Channel Youtube Harie.id PodcastTonton

Pansus DPRK Aceh Tengah Ungkap 10 Temuan Strategis Bencana

Arinos
Juru bicara Pansus DPRK Aceh Tengah, Saiful MS Amirullah saat menyerahkan rekomendasi Pansus bencana hidrometeorologi kepasa Ketua DPRK, Fitriana Mugie (Foto. Harie)

HARIE.ID | TAKENGON — Panitia Khusus (Pansus) Penanganan Bencana Hidrometeorologi DPRK Aceh Tengah memaparkan 10 temuan strategis hasil penelitian bencana November 2025.

Temuan tersebut menyoroti persoalan kerusakan infrastruktur, isolasi wilayah, pemulihan ekonomi korban, validitas data, hingga pentingnya sistem peringatan dini di tingkat kampung.

Laporan itu disampaikan juru bicara Pansus, Saiful MS Amirullah, dalam Rapat Paripurna Penyampaian Laporan Hasil Penelitian Pansus Penanganan Bencana Hidrometeorologi di ruang sidang DPRK, Senin 12 Oktober 2026.

Dalam pemaparannya, Saiful menjelaskan, bencana akhir November 2025 lalu berdampak lintas kecamatan dan lintas sektor. Tingkat kerusakan berkembang seiring pelaksanaan pendataan dan verifikasi lanjutan.

Pansus menempatkan akses jalan dan jembatan sebagai titik kritis dalam penanganan darurat. Terputusnya akses, menurut temuan tersebut, dapat memperluas dampak kemanusiaan sekaligus menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.

Selain penanganan infrastruktur, Pansus menekankan tentang pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah warga. Pemulihan harus mencakup mata pencaharian agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas ekonomi.

Pansus juga menyoroti perlunya penyatuan data korban dan kerusakan dalam satu basis data. 

“Langkah ini untuk mendukung perencanaan, penyaluran bantuan, dan pelaksanaan program pemulihan secara lebih terarah,” kata Saiful.

Dari sisi pembangunan lanjut nya, pemulihan infrastruktur perlu menggunakan standar ketahanan bencana. Sementara itu, sistem peringatan dini harus menjangkau hingga tingkat kampung agar masyarakat memiliki waktu dan informasi yang memadai untuk melakukan langkah penyelamatan.

Temuan lainnya menekankan pengelolaan risiko bencana berbasis daerah aliran sungai (DAS) dan kawasan, bukan hanya berfokus pada titik kejadian. Pendekatan tersebut diperlukan untuk melihat risiko secara lebih menyeluruh.

Pansus turut mencatat bencana susulan pada 2026 sebagai penanda perlunya perubahan pendekatan penanganan, dari pola yang berfokus pada respons setelah kejadian menuju upaya preventif dan berbasis risiko.

Berikut 10 temuan strategis Pansus:

1. Bencana November 2025 berdampak lintas kecamatan dan lintas sektor.
2. Kerusakan berkembang setelah pendataan dan verifikasi lanjutan dilakukan.
3. Akses jalan dan jembatan menjadi titik kritis dalam penanganan darurat.
4. Isolasi wilayah berpotensi memperbesar dampak kemanusiaan dan ekonomi.
5. Pemulihan rumah harus disertai pemulihan mata pencaharian masyarakat.
6. Data korban dan kerusakan perlu disatukan dalam satu basis data.
7. Pemulihan infrastruktur harus menerapkan standar ketahanan bencana.
8. Sistem peringatan dini harus menjangkau hingga tingkat kampung.
9. Pengelolaan risiko perlu berbasis DAS dan kawasan, bukan hanya titik kejadian.
10. Bencana susulan pada 2026 menunjukkan perlunya peralihan dari pola responsif menuju pendekatan preventif dan berbasis risiko.

Rapat paripurna tersebut dipimpin Ketua DPRK Aceh Tengah, Fitriana Mugie, didampingi Wakil Ketua Susilawati, serta dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Aceh Tengah, Alam Syuhada.

Laporan | Karmiadi

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

Podcast Harie.id

GAGAL NYALEG MALAH JADI MILIARDER! Perjalanan Bisnis Syukran Kopi Gayo Wine hingga Tembus Dubai
GAGAL NYALEG MALAH JADI MILIARDER! Perjalanan Bisnis Syukran Kopi Gayo Wine hingga Tembus Dubai