan kepada teman-temannya.
Ada pula yang tanpa sadar mengumbar kondisi ekonomi keluarga, pertengkaran rumah tangga, hingga luka batin di media sosial, seolah penderitaan harus diumumkan agar mendapat perhatian dan pengakuan.
Kini, kebiasaan itu berpindah ke media sosial, hadir dalam bentuk unggahan, status, siaran langsung, hingga pertengkaran yang diumbar ke ruang digital.
Namun fenomena “Si Tunging Buyung” tidak lagi hanya terjadi dalam lingkup keluarga atau pergaulan biasa.
Dalam perkembangan zaman, perilaku serupa juga mulai terlihat di kalangan politisi dan birokrasi.
Perseteruan internal, saling membuka kelemahan, membocorkan konflik lembaga, hingga perang pernyataan di depan publik sering kali justru memperlihatkan rapuhnya etika dalam ruang kekuasaan.
Tak jarang masyarakat menyaksikan elite politik yang saling menyerang dengan membuka persoalan internal, membongkar kelemahan rekan sendiri, atau mempertontonkan konflik kepentingan di hadapan publik.
Di lingkungan birokrasi, keadaan serupa muncul ketika sesama pejabat saling menyalahkan, membuka keburukan institusi, atau menyampaikan persoalan internal tanpa penyelesaian yang elegan.
Alih-alih menunjukkan kedewasaan dalam menyelesaikan masalah, ruang publik justru dipenuhi pertengkaran yang memperlihatkan hilangnya rasa malu dan lunturnya marwah lembaga.
Apa yang semestinya dibahas di ruang tertutup sering berubah menjadi konsumsi masyarakat luas.
Padahal dalam budaya timur, menjaga marwah keluarga selalu ditempatkan sebagai bagian dari harga diri.
Persoalan rumah tangga dianggap cukup selesai di ruang tertutup, bukan menjadi tontonan yang dipertukarkan dari satu mulut ke mulut lain.
Namun zaman perlahan berubah. Batas antara ruang pribadi dan ruang publik semakin kabur.
Banyak orang merasa perlu membagikan segala hal, termasuk hal-hal yang semestinya disimpan rapat.
Kesedihan dipublikasikan, konflik dipertontonkan, bahkan aib terkadang dipoles menjadi konten agar menarik perhatian.
Fenomena inilah yang sejak lama telah diingatkan melalui istilah “Si Tunging Buyung”.
Tidak hanya menyebut perilaku membuka aib, melainkan juga menggambarkan hilangnya rasa malu dan pudarnya kehormatan diri di hadapan orang lain.
Istilah tersebut dikutip dalam buku Jirim Jisim karya Banta Cut Aspala, Kamaruddin, dan Karmiadi, yang turut merekam berbagai istilah serta nilai sosial dalam budaya Gayo.
Jirim | Jisim












