ADVERTISEMENT

Merawat Aroma Kopi Arabika Gayo di Riuh Pasar Digital

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Iwan Aramiko sedang melakukan live streaming menjual produk kopi arabika Gayo (Foto. Mahyadi)

TAKENGON | HARIE.ID  — Pencahayaan dari lampu penerang tambahan menyorot tepat ke arah wajah seorang pria muda, Iwan Aramiko (35). Pantulan cahaya itu memperjelas setiap gestur dan mimiknya di depan kamera.

Sorot matanya fokus menatap lensa, seolah sedang berhadapan langsung dengan para pembeli di dunia nyata. Di depannya ada sebuah meja tempat menaruh beberapa jenis biji kopi yang telah dibungkus dalam kemasan.

Senyum ramah terus mengembang dibarengi dengan ritme bicara yang lebih cepat. Namun Iwan Aramiko tetap menjaga tempo komunikasinya untuk memberikan kesan hangat, menyapa para calon pembeli.

BACA JUGA

Pria berperawakan sedang dan berjenggot itu tampak asyik berdialog sendiri di depan kamera. Raungan suara grinder (mesin penggiling biji kopi menjadi bubuk-red) seakan membentuk backsound yang menghiasi suasana live streamingnya.

Sesekali terdengar suara “ting” dari lonceng kecil (call bell) yang sengaja ditekan saat ia melakukan siaran langsung. “Disini tersedia kopi arabika maupun robusta. Mau rasa yang pahit, atau asam tersedia di Toko Kopi Gayo,” sepenggal kalimat yang biasa diucapkan Iwan saat live streaming.

Ketika ditemui Harie.id, Senin (24/8/2026) Iwan Aramiko sedang melakukan siaran langsung menjajakan produk kopinya di dunia maya. Namun konsentrasinya sedikit terbuyarkan saat menyadari kedatangan wartawan di tokonya.

“Apa kabar bang. Ngopi dulu kita ya, nanti baru cerita. Tolong buatkan kopi sanger dua cup,” sapa Iwan sembari meminta karyawannya untuk membuatkan sajian minuman kopi arabika yang dicampur dengan susu kental manis.

Di antara semerbak kopi yang merayap di setiap sudut ruangan, beberapa orang terlihat sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang menjadi host live streaming, meroasting kopi, mengemasi paket, dan ada juga yang sedang sibuk menggrinder biji kopi.

Begitulah suasana siang itu di Toko Kopi Gayo yang berada di kawasan Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah. Di dalam toko terpajang dua unit mesin roasting, beberapa grinder, mesin coffee maker serta peralatan pendukung lainnya.

Toko itu menjual beragam jenis kopi arabika gayo. Produknya  mayoritas dijual secara online dengan memanfaatkan ruang digital sebagai lapak berjualan seperti platform media sosial, tiktok, istagram, facebook dan e-commerce, shopee.

Iwan Aramiko adalah owner dari toko itu. Usaha penjualan kopi sudah digelutinya selama 14 tahun terakhir. Dimulai sekitar tahun 2012, dengan modal awal hanya sekitar Rp700 ribu.

Kini, Iwan sapaan akrab Iwan Aramiko, sukses mengembangkan usahanya berkat bermain di ruang digital. “Awalnya sih modal kecil. Tapi karena konsisten, alhamdullilah bisa berkembang seperti sekarang ini,” tutur Iwan.

Iwan menggeluti usaha penjualan kopi dimulai sejak masih berstatus sebagai  mahasiswa. “Jadi pas kuliah dulu, ada kegiatan seperti pertukaran pelajar ke negara lain. Waktu itu kami harus membawa produk lokal dari Aceh. Nah, terpikirlah untuk membawa kopi,” sebut Iwan.

Kopi yang dibawanya ketika mengikuti pertukaran pelajar di negeri jiran Malaysia adalah jenis kopi robusta. Biji kopi yang dibawa laku terjual dengan harga 5 ringgit per 100 gram. “Kalau di rupiahkan sekitar  Rp 15 ribu. Saya bawa beberapa bungkus dan semua laku terjual,” kenangnya.

