HARIE.ID | TAKENGON – Di tengah perdebatan panjang mengenai rencana eksplorasi tambang di wilayah Aceh Tengah, bagi Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Marwandi Munthe, sektor kopi dan pertambangan tidak selalu harus ditempatkan sebagai dua kepentingan yang saling bertentangan.
Lewat podcast bersama Harie.id, Marwandi menyoroti pentingnya membangun diversifikasi ekonomi daerah agar Aceh Tengah tidak hanya bergantung pada satu sektor semata.
Menurutnya, apabila dikelola dengan baik dan sesuai aturan, sektor pertambangan dapat menjadi salah satu sumber pendapatan yang mendukung pengembangan sektor-sektor unggulan lainnya, termasuk kopi dan pariwisata.
“Kita tidak ingin daerah ini mengalami kutukan sumber daya. Justru pendapatan dari sektor strategis harus mampu memperkuat sektor yang sudah menjadi identitas daerah, seperti kopi,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah kekhawatiran sebagian masyarakat yang menilai kehadiran tambang dapat mengancam keberlangsungan sektor pertanian, khususnya kopi Gayo yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Aceh Tengah.
Marwandi mengakui, kopi hingga saat ini masih menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian besar masyarakat dataran tinggi Gayo.
Namun ia juga menilai, terdapat tantangan besar dalam upaya meningkatkan kontribusi sektor tersebut terhadap pendapatan daerah.
Menurutnya, sebagian besar lahan kopi dimiliki langsung oleh masyarakat sehingga ruang intervensi pemerintah dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor tersebut relatif terbatas.
“Kopi adalah kekuatan utama kita. Tetapi dari sisi PAD, pemerintah tidak bisa masuk terlalu jauh karena lahan dan hasilnya merupakan milik masyarakat,” katanya.
Kondisi itu, lanjutnya, membuat pemerintah perlu memikirkan sumber-sumber ekonomi lain yang dapat menopang pembangunan daerah tanpa mengabaikan sektor pertanian yang sudah ada.
Lebih dari sekadar soal ekonomi hari ini, Marwandi mengaku memandang persoalan tersebut dari perspektif jangka panjang.
Ia berujar, generasi mendatang perlu dipersiapkan menghadapi perubahan zaman yang semakin kompetitif.
Menurutnya, anak-anak dan cucu masyarakat Gayo tidak boleh hanya memiliki satu pilihan pekerjaan. Mereka harus mendapatkan kesempatan untuk berkembang menjadi pelaku usaha, pengelola perkebunan modern, maupun profesional di berbagai sektor ekonomi.
“Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya memiliki pilihan yang sama seperti hari ini. Mereka harus memiliki peluang yang lebih luas, pendidikan yang lebih baik, dan kesejahteraan yang lebih tinggi,” katanya.
Ia menegaskan, pembangunan ekonomi daerah harus diarahkan pada penciptaan nilai tambah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan berbagai sektor strategis secara beriringan.
Laporan | Karmiadi











