HARIE.ID | TAKENGON – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian berujar, wilayah Aceh Tengah penting dilakukan penguatan ketahanan logistik.
Hal itu ia katakan saat melakukan kunjungan kerja ke Takengon, Senin 20 April 2026 lalu.
Hal tersebut ia katakan menyusul pengalaman bencana yang terjadi pada 26 November 2025 lalu yang dinilai membuka celah serius dalam kesiapsiagaan daerah.
Dalam keterangannya, Tito mengungkap, bencana tersebut menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat.
Ia menyebut, selama ini belum pernah terjadi peristiwa dengan dampak sebesar itu di wilayah pegunungan.
“Dari cerita masyarakat, bahkan para orang tua di sini, belum pernah terjadi bencana sebesar ini. Tentu menjadi pengalaman penting bagi kita semua,” ujarnya.
Lanjutnya lagi, saat itu dampak bencana mulai terasa signifikan memasuki hari ketiga, ketika distribusi logistik terganggu.
Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), beras, serta kebutuhan pokok lainnya mulai menipis, sehingga masyarakat mengalami kesulitan.
Melihat kondisi tersebut, Tito meminta Perum Bulog untuk mengambil langkah strategis, khususnya dalam memastikan ketersediaan stok pangan di wilayah pegunungan seperti Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
Ia menekankan agar cadangan beras di wilayah tersebut harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setidaknya selama tiga bulan.
“Di kawasan ini, gudang terbesar memang berada di Takengon. Karena itu saya minta stok beras minimal tersedia untuk tiga bulan ke depan,” tegasnya.
Menurut Tito, langkah ini bukan berarti mengharapkan bencana serupa terulang, melainkan sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan terburuk.
Ia menyoroti kondisi geografis wilayah Gayo yang rawan terisolasi ketika terjadi longsor atau kerusakan infrastruktur.
“Kalau jalan longsor atau jembatan putus, akses bisa terputus total dan harus mengandalkan jalur udara. Kalau stok logistik cukup, masyarakat tidak akan terlalu terdampak karena kebutuhan dasar masih tersedia,” jelasnya.
Instruksi tersebut, lanjut Tito, telah disampaikan langsung kepada Bulog agar mampu menyiapkan cadangan logistik dalam berbagai skenario darurat, khususnya di daerah pegunungan yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana.
“Kita harap dapat memperkuat ketahanan pangan, serta perlindungan bagi masyarakat saat menghadapi situasi krisis,” pungkasnya.
Laporan | Karmiadi