Sejak saat itu, Iwan mengaku kecanduan jualan kopi, dan akhirnya menjadi pemasok green bean kopi arabika gayo ke beberapa kopi shop di Kota Banda Aceh. Lama-kelamaan, Iwan semakin betah berjualan biji kopi jenis robusta maupun arabika hingga akhirnya beralih ke ruang digital.

Merambah ke ruang digital, awalnya Iwan diajak oleh salah seorang sales toko online untuk berjualan di Tokopedia. “Sejak saat itu, saya jualan di Tokopedia, Bukalapak, Lazada dan Blibli.com. Tapi sekarang kita hanya fokus di dua plaform aja yaitu Tiktok dan Shopee,” jelas Iwan.

Beberapa kotak kemasan pesanan kopi arabika Gayo yang akan dikirim ke konsumen di sejumlah daerah (Foto. Mahyadi)

Seiring berjalannya waktu, usaha yang dirintis oleh Iwan Aramiko menunjukan kemajuan yang signifikan. Diawali dari kerja sendiri, kini ayah dari tiga orang putra itu menjadi penyedia lapangan kerja. Ada lima karyawan yang direkrutnya untuk mengisi posisi host dan bagian packaging.

Sejak aktif berjualan secara online, orderan kopinya terus meningkat sehingga Iwan Aramiko tak mampu menangani sendiri. Meski dibantu sejumlah karyawan, Iwan tetap terjun langsung mengurusi bisnisnya, bahkan masih menjadi host siaran langsung bergantian dengan karyawan lainnya.

Kemajuan teknologi informasi, membuat Iwan  mampu survive di tengah ketatnya persaingan. Bahkan usahanya semakin berkembang dan pasarnya pun semakin luas.

“Pasar kita hanya di dalam negeri atau domestik. Tapi setiap hari selalu ada aja pesanan, terkecuali hari minggu karena kita libur. Untuk jumlah orderan perharinya lumayan banyak kalau dibandingkan dengan jualan secara konvensional,” imbuhnya.

Iwan telah melewati beberapa fase jatuh bangun. Rugi hingga puluhan juta rupiah juga sudah pernah dialaminya. Bahkan ketika terjadi bencana hidrometeorologi pada November 2025 lalu, usahanya sempat tutup selama satu bulan lebih.

“Usaha saya ini nyawanya ada tiga. Pertama akses jalan, energi listrik, dan jaringan internet. Kalau semua itu terputus, dipastikan tak jualan. Contoh, pas bencana lalu, selama 40 hari kami nggak bisa jualan. Tapi sekarang, alhamdulillah sudah kembali normal,” akunya.

Tempat usaha yang dibangun oleh Iwan Aramiko lokasinya berada di pinggiran Kota Takengon. Konsep usaha yang dibangun berbasis digital sehingga tidak harus berada di lokasi strategis seperti di pasar atau di area pusat perbelanjaan.

“Tempat tidak terlalu berpengaruh karena segmen kita orang dari luar daerah. Terpenting ada jaringan internet dan listrik. Kalau di Toko Kopi Gayo, pagi dipesan sorenya langsung kami kirim ke lokasi pemesan menggunakan jasa pengiriman,” pungkasnya.

Iwan Aramiko merupakan sosok kreatif yang jeli melihat peluang dari perkembangan teknologi informasi. Bisa dikatakan, dia adalah salah satu pelopor dan teladan dalam pemanfaatan ruang digital sebagai sarana untuk mengembangkan usaha.

Tak jarang pula, Iwan Aramiko diundang oleh sejumlah lembaga dan instansi pemerintah untuk memberikan motivasi kepada para pelaku UMKM serta pebisnis muda terkait dengan kiat-kiat pemanfaatan ruang digital.

Sukses Jadi Pengusaha Kopi Wine Diawali dari Rasa Kecewa

Serupa tapi tak sama. Jika Iwan Muthe berhasil mengembangkan usahanya melalui ruang digital. Berbeda cerita dengan Syukran.

