HARIE.ID | TAKENGON – Anggota DPRK Aceh Tengah, Fauzan, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo seluas 30 hektare di Kampung Berawang Baro, Kecamatan Pegasing.
Menurutnya, program tersebut menjadi langkah strategis untuk menjaga kualitas Kopi Gayo sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan di kawasan hulu DAS Meureubo.
Pernyataan itu disampaikan Fauzan usai kegiatan Diseminasi dan Pembangunan Jejaring Pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo yang dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Aceh Tengah, Drs. Mursyid, M.Si, di Aula Gedung Haji dan Umrah Paya Ilang, Takengon, Sabtu 26 Juni 2026.
Fauzan menilai keberadaan kebun induk akan menjadi fondasi penting dalam penyediaan benih kopi Arabika Gayo yang unggul, bersertifikat, dan mampu menjaga produktivitas perkebunan kopi di masa mendatang.
“Program ini bukan hanya berbicara tentang penyediaan benih unggul, tetapi juga investasi jangka panjang bagi keberlanjutan kopi Gayo, kesejahteraan petani, dan pelestarian lingkungan. Kami tentu mendukung langkah-langkah yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Fauzan.
Ia menegaskan, Kopi Gayo merupakan komoditas utama yang menjadi penopang ekonomi masyarakat Aceh Tengah. Karena itu, upaya menjaga kualitas tanaman melalui kebun induk dinilai sangat penting agar daya saing Kopi Gayo tetap terjaga di pasar nasional maupun internasional.
Selain aspek ekonomi, Fauzan juga mengapresiasi konsep pembangunan kebun induk yang mengedepankan konservasi kawasan hulu DAS Meureubo.
Menurutnya, keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pengembangan sektor pertanian menjadi kunci pembangunan berkelanjutan di Aceh Tengah.
“Dua kepentingan ini harus berjalan beriringan. Ketika kawasan hulu tetap terjaga, keberlangsungan produksi kopi juga akan semakin kuat. Inilah yang harus menjadi komitmen bersama,” ujarnya.
Sebelum nya, Sekda Aceh Tengah, Mursyid mengatakan, pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo tidak hanya bertujuan menyediakan sumber benih unggul bersertifikat, tetapi juga menjadi model pengelolaan kawasan berbasis konservasi, rehabilitasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, koperasi, kelompok tani, dunia usaha hingga lembaga pendamping dapat membangun sinergi agar program tersebut dapat terealisasi.
Kegiatan yang digagas LSM LIPGA Aceh Tengah itu merupakan rangkaian keenam dari tujuh tahapan program penguatan pengelolaan kawasan hulu DAS Meureubo.
Acara ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama penyelamatan kawasan hulu DAS Meureubo dan keberlanjutan Kopi Arabika Gayo, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel mengenai sejarah dan masa depan Kopi Gayo.
Laporan | Karmiadi
![[Demo] Suara Keadilan atau Pintu Kerusakan? Menimbangnya dengan Neraca Syariat](https://harie.id/wp-content/uploads/2026/04/Tgk-Ridwan-360x180.jpg)










![[Demo] Suara Keadilan atau Pintu Kerusakan? Menimbangnya dengan Neraca Syariat](https://harie.id/wp-content/uploads/2026/04/Tgk-Ridwan-350x250.jpg)