*Oleh Tgk. Ridwan Bintang
Menutup jalan umum saat hajatan kian marak. Bagaimana pandangan Islam soal hak publik dan etika sosial? Simak refleksi lengkapnya di sini.
Dalam khazanah ajaran Islam, kebaikan tidak selalu hadir dalam rupa yang besar dan gemerlap.
Terkadang, justru bersemayam dalam tindakan sederhana yang lahir dari hati yang tulus.
Rasulullah ﷺ pernah mengisahkan tentang seorang lelaki yang menemukan sebatang dahan berduri di tengah jalan. Tanpa banyak pertimbangan, ia menyingkirkannya.
Bukan untuk dipuji, bukan pula untuk dilihat orang, melainkan semata karena ia tak ingin orang lain terluka. Atas amal kecil itulah, Allah menganugerahkan balasan besar, ampunan dan surga.
Kisah ini bukan sekadar cerita moral, melainkan fondasi etika sosial dalam Islam. Menjadi manusia yang bermanfaat tidak selalu membutuhkan panggung, cukup dengan menghadirkan kemudahan bagi sesama. Bahkan, menyingkirkan gangguan dari jalan dipandang sebagai bagian dari iman.
Sebaliknya, Islam juga memberi peringatan tegas, setiap tindakan yang menyulitkan orang lain, apalagi merugikan kepentingan umum, adalah bentuk kezaliman.
Dalam prinsip yang sangat mendasar, Rasulullah ﷺ menegaskan, tidak boleh ada tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Di sinilah relevansi ajaran itu terasa kuat dalam kehidupan hari ini.
Fenomena penutupan jalan umum untuk kepentingan pribadi, seperti pesta, hajatan, atau perayaan keluarga kian sering dijumpai.
Jalan yang seharusnya menjadi ruang bersama berubah menjadi ruang privat, meski hanya sementara. Namun dampaknya tidak pernah sederhana.
Ada yang terpaksa memutar arah, kehilangan waktu, bahkan mungkin kehilangan kesempatan penting.
Lebih dari itu, dalam situasi darurat, hambatan di jalan bisa berarti risiko yang jauh lebih serius.
Pernikahan adalah ibadah. Kenduri adalah tradisi yang sarat nilai kebersamaan. Menjamu tamu adalah amal yang dianjurkan. Namun semua itu tidak boleh berdiri di atas ketidaknyamanan orang lain.
Kebahagiaan yang sejati tidak lahir dari menghalangi, melainkan dari berbagi kemudahan. Dalam perspektif moral Islam, kezaliman tidak selalu berbentuk kekerasan atau perampasan.
Ia juga hadir dalam bentuk yang halus, menyulitkan orang lain tanpa alasan yang dibenarkan.
Di titik ini, kita dihadapkan pada pilihan sederhana namun menentukan, menjadi orang yang membuka jalan, atau justru menutupnya.
Sebab bisa jadi, jalan menuju surga tidak selalu dimulai dari amal besar yang terlihat, tetapi dari sikap kecil yang memberi manfaat, memudahkan langkah orang lain, menjaga hak bersama, dan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.
Maka, ketika kita merencanakan kebahagiaan, pastikan ia tidak menjadi sebab kesulitan bagi yang lain. Karena keberkahan tidak pernah tumbuh dari ketidakadilan.
Bukalah jalan, secara harfiah dan maknawi. Di sanalah, mungkin, terbentang jalan menuju surga.
والله أعلم بالصواب
Penulis adalah Komisioner Majelis Permusyawaratan Ulama Kabupaten Aceh Tengah



![[Demo] Suara Keadilan atau Pintu Kerusakan? Menimbangnya dengan Neraca Syariat](https://harie.id/wp-content/uploads/2026/04/Tgk-Ridwan-360x180.jpg)