Syukran menunjukan produksi kopi wine miliknya (Foto. Mahyadi)

Pria berambut keriting mekar ala afro style ini sukses menjadi pengusaha kopi permentasi.  Bermula dari rasa kecewa karena pernah gagal maju dalam pemilihan legislatif beberapa tahun lalu.

Nasib seseorang tak ada yang tahu. Rasa kecewa, sakit hati, atau kegagalan hidup sering kali menjadi titik balik yang paling kuat. Itulah yang dialami Syukran.

Pengusaha yang bergerak di bidang perdagangan kopi ini menetap di Kampung Umang, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah. Ia merupakan salah satu pengusaha muda yang sukses di bidang jual beli komoditas kopi, khususnya kopi wine (kopi permentasi-red).

“Saya lahir bukan dari orang berpunya. Tapi saya bercita-cita ingin menjadi orang kaya, seperti pengusaha-pengusaha kopi lainya,” kata Syukran saat ditemui di kediamanya, Sabtu (23/8/2026).

Meski kini Syukran telah masuk dalam jajaran pengusaha kopi yang sukses di Kabupaten Aceh Tengah  tapi penampilannya tetap sederhana. Tak tampak aura kemewahan melekat pada dirinya.

Kemana-mana, Syukran masih mengenakan celana pendek, baju kaos, serta sandal jepit karet. Jauh dari kata hedon meskipun sekarang ia telah mengantongi aset yang jumlahnya diperkirakan mencapai miliaran.

“Usaha ini saya bangun bermula dari rasa kecewa. Sebab dulu setelah tamat kuliah, saya sempat mencalonkan diri jadi Caleg. Tapi gagal. Kegagalan itu, membuat saya kecewa berat,” kenang mantan aktivis mahasiswa ini.

Sosok yang pernah menjabat Ketua HMI Aceh Tengah itu sebelumnnya memang dikenal sebagai seorang aktivis vokal yang kerab melakukan aksi unjuk rasa ketika ada kebijakan pemerintah yang dianggap keliru dan tidak pro rakyat pada waktu itu.

“Orang tahu kalau saya aktivis, jadi banyak teman dan kolega yang meminta agar saya mencalonkan diri jadi Caleg. Modal habis 50 juta, suara pemilih tak sampai target,” kesalnya.

Kekalahan itu membuatnya “bertapa” selama enam bulan sambil merenungi nasib di tanah kelahirannya di Kampung Bintang, Kecamatan Bintang. Orang-orang yang dulu, memaksanya maju menjadi Caleg  satu persatu menghilang.

Dalam kesendiriannya selama berbulan-bulan meratapi nasib, alumni Universitas Gajah Putih  (UGP) Takengon ini seakan menyesali keputusannya pernah maju menjadi bagian dari pesta demokrasi karena termakan rayuan konstituen yang tidak setia.

“Ceritanya sedih, waktu  itu selesai nyaleg untuk membeli rokok saja saya sudah nggak punya uang. Padahal harga rokoknya cuma Rp 7 ribu sebungkus,” katanya.

Dalam rentang waktu enam bulan, ditengah rasa kecewa yang terus menggelayuti hatinya, terlintas di pikiran Syukran untuk membuka usaha kecil-kecilan penyambung hidup. “Jadi saya putuskan untuk hijrah mengikuti orang tua yang sudah lebih dulu pindah ke Kota Takengon,” tutur Syukran.

Usaha pertama yang digeluti oleh Syukran yaitu menjadi pedagang pengumpul buah tomat. Usaha itu dibangun atas saran kedua orang tuanya yang memang memiliki latar belakang sebagai pedagang sayur.

Ia mengumpulkan buah tomat dari beberapa desa untuk dijual kepada para pedagang pengecer di kawasan Pasar Paya Ilang di Kota Takengon.

Hanya bermodalkan kepercayaan dari petani, perlahan Syukran mulai merintis usahanya sebagai toke tomat. “Barang saya ambil dulu. Sorenya setelah pedagang eceran membayar, baru saya lunasi ke petani. Saat itu, harga tomat sangat murah hanya Rp 500 rupiah sekilonya,” sambung Syukran.

