ADVERTISEMENT

Di Bendungan PLTA, Haili Yoga Desak Ganti Rugi Lahan Dibuka Terang 

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga saat membahas ganti rugi lahan di bendungan PLTA Peusangan (Foto. Harie)

ACEH TENGAH | HARIE.ID — Bupati Aceh Tengah Haili Yoga meminta polemik ganti rugi lahan pembangunan PLTA Peusangan tidak dibiarkan berlarut.

Ia mendesak pihak perusahaan membuka seluruh ruang penyelesaian agar persoalan yang masih menyisakan keberatan warga tidak berujung menjadi beban pemerintah daerah.

“Harus dibuka ruang. Muaranya ke Bupati dan DPRK. Kami minta buka ruang, jangan ditutup-tutupi,” tegas Haili Yoga saat mengunjungi Bendungan PLTA Peusangan di Kampung Wih Sagi Indah, Kecamatan Silih Nara, Kamis 10 September 2026.

BACA JUGA

Haili meminta seluruh persoalan lahan dipetakan secara terang, termasuk memastikan apakah tuntutan warga sebelumnya telah diselesaikan atau masih menyisakan kewajiban.

Jika masih terdapat ganti rugi yang belum dibayarkan, ia meminta persoalan tersebut dibuktikan dengan dokumen yang jelas.

Menurutnya, sengketa tanah tidak boleh hanya didasarkan pada klaim atau cerita tanpa dasar administrasi.

“Kalau masih ada yang belum dibayar, lengkapi dokumen. Tidak boleh ber ilustrasi, harus ada dokumen terkait sengketa tanah,” ujarnya.

Pembahasan ini diputuskan akan dilakukan Senin 14 September 2026 di Silihnara.

Selain persoalan lahan, Haili juga menyinggung peluang tenaga kerja yang mungkin terbuka seiring beroperasinya PLTA Peusangan.

Ia berharap masyarakat di sekitar lokasi menjadi prioritas apabila perusahaan melakukan perekrutan tenaga kerja.

Haili bahkan berkelakar, pemerintah daerah dapat membicarakan sejumlah nama yang memiliki kompetensi untuk mendapatkan kesempatan bekerja.

“Kalau ada penerimaan karyawan, jangan sudah selesai baru datang ke Bupati. Kita diskusikan dengan DPRK, karena yang diserang kami nanti. Tapi kita utamakan masyarakat sekitar,” katanya.

Menurut dia, peluang tersebut tetap harus berbasis kemampuan. Ia menyebut, jika ada sekitar 10 orang yang direkomendasikan pemerintah daerah, mereka harus benar-benar memiliki keterampilan yang sesuai kebutuhan pekerjaan.

“Untuk 10 orang memo Bupati, tapi bisalah. Skill-nya benar-benar bisa bekerja,” ujarnya.

Haili juga melihat kawasan bendungan PLTA Peusangan memiliki potensi dikembangkan menjadi destinasi wisata baru di Aceh Tengah.

Keberadaan pelaku UMKM yang mulai berjualan di sekitar kawasan tersebut, menurutnya, menjadi salah satu tanda bahwa aktivitas ekonomi masyarakat dapat tumbuh seiring pengembangan kawasan.

“Apalagi sudah ada UMKM yang berjualan. Ini berpotensi menjadi pariwisata baru. Kita ingin dikelola dengan baik,” kata Haili.

Ia berharap pengembangan kawasan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur pembangkit listrik, tetapi juga memberi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi.

Terkait peresmian PLTA Peusangan, Haili berharap proyek tersebut dapat diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama sejumlah menteri.

Menurutnya, pembangunan PLTA Peusangan merupakan proyek besar yang prosesnya telah berlangsung selama puluhan tahun.

“Proyek ini lahirnya sudah lama. Ini proyek besar. Dulu mungkin disebut ini selesai di masa Haili Yoga. Tiga puluh satu tahun lalu dan proyek yang cukup lama. Kita harap peresmian berlangsung Oktober atau November,” ujarnya.

Haili menilai keberadaan PLTA Peusangan menjadi momen penting bagi Aceh Tengah, terutama dalam memperkuat kemandirian energi.

Ia menyebut PLTA tersebut sebagai salah satu aset strategis yang harus dijaga bersama karena manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh daerah, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan listrik di Aceh.

“Ini satu-satunya di Aceh, sehingga Aceh Tengah tidak lagi tergantung ke Medan. Anugerah ini harus kita jaga bersama,” pungkas Haili Yoga didampingi Wabup Muchsin Hasan dan General Manager, Irsyad Ardhi.

Laporan | Karmiadi 

BERITA TERKAIT