ADVERTISEMENT

Teroroh Akal Dalam Istilah Gayo

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Sadikin Arisko (Foto. Ist)

Opini | Oleh Sadikin Arisko

Dalam istilah bahasa Gayo “teroroh Akal” sebutan untuk orang yang merasa tidak ada lagi yang lebih pintar dan lebih hebat dari dirinya.

Kata tersebut sering terucap di mulut orang tua dan kerap tertuju kepada orang yang punya gelar, jabatan dan pangkat.

BACA JUGA

Kita contohkan ibarat ada seorang yang terhitung masih muda di kalangan para ulama, namun beliau kerap berbicara tentang ilmu agamanya yang lebih tinggi dari yang lain, atau kerap memvonis para ulama lain tidak ber ilmu, bahkan rasa sopan santunnya hilang saat berhadapan dengan para ulama lain.

Contoh prilaku tersebut dalam bahasa Gayo di sebut “Teroroh Akal” padahal dari segi umur seseorang tersebut masih tergolong belum cukup umur untuk katagori di sebut ulama dalam aturan lemba atau organisasi perkumpulan ulama contohnya, di tambah dengan rasa iri hati najis batin dan tidak beradab

Teroroh akal juga rentan terjadi di kalangan pemimpin atau pejabat, bahkan itu bisa terlihat dari cara dia untuk mendapatkan jabatan tersebut dengan cara memaksa dan menghalalkan segala cara. Padahal terkadang ada aturan negara yang sudah di sahkan namun demi jabatan tersebut ia tidak lagi memikirkan dosa, di karenakan ia merasa lebih tau tentang dosa ketimbang siapapun

Seperti kisah para wali Allah di jaman dahulu dalam menyebarkan agama Islam, ada kisah seorang ulama besar yang bernama syeh Siti jenar yang harus di hilangkan dari sejarah penyebar agama Islam akibat ada ajaran yang sesat yang dia anut.

Dalam kisah para wali ada versi sejarah syeh Siti jenar lebih memilih bertarung hingga terbunuh oleh Walisongo ketimbang harus ikut kedalam ajaran Islam yang benar. Hal tersebut bisa di sebut dengan bahasa orang yang sudah “Teroroh Akal”. **

BERITA TERKAIT