Seiring berjalan waktu, jumlah permintaan tomat semakin banyak sementara modal usaha terbatas. Alhasil Syukran mengambil keputusan ekstrem. Dia nekat menjaminkan rumah milik orang tuanya ke salah satu Bank untuk mendapat tambahan modal.

Syukran sedang menjemur kopi wine miliknya (Foto. Mahyadi)

 

Dengan jaminan sertifikat rumah, akhirnya Bank mencairkan dana pinjaman sebesar Rp 50 juta. Uang tersebut, digunakan Syukran untuk membeli satu unit mobil pick up guna mempermudah pengangkutan buah tomat.

“Ada tiga tahun saya jualan tomat. Bangun pagi cepat, kadang-kadang harus tidur diatas tong sayur. Alhamdulillah dari usaha itu lumayan juga untungnya karena semua kebutuhan tomat di Pasar Paya Ilang, saya yang pasok,” kata Syukran.

Syukran yang sejak awal bercita-cita ingin menjadi orang kaya, mulai berpikir untuk hijrah jenis ke usaha lain tetapi masih di seputaran usaha perdagangan. Tapi ia tak serta merta berpindah haluan dari pedagang tomat menjadi toke kopi.

Memasuki tahun 2018, Syukran melakukan semacam riset kecil-kecilan untuk mengetahui sumber penghasilan beberapa orang terkaya di Kota Takengon. Rata-rata sumber harta para orang kaya itu berasal dari usaha di bidang penjualan kopi arabika gayo.

Hasil riset itu menjadi inspirasi bagi Syukran. Tidak berhenti sampai disitu, Syukran juga meneliti jenis kopi dengan harga jual tertinggi di pasaran. Ternyata, kopi termahal ada dua jenis yaitu kopi luwak (kotoran musang) dan kopi wine.

“Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba usaha kopi wine. Dengan modal awal kurang dari Rp 20 juta, saya coba membuat kopi wine pertama sebanyak sepuluh kaleng. Saya belajar dari Bang Ilham dan Bang Iko Jenggot sebagai tutor. Tapi tiga kali gagal,” sebut Syukran.

Syukran tak lantas menyerah. Belajar dari kegagalan tersebut, pria dengan tinggi badan sekitar 150 centimeter ini melakukan eksperimen sendiri dengan mengganti media permentasi menggunakan plastik yang sebelumnya hanya memakai tenda.

“Untuk membuat kopi wine ini, buah merah dibungkus dalam plastik dan dibiarkan selama beberapa Minggu. Setelah itu baru digiling dan dijemur sampai kering. Bahan bakunya juga harus dipilih, dan wajib berasal dari daerah dengan ketinggian 1.400 MDPL ke atas,” jelas Syukran.

Usahanya berhasil. Kopi permentasi milik Syukran justru langsung memenangkan lelang kopi yang diikuti para buyer dari dalam negeri serta sebagian lagi dari mancanegara.

Kopi hasil permentasinya laku terjual dengan harga tertinggi mencapai Rp 380 ribu perkilo yang dibeli langsung oleh buyer dari Kanada. Harga tersebut, dua kali lipat lebih tinggi dari kopi green bean biasa.

Meski pernah memenangkan proses lelang, di awal usahanya  Syukran sempat tertatih-tatih memasarkan produknya dan hanya menyasar pasar lokal di seputaran Kota Takengon. Namun memasuki tahun 2020, kopi permentasi merk “Syukran Kopi Wine” mulai melanglang buana.

Dari puluhan ton kopi wine yang berhasil di produksi, 50 persen pasarnya  untuk kebutuhan dalam negeri. Sebagian lagi, di ekspor ke kawasan Timur Tengah mulai dari Kuwait, Jeddah dan  Dubai. “Baru-baru ini, saya ekspor ke Dubai sebanyak 19,2 ton kopi wine,” jelasnya.

Kopi wine perkilonya dihargai Rp 200 ribu, lebih mahal dari jenis kopi semi wash yang harganya berkisar Rp 140 ribu perkilogram. Itu artinya, nilai ekspor kopi wine milik Syukran yang dikirim ke Dubai nominalnya mencapai Rp 3,8 miliar lebih.

Ngamen dari Cafe ke Cafe Tawarkan Kopi Wine

Di beberapa daerah, jenis kopi permentasi belum cukup dikenal. Bahkan rasanya masih asing di lidah sebagian penikmat biji hitam itu. Kopi wine ini, tastenya cenderung serupa dengan minuman wine yang biasa dikenal mengandung alkohol.

Meski memiliki rasa yang sama dengan wine, kopi permentasi ini tidak mengandung alkohol. Hal itu berdasarkan dari hasil beberapa kali penelitian yang dilakukan oleh para ahli. “Kopi wine ini hanya nama. Tidak sama dengan wine yang bahan bakunya anggur. Tujuan penamaan wine agar lebih cepat dikenal oleh masyarakat,” imbuh Syukran.

Pria kelahiran 10 Juli 1988 ini, mengaku sudah hampir 70 persen wilayah Indonesia pernah ia jajaki hanya untuk ngamen menawarkan produk kopi winenya.

“Maksud ngamen, bukan nyanyi bang. Tapi menawarkan produk kopi wine ke cafe-cafe mulai dari Sumatera hingga ke Pulau Jawa.  Alhamdulillah responnya positif. Bahkan pasar saya sekarang 50 persenyan untuk kebutuhan domestik, sisanya ke Timur Tengah,” lanjutnya.

Selain terjun langsung menawarkan produk kopi winenya, Syukran juga mulai memanfaatkan platform media sosial, meskipun belum begitu masksimal karena keterbatasan (SDM).

“Saya tu agak gaptek bang. Tapi memang ruang digital itu, sangat membantu sekali untuk proses pemasaran. Ini sedang kita rancang mengembangkan usaha lewat toko online. Salah satunya di shopee yang sekarang sedang kami garap,” sebutnya.

Syukran pemuda kelahiran Kampung Bintang, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah ini merupakan salah satu contoh sosok yang sebelumnya terpuruk tapi akhirnya mampu bangkit karena kegigihannya.

Dari seorang aktivis dan pernah manggung di dunia politik,  berubah 180 derajat menjadi pelaku UMKM yang tergolong sukses. Diawali dari berjualan buah tomat dan akhirnya bangkit menjadi pengusaha kopi wine. Tentu semua tak mudah, Syukran tak luput dari berbagai cobaan dalam mengembangkan usahanya.

Walau kini terbilang sukses, Ayah tiga orang anak ini tetap mempertahankan pola hidup sederhana. Kediamanya, hanya berkontruksi papan. Ukurannya tidak terlalu luas. Bahkan  di dalam rumahnya, nyaris tak tampak barang-barang mewah.

Namanya semakin di kenal di kalangan para petani, pedagang serta masyarakat luas. Bahkan beberapa pekan lalu, mantan Calon Presiden RI, Anies Baswedan menyambangi langsung kediaman Syukran di Kampung Umang.

Syukran berpesan, agar para pemuda harus berani berdagang atau menjadi toke kopi dan tidak terpaku harus dengan pekerjaan kantoran. “Jadi toke kopi, kita terancam kaya.  Ayo anak muda jangan takut berusaha,” ajaknya.

Pelaku UMKM Dilatih Penguasaan Teknologi Digital

Untuk memperluas jangkauan pasar dan menaikan kelas bisnis para pelaku UMKM, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah berkolaborasi dengan Balai Besar Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penelitian (BBLSDM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkodigi) Republik  Indonesia.

Kerjasama tersebut, berkaitan dengan program percepatan pengembangan talenta digital yang menyasar para pelaku UMKM, pebisnis pemula serta Aparatur Sipil Negara (ASN).  Program tersebut, didukung penuh oleh Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si.

Dalam pertemuan dengan pihak BBLSDM beberapa waktu lalu, Haili Yoga  menegaskan bahwa penguasaan teknologi digital mutlak diperlukan agar potensi daerah dapat dikelola secara optimal.

“Kami berharap talenta digital di Kabupaten Aceh Tengah terus ditingkatkan secara konsisten. Efek domino yang kita kejar adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui digitalisasi usaha, sekaligus peningkatan kualitas SDM pemerintah daerah dalam melayani publik,” ujar Haili Yoga.

Orang nomor satu di daerah penghasil kopi arabika ini menambahkan bahwa kolaborasi visioner seperti ini harus terus dikembangkan secara dinamis untuk menjawab kebutuhan serta menangkap peluang besar di era perkembangan zaman.

Program pengembangan kompetensi digital ini langsung diimplementasikan melalui pelatihan intensif. Saat ini, sebanyak 50 pelaku UMKM dan pebisnis pemula yang telah lolos seleksi dan mengikuti pelatihan pemasaran digital dasar dan pemasaran digital dasar berbasis Kecerdasan Buatan (AI).

Bupati Haili Yoga berharap sinergi yang kuat menjadi fondasi kokoh untuk mentransformasikan Kabupaten Aceh Tengah menjadi daerah yang cakap digital, inovatif, dan berdaya saing tinggi, terutama bagi para pelaku UMKM sehingga pertumbuhan ekonomi semakin baik.

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Kabupaten Aceh Tengah, jumlah UMKM di daerah itu tercatat sebanyak 5.382 yang tersebar di 14 kecamatan. Jenis usaha yang dikembangkan beragam, termasuk di dalamnya ada ratusan UMKM yang bergerak di sektor penjualan komoditas kopi.

Grafik pelatihan digitalisasi UMKM di Kabupaten Aceh Tengah (Foto. Ist)

Produksi dan Pasar Kopi Arabika di Aceh Tengah

Sisa hujan semalam meninggalkan bulir-bulir embun yang berkilau di atas helai daun kopi Arabika Gayo. Kabut tipis masih mengendap diantara celah perbukitan. Seiring meningginya matahari, kabut pagi menguap seakan menyingkap selimut yang menutupi hamparan  hijau kebun kopi.

Begitulah kondisi landscape Kabupaten Aceh Tengah. Daerah yang berada di Dataran Tinggi Gayo (DTG) ini adalah jantung utama produksi kopi Arabika di Tanah Rencong (sebutan untuk Aceh-red).

Dua orang anak petani sedang berada di area pembibitan kopi arabika Gayo (Foto. Mahyadi)

Aceh Tengah berada di dataran tinggi dan menjadi bagian dari kawasan Bukit Barisan yang dikelilingi oleh gunung berapi. Kondisi vulkanik ini membuat tanah di daerah tersebut kaya akan unsur hara dan sangat subur untuk tanaman kopi, khususnya jenis kopi arabika gayo.

Selain itu, Aceh Tengah di anugerahi pesona alam yang indah. Potensinya bukan hanya komoditas kopi, tetapi menjadi kawasan destinasi wisata di daerah berjuluk Serambi Mekkah itu.

Pusat Kotanya, bernama Kota Takengon. Di bagian timur kota, terbentang sebuah telaga yang dipagari perbukitan dikenal dengan Danau Lut Tawar.  Sebagian kalangan menyebut, Kota Takengon seperti sekeping tanah surga yang jatuh ke bumi.

Alamnya yang memesona melahirkan biji biji kopi yang berkualitas. Kopi Arabika Gayo merupakan produk istimewa karena ditanam di daerah dengan ketinggian  antara 1.200 hingga 1.700 MDPL.

Biji kopi berkembang perlahan dan menghasilkan rasa yang lebih kompleks. kopi arabika gayo bukan hanya enak, tetapi membawa cerita dan tradisi dari tempatnya berasal.

Karakter kopi arabika gayo, cenderung memiliki rasa yang lembut, aroma yang kuat, keasaman seimbang, dan memiliki rasa coklat, rempah serta buah. Karakter rasa yang unik ini membuat kopi arabika gayo menjadi istimewa.

Bahkan masuk dalam jajaran kopi terbaik dunia versi TasteAtlas sebuah ensiklopedia kuliner digital dan panduan perjalanan global yang mendata makanan tradisional.

Keunikan rasa kopi Arabika Gayo dipengaruhi oleh topografi  Aceh Tengah yang terdiri dari perbukitan, lembah serta dataran. Kopi juga tumbuh subur di lereng-lereng bukit.

Disisi lain, kopi bukan hanya soal komoditas unggulan, tetapi denyut nadi yang menghidupi hampir sebagian besar masyarakat di kabupaten Aceh Tengah yang berprofesi sebagai petani.

Petani memegang peran paling penting dalam menjadikan kopi arabika gayo dikenal di dunia. Mereka merawat tanaman kopi layaknya mengurusi anak sendiri.

Petani juga ikut andil dalam menjaga kualitas rasa, dan menerapkan teknik budidaya ramah lingkungan sehingga kopi arabika Gayo disukai di pasar global.

Produksi kopi di Kabupaten Aceh Tengah mencapai 30.000 ton per tahun. Bahkan menyumbang sekitar 40 persen dari total produksi kopi arabika nasional Indonesia. Jenis kopi arabika mendominasi ditanam oleh para petani di daerah berhawa sejuk itu.

Portal Satu Data Aceh Tengah mencatat, untuk tahun 2025 jumlah petani jenis kopi varietas robusta sebanyak 1.466 Kelapa Keluarga (KK). Jumlah petani kopi arabika sebanyak 38.294 KK. Sementara luas area kebun kopi robusta 1.133 hektar dan luas lahan kebun kopi arabika 50.162 hektar.

Dari luasan itu, kopi robusta memproduksi sebanyak 494,9 ton pertahun. Sedangkan produksi kopi arabika sebanyak 29.019 ton pertahun. Hasil panen kopi mengalami fluktuasi produksi sehingga jumlahnya mengalami perubahan setiap tahun.

Adapun pasar kopi arabika gayo, selain memenuhi kebutuhan domestik juga menjangkau beberapa negara. Terbesar dipasok ke Amerika Serikat, sebagian Jepang, Taiwan, Eropa hingga  ke sejumlah negara di Timur Tengah.

Kopi arabika gayo juga telah mengantongi sertifikasi indikasi geografis resmi sejak tahun 2010 untuk melindungi keaslian nama dan mutu.

Keberadaan kopi Arabika memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat Gayo, khususnya di Kabupaten Aceh Tengah. Banyak warga lokal yang tidak memiliki kebun kopi tetapi ikut merasakan cipratan rezeki dari komoditas kopi arabika gayo.

Sebagian warga mengambil peran menjadi jembatan distribusi antara petani dari pelosok desa menuju pelaku industri besar di berbagai sudut negeri hingga mancanegara.

Untuk  penjualan produk kopi arabika gayo dalam skala besar memang masih didominasi oleh koperasi-koperasi yang bergerak di bidang ekspor. Namun tidak sedikit pelaku Usaha Mikro Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sukses memasarkan produk kopi arabika gayo dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi.

Buah merah kopi arabika Gayo (Foto. Mahyadi)

Di era serba digital ini peluang pasar kopi arabika gayo semakin terbuka lebar.  Bahkan sasaran nya tanpa batas, mulai  pasar domestik  hingga  menjangkau sejumlah negara di benua Asia, Amerika,  Eropa, serta sebagian negara di Timur Tengah.

Ada ratusan UMKM di Aceh Tengah tumbuh dan berkembang bergerak dalam bidang usaha kopi. Mulai dari  penjualan bahan baku, jasa roasting (sangrai) hingga sektor hilir yaitu penjualan sajian minuman berbahan baku kopi.

Sebagian diantaranya ada yang memiliki omzet hingga ratusan juta rupiah perbulan. Omzet terbesar justru didapat dari memanfaatkan teknologi informasi sebagai sarana dalam mengenalkan serta menjual produk-produk lokal, termasuk diantaranya komoditas kopi arabika gayo. (Mahyadi)

BERITA TERKAIT